KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Rahasia Calvin


__ADS_3

Kamar Calvin


"Udah ga ada siapa-siapa disini, sekarang kasih tau kakak!" Calvin mendudukkan Valencia disofa.


"Bayarannya dulu!" Jawab Valencia ketus.


"Iya iya! Dasar bocah licik! Nih!" Calvin memberikan sebuah kantong plastik yang terisi penuh.


"Sekarang udah bisa kasih tau!" Valencia mengambil kantong itu dengan ekspresi senang.


"Buruan!" Calvin melompat duduk di sebelah Valencia, membuat tubuh mungil gadis kecil disampingnya sempat sedikit melambung.


"Ingat umur tidak sih?! Badan aku ini kecil sedangkan badan kakak jauh lebih besar!! Hampir saja aku terjungkal!!" Protes Valencia.


"Ga usah se formal itu!! Kan udah kakak ajarin gimana cara ngomong disini!" Jawab Calvin cuek sambil mengambil setangkai permen dari dalam kantong.


"Itu milikku!!" Valencia mencoba merebut namun sayang lolipop itu sudah mendarat di mulut Calvin.


"Sekarang kasih tau, gimana caranya?!" Calvin menatap tajam, tapi tanggapan Valencia hanya sebuah ekspresi datar.


"Oh? Dasar perjaka tua, dalam hal ini saja harus meminta pendapat anak kecil?!" Ejek Valencia sambil memakan coklat.


"Kamu!!! Cepat kasih tau atau aku ambil lagi tuh cemilan!!" Ancam Calvin.


"Dasar perjaka tua, sangat tak tau diri!" Valencia berlari dan melompat ke atas tempat tidur Calvin yang sangat luas.


Beberapa jam lalu saat Valencia sedang berkeliaran bebas dirumah, tanpa sengaja dia bertemu dengan Calvin yang sedang duduk di taman belakang. Karena penasaran Valencia mendekati Calvin yang terlihat sedang kebingungan.


"Kakak tampan, mengapa terlihat sedih?" Tanya Valencia menghampiri Calvin.


"Kamu... anak Oom Rein?" Tanya Calvin.

__ADS_1


"Em... aku Valencia, kakak siapa?" Tanya Valencia dengan ekspresi polosnya.


"Calvin, sekarang udah bisa pergi?" Calvin mengusir Valencia.


"Cih! Dasar perjaka tua yang sombong!" Ejek Valencia.


"Kamu!!! Jangan sembarangan ngatain orang yang lebih tua! Kamu baru datang, gimana bisa kamu ngatain aku gitu?! Kamu tau apa?!" Calvin mulai kesal, pasalnya dia memang belum pernah punya pengalaman dalam hubungan cinta. Setiap hari Calvin hanya belajar dan belajar, setelah menjadi manajer dia selalu fokus pada pekerjaan. Masa mudanya dihabiskan dengan belajar dan bekerja, dia tak pernah punya niatan untuk menjalin hubungan.


"Eh? Gadis yang cantik, incaran, ya?" Valencia menaik turunkan alisnya menggoda Calvin.


"Ka... kamu anak kecil ga perlu tau!" Ketus Calvin yang wajahnya mulai memerah.


"Cih! Dasar perjaka tua!" Ledek Valencia.


"Katakan sekali lagi maka akan aku melemparmu dari lantai tiga!!" Ancam Calvin dengan nada menyeramkan.


"Eh? Intan?" Valencia melirik ponsel ditangan Calvin ketika dia mendengar sebuah suara.


"Hm? Benar-benar tak tau cara menarik perhatian seorang gadis!" Lagi-lagi Valencia mengejek Calvin saat melihat isi percakapan Calvin dengan seseorang bernama Intan itu.


"Cih! Anak kecil mending diam aja! Ambil coklatnya terus cepat pergi! " Ketus Calvin yang hatinya tertusuk, dia menyogok Valencia dengan sebungkus coklat agar segera pergi.


"Astaga... seharusnya gunakan sedikit kata-kata manis untuk merayunya!! Tapi... kau harus melakukannya dengan serius dan tak mempermainkan hati seorang gadis!!" Valencia mengambil coklat itu dan memakannya sampai habis, dia kembali melihat Calvin dengan tatapan menyeramkan. Tatapan tajam Valencia mampu membuat nyali Calvin menciut. Untuk pertama kalinya ada orang selain ayah dan kakeknya yang berhasil membuat Calvin bergidik.


"Kamu anak kecil tau apa? Jangan cuma omong kosong!" Calvin sengaja memalingkan wajah karena takut untuk menatap mata Valencia.


"Pertama, jelaskan dulu benda apa ini dan sebenarnya apa yang sedang kau lakukan dengan benda aneh ini?" Valencia bertanya dengan polos dan tersenyum.


"Haah.... ujian berat nih!" Calvin tepuk jidat, dia sadar bahwa dia akan menjadi seorang guru yang mengajari seorang murid super duper bandel dan sulit mengerti.


Calvin harus mengajar sampai sore, akhirnya ujian berat itu selesai. Sebenarnya tak terlalu berat karena Valencia sangat mudah mengerti, pelajaran menjadi lama karena mereka malah keasikan main game. Karena Sudah hampir gelap akhirnya Valencia mengundur waktu sampai setelah makan malam dan meminta bayaran cemilan.

__ADS_1


Calvin terus menanti dengan tak sabar walau ekspresi wajahnya terlihat dingin, entah mengapa dia sedikit gugup. Dia bingung sendiri mengapa dia bisa percaya dengan Valencia yang baru berusia 3 tahunan. Tapi dia tak mau ambil pusing, dia membeli cemilan sesuai perintah Valencia.


"Sekarang cepat kasih tau!" Desak Calvin.


"Pertama, kirim pesan ke Intan!" Valencia memberikan ponsel Calvin yang entah sejak kapan sudah berpindah tangan.


"Sejak kapan ada sama kamu?!" Calvin merampas ponselnya.


"Lakukan saja yang aku perintahkan!" Kata Valencia yang bersikap bak seorang bos besar yang sedang memerintah bawahannya.


"Tapi harus bilang apa? Urusan bisnis udah selesai, sekarang harus pakai alasan apa?" Tanya Calvin.


"Benar-benar perjaka tua! Besok adalah akhir pekan, kan? Ajak saja dia berjalan-jalan di taman!" Jawab Valencia dengan tatapan kesal.


"Tapi.... kalau dia nolak gimana?" Calvin ragu, ekspresinya yang sekarang hanya pernah dilihat oleh Valencia.


"Aku! Alasannya adalah aku!" Ketus Valencia.


"Kamu?! Harus bilang apa?! Bilang kamu mau jadi mak comblang?!" Calvin menghempaskan tubuhnya ke kasur dengan kasar, lagi-lagi tubuh Valencia melambung sedikit.


"Sangat bod*h!! Aku baru saja kembali!!! Bilang saja jika kau ingin membawaku berkeliling!!! Tapi kau tak terlalu tau bagaimana cara untuk mengajak seorang anak kecil berjalan-jalan!!! Jadi kau perlu bantuannya untuk mengajak aku berkeliling dan bermain!!!" Teriak Valencia sambil memukul perut Calvin dengan kuat. Untung saja kamar itu kedap suara jadi teriakan Valencia dan jeritan Calvin yang kesakitan tak sampai terdengar keluar.


"Kamu ini beneran baru 3 tahun atau bukan, sih?! Kok mukulin orang bisa sampai sekuat ini?!" Calvin memegangi perutnya yang terasa sangat sakit, hidupnya terasa seperti akan berakhir.


"Jangan banyak protes!! Cepat lakukan!!!" Titah Valencia. Dengan tatapan menakutkannya dia berhasil membuat Calvin menurut dan melakukan setiap perintah yang dia berikan. Berkat bantuan luar biasa besar dari Valencia Calvin berhasil mengajak Intan untuk berjalan-jalan di taman dan beberapa tempat bermain besok. Calvin rela tidur disofa sesuai keinginan Valencia sebagai tanda terima kasih. Untung saja tak ada yang melihat kejadian itu, jadi harga diri Calvin masih terjaga. Calvin merasa lega tak ada CCTV di dalam kamar, tak akan pernah ada yang tau selama Valencia tak memberitahu orang lain hal yang terjadi malam ini.


"Jangan lupa berikan aku es krim yang paling lezat saat berjalan-jalan besok!! Jika kau melanggar janjimu maka aku akan beritahu semua orang tentang kejadian malam ini dan memperlihatkan videonya!!" Ancam Valencia sambil menunjukkan sebuah video yang dia rekam menggunakan ponsel Gea.


"Dasar bocah licik!!" Calvin membungkus dirinya dengan selimut lalu berusaha untuk tidur disofa panjang itu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2