KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Hantu


__ADS_3

Penginapan, malam hari


"Sebenarnya apa yang kau lakukan?" Tanya Jianying.


"Sudah, diam saja. Kau akan sangat 'cantik' setelah aku selesai." Jawab Jieru santai.


Jianying hanya diam dalam bingung saat Jieru melukis wajahnya dengan tinta hitam. Sudah setengah jam, akhirnya wajah Jianying selesai dilukis.


"Selesai, sekarang kau gunakan capil ini." Kata Jieru sambil menyerahkan sebuah capil berpenutup wajah.


"Baiklah. Tapi sebenarnya apa tujuanmu? Mengapa kau memintaku berpakaian serba putih? Apa yang kau lakukan pada wajahku dengan tinta hitam?" Tanya Jianying sambil memakai capil itu.


"Ada saja, kau akan tau bagaimana wajahmu nanti. Sekarang dengarkan perintahku. Kita akan pergi ke kediaman selir Yao, kau harus menemuinya secara diam-diam. Berbicaralah dengannya." Jelas Jieru.


"Berbicara? Aku harus mengatakan apa?" Tanya Jianying lagi.


"Ehem ehem!!" Jieru berdeham sedikit, "Nyonya.... Apa nyonya masih mengingatku?..... Kau membunuhku..... Kau mengirim banyak pembunuh bayaran untuk kami.... Kau membuat hidup kami menderita... Kau sangat kejam, nyonya. Kau memfitnah kalau aku membunuh selir lain. Aku harus mengorbankan hidupku agar anakku tetap hidup. Kau harus pergi denganku hari ini.... Khihihi...." Kata Jieru dengan nada super duper lembut.


"Kau membuatku merinding saat kau mengatakan itu, seperti hantu pendendam." Kata Jianying yang bulu kuduknya merinding.


"Sudahlah, sekarang kita harus pergi kesana." Jieru menarik tangan Jianying.


"Hey, pelan-pelan!!" Jianying kesakitan saat tangannya ditarik.


Setelah beberapa lama berjalan sambil mengendap-endap akhirnya mereka sampai di kediaman selir Yao. Mereka memanjat tembok tinggi dibelakang kediaman selir Yao.


Srak!!


Mereka melompat dan mendarat di semak-semak yang ada ditaman belakang itu.


"Apa kau tak apa?" Tanya Jieru pada Jianying yang meringis ketika mendarat.


"Tak apa, tak lama juga akan hilang." Jawab Jianying.


"Bagus, sekarang masuk ke kamar selir Yao!" Perintah Jieru.


Mereka kembali mengendap-endap masuk ke kamar selir Yao. Jianying bersembunyi didalam lemari, sementara Jieru bersembunyi di atas untuk mengawasi.


Setelah beberapa saat menunggu selir Yao muncul dengan rasa kantuk yang sangat berat.


"Dasar manusia tak berguna. Waktunya tinggal dua hari, tapi dia bahkan belum menemukan sekelompok makhluk menjijikkan itu!! Bahkan si Jal*ng Jieru itu tak bisa dia temukan!! Selir Jiao sudah mati bunuh diri, anak kecil itu pasti datang untuk membalas dendam. Aku harus segera membunuhnya!!" Selir Yao terlihat sangat kesal.


Jianying terus menunggu selir Yao membuka pintu lemari, dia sudah kepanasan dan merasa pengap didalam sana.


"Aku harus menemukan cara untuk membunuhnya secepat mungkin." Kata selir Yao sambil membuka pintu lemari dengan niat mengambil pakaian.

__ADS_1


"Terbuka! Saatnya menjalankan perintah!" Batin Jianying sambil membuat mimik wajah dan tatapan mata lesu.


"Dasar... Aaaaa!!!!!!!" Selir Yao ketakutan sampai jatuh tersungkur.


Jianying keluar perlahan sesuai ucapan Jieru sebelumnya.


"Nyonya..... Apa nyonya masih mengingatku?....." Jianying berjalan semakin dekat.


"Si... siapa kau?! Ja...jangan mendekat!!" Selir Yao semakin mundur karena ketakutan melihat Jianying.


"Kau membunuhku....." Kata Jianying dengan nada lembut namun tatapan matanya sangat tajam.


"Ka... kapan aku membunuhmu?!?! Siapa kau?! Ap... apa yang kau inginkan?!" Ketakutan selir Yao semakin menjadi-jadi.


"Kau mengirim banyak pembunuh bayaran untuk kami.... Kau membuat hidup kami menderita... Kau sangat kejam, nyonya." Jianying terus mendekat sambil memiringkan kepalanya kekiri dan kekanan perlahan.


"Se... selir Jiao?!?! Tidak.... kau sudah mati!! Mengapa kau bisa ada disini?! Pe... pergi!! Bukan aku yang membunuhmu!! Zhang Bingjie yang memerintah para pembunuh bayaran itu!!!" Kata selir Yao panik dan ketakutan.


"Kau memfitnah kalau aku membunuh selir lain. Aku harus mengorbankan hidupku agar anakku tetap hidup. Kau harus pergi denganku hari ini.... Khihihi...." Jianying mengangkat kedua tangannya seperti akan mencekik selir Yao.


"Tidak!! pergi!! Menjauh dariku!!" Kata selir Yao.


"Pergi? Kau ingin aku membebaskanmu? Jangan harap!! Khihihihi...." Tawa Jianying benar-benar menyeramkan.


"Tidak!!!! Tolong!!!! Hantu!!!!! Ada hantu!!!! Aaaaa!!!!" Selir Yao lari terbirit-birit keluar saking takutnya.


Jieru turun sambil tertawa, "Hahaha.... Dasar nenek tua pengecut!! Begitu saja takut? Untung saja dia tidak punya penyakit jantung, atau dia pasti akan mati ditempat!"


"Haaa!!!!! Hantu!!!!" Teriak Jianying histeris setelah melihat wajahnya yang dipantulkan cermin.


"Hey, bisakah kau tak berteriak sekencang itu? Telingaku bisa pecah mendengarnya!" Ketus Jieru.


"Kau... apa yang kau lakukanlah pada wajah cantikku?!" Jianying mengguncang-guncang tubuh Jieru kuat.


"Ayolah... itu hanya sedikit coretan." Jieru merasa mual.


"Sedikit?! Kau bilang wajahku yang kau buat jadi jelek dan menyeramkan ini 'hanya sedikit coretan'?! Aku akan membunuhmu!!" Jianying terus mengguncang tubuh Jieru.


"Hey, apa kau mencium bau pesing?" Tanya Jieru.


Jianying berhenti lalu mencoba mengendus-endus, "Ya, kau benar." Jawabnya.


mereka melihat kearah selir Yao tadi, mereka melihat sebuah genangan air disana. Mereka tertawa terbahak-bahak ketika menyadari bahwa selir Yao sampai mengompol saking takutnya.


"Cepat!! Periksa dimana hantunya!!" Suara prajurit berasal dari luar.

__ADS_1


"Kita pergi sekarang!!" Jieru menarik tangan Jianying tanpa menunggu respon dari sang pemilik.


Jieru menarik Jianying sambil berlari sekencang angin. Jianying sampai beberapa kali tersandung dan hampir jatuh karena berusaha untuk mengimbangi kecepatan Jieru dan tak fokus pada jalan.


"Kau ingin membawaku ke penginapan atau ke alam baka?!" Jianying menarik telinga Jieru dengan sangat kuat ketika mereka sampai.


"Aduh duh duh!!! Hey, sakit!! Lepaskan!! Telingaku bisa putus!!" Jieru kesakitan.


"Oh? Apa sekarang kau bisa merasakan sakit? Sebelumnya kau bahkan dilempari batu oleh seorang anak nakal dan kau tak bergeming sedikitpun, mengapa sekarang merasa sakit?" Ejek Jianying.


"Ayolah.... Bukankah kau berhasil menjalankan rencana dengan sempurna karena lukisan yang aku buat diwajahmu?" Tanya Jieru santai.


"Tapi wajahku jadi buruk rupa sekarang!!! Cepat bantu aku untuk membersihkan diri!!" Ketus Jianying.


"Oh, ya. Aku lupa jika tinta hitam yang aku gunakan adalah tinta hitam permanen, aku rasa kau harus berwajah seperti itu selamanya." Kata Jieru santai.


Mendengar ucapan Jieru Jianying langsung pingsan ditempat.


"Uh.... apa yang terjadi?" Jianying membuka matanya perlahan.


"Kau sadar? Kupikir kau sudah mati?" Kata Jieru sambil menyeruput tehnya.


"Mengapa kau minum teh di jam segini?" Tanya Jianying.


"Eh? Apa salahnya kalau minum teh dipagi hari?" Jieru balik bertanya.


"Apa?! Pagi hari?! Kalau begitu wajahku?!" Jianying langsung berlari menuju cermin.


"Cih, dasar para gadis." Ketus Jieru.


"Sudah bersih! Wajahku kembali cantik!" Jianying merasa lega setelah melihat wajahnya dicermin.


"Tentu saja, aku sudah membersihkannya saat kau pingsan semalam." Kata Jieru.


"Kau bilang itu tinta permanen!!" Kesal Jianying.


"Apa kau begitu mencintai wajahmu? Wajah yang bahkan kalah jauh dari kecantikan buronan ini?" Pertanyaan bertujuan mengejek dilontarkan oleh Jieru.


"Hey, aku ini termasuk wanita cantik, tau?!" Protes Jianying.


"Jika kau benar-benar cantik, mengapa kau masih belum menikah?" Pertanyaannya menusuk lagi dari Jieru.


"Diamlah!!" Ketus Jianying lalu berjalan keluar, dia menutup pintu dengan kasar.


"Ckckck.... Dasar gadis kecil pemarah." Jieru kembali menikmati tehnya.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2