
Malam hari
Michael baru pulang dari lokasi syuting, dia sudah mengikuti jejak Vivian satu persatu. Merasa kediaman Chandra sudah sepi, Michael memutuskan untuk menemui Valencia. Sore tadi Renata meneleponnya dan mengabarkan jika Valencia pingsan dua kali, sebagai seorang kakak tetap saja dia khawatir meski tak menunjukkannya.
"Kamar Valencia ga dikunci?" Batin Michael saat membuka pintu kamar Valencia yang dia pikir sudah dikunci.
"Siapa itu? Laki-laki?! Dasar baj*ng*n!!" Michael hendak menyerang orang yang duduk di samping Valencia dan tengah membelakanginya, namun langkahnya terhenti saat Valencia mengigau.
"Ibu.... ibu.... jangan pergi... ibu... ibu dimana..." Ucap Valencia dalam tidurnya.
"Valen.... tidur... ibu ga akan pergi... ibu selalu ada di dalam hati kamu..." Ucap orang itu sambil mengusap-usap kepala Valencia.
"Ibu....." Lirih Valencia lalu kembali tidur.
"Jadi.... dia yang merawat Valencia? Kenapa harus laki-laki?" Tanya Michael dalam hati, dia melangkah mendekati orang itu.
"Hoam...." Orang itu menguap, namun dia terus mencoba untuk tetap sadar agar bisa menjaga Valencia dengan baik.
Set... tuk...
Michael menyeret dan menaruh kursi di samping orang itu.
"Hai..." Sapa orang itu sambil tersenyum, nampak sekali jika dia sedang menahan matanya agar tak terlelap.
"Siapa namamu?" Tanya Michael.
"Rian, teman Valencia." Jawab Rian.
"Kenapa kamu yang ngerawat dia?" Tanya Michael lagi.
"Karna ini ga bisa dilepas." Jawab Rian menunjuk tangan Valencia yang terus menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Dasar bocah nakal, maaf merepotkanmu." Kata Michael sambil tersenyum dan geleng-geleng.
"Bukan masalah, lagipula Valencia adalah teman saya." Ucap Rian.
"Tapi.... kenapa mereka ngasih izin? Kamu kan laki-laki dan bukan hal yang baik kalau perempuan dan laki-laki yang belum menikah berada di kamar yang sama?" Tanya Michael.
"Saya sudah sering datang jemput Valencia, jadi mereka udah kenal. Saya boleh merawatnya dengan catatan tidak boleh melakukan hal macam-macam dan pintu tidak boleh dikunci." Jawab Rian menjelaskan.
"Ini udah tengah malam, kamu tidur aja, biar aku yang ngerawat dia." Ucap Michael.
"Ga papa, saya aja yang jaga dia. Kakak pasti capek habis pulang syuting, kakak aja yang istirahat." Kata Rian.
"Diumur tujuh tahun aku bahkan ga tidur sepuluh hari sepuluh malam, ditambah lagi harus membereskan sekelompok penjahat, jadi ini bukan hal berat." Ucap Michael.
"Tujuh tahun? Aku diumur segitu bahkan masih dihukum bersihin kamar mandi gara-gara keseringan main." Ucap Rian mengagumi Michael.
"Cih, itu masih belum seberapa dengan perjalanan yang kami lakukan. Waktu itu kami masih 4 tahun, kami melakukan perjalanan dari desa kecil ke desa lain selama sebulan lebih. Kalau hujan harus berperang dengan licinnya bebatuan yang bisa membawa kami pada kematian, kalau panas ya berperang dengan rasa haus dan panas yang menyengat. Kami terus belajar ilmu medis tradisional sebelum dan sesudah perjalanan itu bahkan saat melakukannya, semua kami lakukan agar bisa bertahan hidup bahkan membunuh penjahat." Michael mengingat masa kecil.
"Itu karena ibu dan ayah selalu mengajari kami untuk tetap semangat dan kuat, masalah apapun itu harus bisa dihadapi." Ucap Michael.
"Pantesan Valen bisa ngebanting orang dengan santai dan tau banyak pengobatan tradisional, ternyata dia udah terlatih sejak dini." Kekaguman Rian terus bertambah.
"Kamu ga takut setelah tau kami pernah membunuh?" Tanya Michael heran.
"Kalian ngebunuh demi melindungi diri, lagipula itu kalian lakukan di dimensi lain." Jawab Rian.
"Kamu tau kami lahir di dimensi lain?!" Tanya Michael.
"Valencia pernah keceplosan dan kami juga nganggap dia beneran salah ngomong, tapi begitu dengar cerita kakak aku percaya." Jawab Rian.
"Dasar anak ini, kalau ngomong selalu nyerocos. Untung aja orang luar yang tau cuma kamu, kalau ada orang lain lagi pasti bisa muncul masalah." Michael tepuk jidat.
__ADS_1
"Oh, ya! Kak Gu An juga dari dimensi lain?" Tanya Rian.
"Ya, begitulah. Seharusnya yang pulang cuma aku dan ibu, tapi entah terjadi keajaiban apa dia bisa ikut melintasi dimensi dan waktu pas ikut terjun ke sungai." Jawab Michael.
"Tapi kakak senang, kan?" Tanya Rian.
"Hey, bocah! Kalo ngomong mulut tuh dijaga, mana ada orang yang senang kalau orang yang selalu ngerjain dia selalu nempel sama dia?" Michael menyangkalnya.
"Tapi kok kakak kayak lagi ketahuan habis bohong gitu tingkahnya?" Tanya Rian memancing Michael.
"Bahas lagi aku usir kamu dari sini!" Ancam Michael.
"Kalau kakak bisa ngelepasin tangan Valencia, saya akan keluar." Tantang Rian.
"Bocah ini lumayan licik juga ternyata, gimana bisa aku ngelepas genggaman Valencia yang udah kayak lem super ini?" Batin Michael yang hanya menatap kesal Rian yang sedang tertawa geli mengetahui jika dia tak mampu.
"Kakak tidur aja di sofa, biar aku yang jaga Valencia." Saran Rian.
"Siapa juga yang betah ngobrol sama orang licik kayak kamu? Aku memang mau tidur!" Michael melangkahkan kakinya ke sofa yang ada di kamar Valencia.
"Mulut kakak bener-bener ga jujur, bukannya tadi lumayan asik ngobrolnya?" Ejek Rian.
"Kalau kamu bisa ngejar Valencia dan dua nerima kamu, aku ga akan kasih restu!" Ancam Michael yang membaringkan tubuh lelahnya di sofa.
"Meski kakak ngancam gitu, saya akan tetap ngejar Valen sampai dapat. Lagipula kalau saya berhasil kakak juga ga bisa ngubah keputusan Valen." Ucap Rian santai.
"Berisik! Aku mau tidur!" Ketus Michael karena apa yang dikatakan Rian memang benar.
"Bilang aja ga bisa ngelak lagi!" Ejek Rian.
"Beneran ga direstuin nih!" Ancam Michael.
__ADS_1