
Setelah perjalanan beberapa hari rombongan prajurit yang baru memenangkan perang dengan negara lain akhirnya sampai di istana, mereka semua diberikan penghargaan dan sejumlah koin emas diserahkan kepada keluarga mereka atas kemenangan besar itu.
Weiheng adalah seorang yatim, dia dirawat oleh jendral Yelu sejak usia 5 tahun. Dia terus dilatih menjadi seorang prajurit hebat, di usianya yang baru 13 tahun dia sudah ikut berperang.
Usianya sudah 26 tahun, namun tak ada seorang gadis yang berani mendekatinya. Walau hanya seorang prajurit biasa, kemampuannya tak bisa dianggap remeh. Dia adalah prajurit biasa yang disegani karena statusnya sebagai murid jendral Yelu, jendral terkuat di negara itu.
"Terjadi kerusuhan di kota bagian barat! Kita harus segera pergi! Penduduk disana membutuhkan pertolongan!" Tegas jendral Yelu pada prajuritnya ketika mendapat perintah dari kaisar.
"Astaga..... Kita baru saja pulang, bertemu keluarga saja belum. Pekerjaan ini sangat melelahkan." Keluh Zhang Junda.
"Seorang prajurit tak boleh mengeluh! Kau harus melaksanakan perintah! Kau harus berbakti kepada negara!!" Xia He, istri Zhang Junda memukul pelan bahu suaminya. Dia membawakan beberapa makanan untuk suaminya dan para prajurit lain.
"Ya! Kalian itu laki-laki, juga seorang prajurit! Jangan ada keluhan di mulut kalian tentang tugas yang kalian dapatkan!!" Timpal Jia Li, istri Wenhua.
"Kalian prajurit hebat, jangan mengeluh! Lihat saja Weiheng, walau mendapat luka sangat banyak dia tak pernah mengeluh sekalipun!" Lien-hua, putri tertua jendral Yelu membanggakan Weiheng.
__ADS_1
"Itu karena dia satu-satunya yang belum beristri!! Dia tak punya pikiran seorang suami atau seorang ayah!" Ketus Minghao, putra tertua jendral Yelu yang juga satu kelompok dengan mereka.
Minghao dan Lien-hua lahir di hari yang sama namun berbeda ibu. Lien-hua sebenarnya anak adik perempuan jendral Yelu, namun istri jendral Yelu, Zheshu merawatnya sejak bayi. Ibunya meninggal karena melahirkan, ayahnya meninggal karena penyakit beberapa hari sebelum kelahirannya.
"Aku punya istri!!!" Weiheng keceplosan, dia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Apa?!" Teriak mereka semua.
"Apa? Kalian terus menghinaku hanya karena aku belum menikah." Weiheng beralasan.
"Aku bukan tak laku, hanya belum menemukan yang cocok dan mau menerima diriku. Yang paling penting, dia tak takut padaku." Weiheng menjawab dengan nada tegas.
"Jika dua tahun lagi kau tak memberiku keponakan yang lucu maka aku akan menikahkan kau dengan seekor kuda!" Kata Lien-hua.
Weiheng memasang wajah datar, yang lain lagi-lagi tertawa. Dia memang selalu menjadi korban bully, karena dia yang masih belum beristri.
__ADS_1
"Sudah, jangan bercanda lagi. Lebih baik kalian bersiap untuk berangkat, waktu kalian 2 jam!" Tegas jendral Yelu.
Mereka semua langsung sibuk mempersiapkan bekal juga keperluan lain. Para istri mempersiapkan bekal untuk suami mereka, Lien-hua mempersiapkan bekal untuk Weiheng dan ayahnya. Dia juga menitipkan sebuah surat untuk suaminya yang sudah beberapa hari lalu pergi ke kota itu.
"Kalian berhati-hati dijalan! Jangan sampai kalah oleh para bandit disana! Sampai jumpa para suami tersayang!!!" Seru para istri.
"Baiklah, para istri!! Kami akan pulang dan menemui kalian!!!" Jawab Weiheng sambil berteriak.
"Mereka itu istri kami!!! Huuuuu..... Perjaka tua!!" Sewot yang lainnya.
Mereka melakukan perjalanan selama sehari, setelah sampai mereka langsung melakukan pengamanan. Disana terjadi krisis makanan juga penyakit menular, karena itu mereka berbuat rusuh dan mencoba memberontak. Setelah sebulan pekerjaan mereka selesai.
Weiheng terus berharap agar dia bisa menemukan istrinya secepat mungkin. Suami mana yang akan tahan ketika istrinya hilang tanpa kabar? Dia bukan suami yang akan mencari wanita lain ketika istrinya hilang. Dia hampir frustasi karena tak melihat istrinya selama dua bulan. Bucin.
"Vian.... Dimana kamu? Apa kamu juga ada di sini? Kenapa kita belum dipertemukan? Apa kami baik-baik aja? Aku ga bisa kamu tinggal tanpa kabar selama ini, cepat muncul."
__ADS_1
bersambung.....