
Liburan akhir tahun mereka habiskan di pulau pribadi, tempat itu sangat mewah dan luas. Mereka juga membawa beberapa pelayan untuk membantu di sana.
"Woah! Luas banget!" Ucap Amelia kagum setelah kapal mereka bersandar dermaga.
"Aku pilih kamar duluan!" Renata berlari diikuti Amelia dan Trista.
"Kuncinya ada sama aku, gimana kalian bisa masuk kalau aku ditinggalin?" Ucap Michael.
"Hehehe......" Tiga gadis cantik itu nyengir.
"Setelah pilih kamar kita buat makan siang sama-sama, jangan biarkan pelayan bekerja sendiri!" Ucap Valencia.
"Ruang latihan tembak ada di mana?" Tanya Rian.
"Dibelakang, ada area khusus untuk itu." Jawab Valencia.
"Ini.... kita berapa lama disini?" Tanya ibu Derik.
"Tiga hari, setelah itu kita pulang." Jawab Michael.
"Devina di mana?" Tanya Renata.
"Baru ingat sama aku?!" Ketus seseorang dibelakang, dia menarik sebuah kotak yang cukup besar menggunakan troli.
"Woah! Kak Devina kuat banget!" Ucap Trista kagum.
"Aku tau aku kuat, tapi jangan gunakan pujian sebagai senjata agar kalian tak membantu membawa muatan!" Ucap Devina berkacak pinggang.
"Kabur!!!!!" Valencia langsung ngacir.
"Lari!!!" Teriak Renata, Amelia dan Trista yang ikut ngacir.
"Dasar manusia yang selalu lari dari tanggung jawab!!!!!" Devina meneriaki mereka.
...........
"Betapa malangnya nasibku, seorang jomblo yang berada di tengah-tengah kalian para pasutri." Keluh Amelia.
"Makanya buruan cari pacar!" Ketus Valencia.
"Percuma kalo ga laku." Celetuk Renata yang membuat mereka tertawa dan Amelia cemberut.
"Iya rendahin aku! Hina aku! Bodo amat!" Amelia melahap kasar daging panggangnya.
"Kalau kebelet banget mau pacar, mending sama anak Pak Han." Usul Devina.
"Uhuk! Uhuk! Ya kali gua ama anak pelayan?!" Protes Amelia.
"Junjun! Sini! Ada yang jomblo nih!" Panggil Valencia.
"Eh ya kali gua dijodohin ama anak pela...." Ucapan Amelia tergantung begitu Junjun datang.
"Maaf, suara nona kurang jelas, nona bilang apa tadi?" Tanya Junjun.
"Panggil pelayan lain ke sini, kita makan sama-sama." Jawab Valencia.
"Tapi bukannya derajat...." Junjun agak ragu.
"Kamu baru disini jadi kurang tau. Kita itu sama-sama manusia, apa bedanya?" Jawab Valencia.
"Baik, nona." Junjun pergi.
Mereka semua makan di meja yang sama, bercanda ria tanpa membedaakan status dan usia. Mereka saling mengejek namun masih memperhatikan etika dan perasaan yang lebih tua.
Malam
__ADS_1
"Bintangnya banyak banget!" Trista memandangi langit malam.
"Tempat ini jauh dari kota, jadi ga ada polusi udara. Udara malam yang dingin, haaa segarnya!" Amelia menghirup udara malam yang dingin itu.
"Nona, jaketnya." Junjun memberikan jaket tebal untuk Valencia.
"Kasih ke Amelia dulu, dia gampang flu soalnya." Valencia menunjuk Amelia.
"Baik, nona." Junjun mengikuti perintah.
"Cepat, jangan sampai dia kena flu!" Ucap Valencia.
"Nona, silahkan jaketnya." Junjun memberikan jaket untuk Amelia.
"Ah? Oh! Makasih!" Amelia dengan canggung mengambil jaket itu, saking canggung nya jaket yang hendak dia pakai malah jatuh.
"Ah, biar saya bantu." Ucap Junjun sambil tersenyum.
Amelia hanya bisa membiarkan Junjun memakaikan jaket padanya. Setelah selesai Junjun langsung pergi untuk menyelesaikan tugasnya yang lain, meninggalkan Amelia hanya termenung tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Hoi! Katanya ga mau sama anak pelayan?" Sindir Valencia.
"Iiih? Apaan sih?! Siapa juga yang suka?" Elak Amelia.
"Terserah aja, tapi nanti kalo udah diembat orang jangan marah." Valencia pergi.
"Makanannya udah siap belum?!" Teriak Amelia.
"Udah, sini makan!" Sahut Trista.
Mereka makan malam bersama, Valencia dengan liciknya menyuruh Junjun duduk disamping Amelia membuat sahabatnya itu serangan jantung selama makan malam.
"Besok ngapain?" Tanya Tomi.
"Terserah kalian aja, aku cuma mau latihan tembak." Jawab Valencia.
"Aku latihan tembak aja, kayaknya seru." Ucap Rian.
"Seru apa mau deketan terus sama Valen?" Tanya ibu Derik.
"Hehehe....." Rian nyengir.
"Terserah aja mau ngapain, tempat ini luas dan aman asal ga ke area tembak." Ucap Michael.
...........
Esoknya
"Valencia bukannya mau latihan tembak?" Tanya Rian.
"Dia sama Devina aku suruh ke hutan herbal, untuk menguji apa kemampuan mereka masih sehebat dulu atau ngga." Jawab Michael.
"Bilang aja mau mempersulit seseorang, aku ke pantai aja lah." Rian hendak pergi.
"Kalau berhasil mengenai sepuluh sasaran dengan orang sepuluh tembakan, aku restui kalian." Tantang Michael, Rian langsung berhenti begitu mendengarnya.
"Yakin? Ga nyesal nantinya?" Tanya Rian memastikan.
"Aku orang yang selalu menepati janji, lagipula itu pun kalau kamu berhasil." Michael meremehkan.
"Kita liat aja nanti!" Ucap Rian bangga.
Pertandingan dimulai, semua peluru yang di tembakkan oleh Michael mengenai sasaran dengan sangat sempurna. Rian terlihat sangat berusaha untuk konsentrasi, dia juga melakukannya dengan sangat sempurna. Michael menyesali keputusannya.
"Yakin ga ada penyesalan?" Tanya Rian dengan sombongnya.
__ADS_1
"Cuma dikit, yaudah cari sana sini Valen." Usir Michael.
"Rian!" Panggil Valencia yang baru datang.
"Siapa yang menang?" Tanya Devina.
"Seri, anak ini lumayan juga." Jawab Michael kecewa.
"Sesuai janji yang sudah diucapkan, restu untuk Rian harus diberikan." Ucap Devina senang dengan kekalahan Michael.
"Calon suamimu itu siapa? Sejak lahir aku selalu menepati janji yang sudah aku buat! Setelah kalian lulus kuliah mau nikah kapanpun juga boleh." Michael pergi.
"Ayo ikut, aku ajarin kamu beberapa teknik pengobatan tradisional!" Valencia menarik Rian.
"Aku ditinggal sendiri?" Tanya Devina menunjuk dirinya sendiri.
Pinggir pantai
"Anginnya nenangin banget!" Amelia menikmati udara pagi di tepi pantai.
"Nona, topi Anda." Ucap Junjun.
"Eh? Kok kamu ada disini?" Tanya Amelia kaget.
"Nona Valen meminta saya untuk membawakan topi Anda, nona Valen takut jika Anda kepanasan." Jawab Junjun.
"Anak ini pasti sengaja! Kenapa sih tuh anak pengen banget jodohin anak orang?!" Kesal Amelia dalam hati.
"Jika nona tidak ingin memakainya sekarang, akan saya letakkan di sini dulu." Ucap Junjun menaruh topi di atas karpet yang digelar Amelia.
"Ya udah, kamu boleh pergi." Ucap Amelia.
"Baik, nona." Junjun pergi.
"Hoi, Tomi! Telfonan mulu, dijatuhin kelapa baru tau!" Teriak Amelia sengaja mengganggu orang yang sedang berpacaran jarak jauh itu.
"Bodo amat! Yang penting gue bukan jomblo abadi kayak elu!" Teriak Tomi.
Jleb!
Kalimat Tomi itu menusuk langsung ke jantung Amelia, membuat dia jatuh pingsan dengan darah yang keluar dari mulut (canda, dia jatoh sambil megangin perutnya yang sakit). Junjun yang belum pergi jauh melihat hal itu, dia berlari secepat mungkin.
"Nona! Nona!" Junjun berusaha membangunkan Amelia.
"Junjun.... Bunuh dia!" Ucap Amelia menunjuk Tomi.
"Aish! Sebaiknya sekarang kembali ke vila dulu, nona pasti minum air dingin tadi!" Junjun mengangkat Amelia.
"Lu tau dari mana gua lagi datang tamu?!" Teriak Amelia terkejut.
"Semalam nona ga minum es dan minta air hangat, apa lagi kalau bukan datang bulan?" Jawab Junjun yang setengah berlari.
"Hilang sudah harga dirimu Amelia!" Amelia merutuki dirinya sendiri dalam hati.
"Amelia kenapa?" Tanya Pak Han.
"Datang bulan minum es." Jawab Junjun.
"Datang bulan kok minum es?" Tanya ibu Derik.
"Kelupaan, hehe...." Jawab Amelia lemas.
"Ibu buatin air hangat dulu, Junjun tolong bawa dia ke kamar." Kata ibu Derik.
Junjun mengangguk dan langsung membawa Amelia, dia membaringkan Amelia di atas kasur dan memberinya selimut. Junjun mengecilkan suhu pendingin ruangan agar Amelia tak kedinginan. Setelah beberapa menit ibu Derik datang dengan segelas air gula merah, setelah itu Junjun langsung pergi.
__ADS_1
Tak terasa tiga hari berlalu, mereka harus pulang dan meninggalkan pulau yang indah itu. Setelah hari itu mereka kembali disibukkan dengan aktifitas masing-masing, namun sesekali masih berkumpul bersama. Pekerjaan mereka semakin padat, mereka harus menunggu waktu dimana mereka bisa berlibur bersama meskipun hanya satu hari.