
Kelas berakhir, para mahasiswa bisa menghirup udara segar setelah semua tekanan itu. Ada yang mengipasi diri dengan buku, ada yang menggunakan tisu untuk mengelap keringat, menyiapkan buku, dan lain sebagainya.
"Hai, Trista." Gadis itu mengulurkan tangan.
"Halo, Derik." Derik menjabat tangan gadis itu.
"Masa jomblo berakhir nih ceritanya?" Celetuk teman di sebelah.
"Hah? Jomblo?" Trista tak percaya.
"Disini salah satu dewa jomblo yang paling terkenal ya Derik, kalo ga percaya tanya aja anak-anak lain." Jawab teman lainnya.
"Karena jomblo artinya aku punya kesempatan dong?" Trista tersenyum manis, itu membuatnya semakin terlihat imut.
"Kalo saran aku nih, mending jangan sama si Derik." Ucap seorang teman.
"Kenapa gitu?" Tanya Trista.
"Karena dia itu dari keluarga miskin, kalo ga karna beasiswa dan teman-temannya yang kaya mana mungkin bisa kuliah di sini." Jawab seorang mahasiswi yang tengah merapikan riasan.
"Harta tak menunjukkan derajat seseorang, tapi bagaimana cara dia menghadapi segala sesuatu. Lagipula meskipun kita miskin tapi terus berusaha keras suatu saat pasti akan mencapai kesuksesan, semua bergantung pada bagaimana kita menjalaninya. Semua keluarga yang terkenal kaya itu berawal dari kerja keras pendahulunya, lalu terus dikembangkan dengan sungguh-sungguh hingga mencapai kesuksesan yang lebih." Trista menjelaskan.
"Tapi dia itu mengandalkan teman-temannya yang kaya, dilihat sekilas aja udah tau kalau dia orang licik." Hina mahasiswi itu, Feby.
"Memangnya seberapa kenal Anda dengan dia?" Tanya Trista yang siap berdebat.
"Udahlah, ga usah ribut. Kamu baru di sini, jangan sampai kena masalah." Derik mencoba menghentikan Trista.
"Kenapa? Takut rahasia terbongkar di depan mangsa baru?" Ejek Feby lagi.
"Apa menghina orang itu termasuk dalam kebutuhan hidup orang kaya?" Trista tak mau berhenti.
"Kalian orang miskin memang pantas di hina, ga terima?" Ejek Feby lagi.
"Kamu!" Geram Trista.
"Udahlah, mending kita keluar daripada ngeladenin dia." Derik menarik tangan Trista dan membawanya keluar.
"Mending lo cari sasaran lain, tuh cewek dari dandanannya udah keliatan orang miskin, ga ada manfaatnya buat lo!" Teriak Feby.
"Lo jadi manusia sombong banget sih? Bilang aja lo cemburu karena Valencia mau temenan sama dia tapi lo selalu ditolak!" Sindir Naufal.
"Idih, ngapain juga cemburu sama orang miskin?" Elak Feby.
"Derik itu miskin sedangkan Feby dari keluarga kaya, mana pantas dia ngerasain cemburunya Feby?" Tambah Sri, sahabat Feby.
"Meski Derik bukan dari keluarga mampu tapi dia kerja keras setelah pulang kampus langsung kerja!" Bela Tomi yang baru saja muncul.
__ADS_1
"Kok ada disini?" Tanya Derik.
"Kabur bentar, hehe!" Tomi nyengir.
"Gimana mau sukses kalo sering kabur?" Derik menertawai sahabatnya itu.
"Sekumpulan orang miskin, kerja paruh waktu aja bangga." Sinis Feby.
"Jelas bangga, setidaknya mereka ga kaya seseorang yang cuma mengandalkan harta orang tua tapi sombongnya ngalahin sultan." Sindir Trista.
"Bilang aja iri karena kamu itu miskin, dari dandanan aja udah keliatan banget. Lo sama si kutu buku ini emang serasi, sama-sama miskin dan kampungan." Hina Feby.
"Kampungan? Meskipun penampilan kami berbeda jauh dengan kalian, sederhana dan jauh dari kata mewah, tapi setidaknya kami ga merendahkan orang lain. Orang yang hatinya sangat tinggi, akan sangat mudah dihancurkan!" Trista tampaknya sangat menyukai perdebatan, meski penampilannya imut tapi kata-katanya mampu membuat Feby naik pitam.
"Cewek cul*n! Berani banget lo ngina gue?!" Feby melempar kotak bedaknya ke arah Trista.
"Awas!" Derik menangkap benda yang melayang ke arah Trista itu, seperti seorang pemeran utama pria yang sedang menyelamatkan sang pemeran utama wanita.
"Hohoho..... Memang super serasi, si kutu buku menyelamatkan cewek cul*n!" Feby tak berhenti menghina.
"Lo ga ada kerjaan? Kalo ga ada mending lo pungutin tuh bulu mata lo yang lepas." Trista bicara dengan nada penuh penghinaan sambil berkacak pinggang.
"Haaah??? Lepas?" Feby dengan panik mencari cermin di dalam tasnya tapi tak ketemu.
"Nih, aku balikin!" Trista mengambil bedak di tangan Derik dan melemparnya sekuat tenaga.
Phak!
"Kata bos hari ini ga perlu kerja, toko tutup karna dia mau pulang kampung." Kata Tomi.
"Iya, bos tadi udah bilang, katanya istrinya mau melahirkan jadi buru-buru pulang." Kata Derik.
"Jadi hari ini kalian ada waktu senggang? Gimana kalo ikut aku ke suatu tempat? Kebetulan masih perlu orang untuk bantu-bantu di sana, di kasih gaji juga." Usul Trista.
"Beneran? Ayok kalo gitu!" Ucap Derik.
"Ya nanti lah, abis pulang kampus kita langsung meluncur!" Kata Trista dengan penuh semangat sambil tersenyum.
"Uang ga berkurang, selamat...." Tomi mengusap-usap dadanya.
Setelah selesai dengan kegiatan kampus Trista menunggu Tomi dan Derik di depan gerbang, di sana sudah ada tiga mobil pick-up yang menunggu. Tak lama Derik dan Tomi keluar berboncengan sepeda motor, Trista memberikan isyarat agar mereka mengikuti lalu dia masuk ke salah satu mobil itu.
Setengah jam menempuh perjalanan, ternyata tujuannya adalah sebuah panti asuhan. Begitu mereka tiba anak-anak langsung berlari menghampiri, mereka berebutan untuk memeluk Trista. Derik melihat seorang anak kecil yang duduk di kursi roda sedang kesulitan karena tersangkut ranting kayu yang cukup besar, dia menghampiri anak itu dan membantunya.
"Kak Trista, hari ini bawa teman juga?" Tanya anak kecil itu.
"Iya, Binsar, mereka berdua teman baru Kakak di kampus." Jawab Trista sambil menunjuk Derik dan Tomi bergantian.
__ADS_1
"Pacar Kakak yang mana?" Tanya seroang anak kecil.
"Hahaha, ga ada, sayangku." Trista mencubit pipi gadis kecil itu dengan gemas.
"Anak-anak, masing-masing berbaris untuk ambil hadiah yang di kasih kak Trista, yang ga rapi ga dapat hadiah." Ucap ibu pengurus panti.
Dengan cepat anak-anak itu membentuk enam barisan rapi untuk mengambil hadiah yang tak lain adalah makanan dan juga mainan. Derik dan Tomi membantu membagikan, ketika melihat anak-anak itu mereka merasa bersyukur karena masih memiliki orang tua yang merawat mereka dengan baik.
Ratusan anak tanpa orang tua itu terlihat sangat bahagia saat menerima hadiah, Derik pun merasakan kebahagiaan yang sama. Trista terus memperhatikan dua teman barunya itu, tampaknya dia menemukan teman yang tepat.
Saat semua hadiah hampir habis, datang lagi empat buah mobil dengan bawaan yang sama. Valencia keluar dan menghampiri mereka, dia agak kaget melihat Derik dan Tomi.
"Kak Valen!!!!!" Anak-anak itu berteriak.
"Yang ga kebagian langsung baris di mobil lain, oke?" Valencia mengedipkan sebelah matanya.
"Siap, kapten!!!" Ucap anak-anak itu.
Setelah beberapa menit semua kebagian sama rata, ibu pengurus panti juga dapat hadiah. Setelah itu mereka beristirahat di bangku taman belakang, es teh buatan ibu pengurus jadi teman mereka menonton anak-anak yang asik bermain.
"Kamu pindah ke kampus yang sama dengan kita?" Tanya Valencia pada Trista.
"Aku bahkan ga tau kalau kalian teman satu kampus." Jawab Trista.
"Kalian kenalan di mana?" Tanya Derik.
"Oh beberapa bulan lalu....." Ucapan Valencia di sela.
"Kita kebetulan ketemu di yayasan!" Jawab Trista cepat.
"Kok kita ga tau kalau kamu anggota yayasan? Nama yayasannya apa?" Tanya Tomi pada Valencia.
"Ada deh, ga usah kepo, hehe..." Trista tertawa canggung.
"Nih anak maunya apa sih? Bukannya pertama kali ketemu pas pertemuan bisnis? Yayasan yang mana?" Batin Valencia bingung.
"Oh, ini uang bayaran kalian." Trista merogoh kantung celananya dan memberikan uang kepada Tomi.
"Ga perlu, ngeliat mereka tersenyum bahagia aja udah jadi gaji terbesar yang pernah kami terima." Ucap Tomi mendorong pelan tangan Trista.
"Iya, gaji kita hari ini udah lebih dari cukup." Tambah Derik.
"Kak Valencia beruntung banget punya teman yang baik kayak mereka!" Ucap Trista.
"Tapi pertemuan awal kami itu dari kenakalan mereka, waktu itu sampai babak belur aku pukulin, hahaha!" Valencia saat mengingat kejadian yang sudah lalu itu.
"Hah? Kenakalan?" Trista bingung.
__ADS_1
"Waktu itu kita dihasut sama si Tomi buat gangguin kakak kelas, eh taunya baru sasaran pertama udah bonyok." Ucap Derik.
"Valencia dilawan, sudah berpengalaman di bidang banting-membanting!" Ucap Valencia penuh kebanggaan, ke-empat orang itu tertawa.