KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Eh.....


__ADS_3

Valencia sudah merasa lebih baik dari sebelumnya, namun dia melihat keanehan pada Rian. Dia biasanya akan selalu banyak bicara dan mengganggu Valencia, namun akhir-akhir ini dia tanpa murung dan jarang tersenyum.


"Rian, kamu punya masalah?" Tanya Valencia pada Rian yang sedang duduk melamun di atas motornya.


"Ga ada, ga ada masalah." Jawab Rian.


"Kalau mau bohongin orang itu liat-liat dulu dia siapa, aku tau kamu punya masalah. Ada masalah apa?" Valencia mengusap-usap bahu Rian.


"Ini.... masih ada hubungannya dengan kecelakaan pesawat tempo hari." Jawab Rian menyandarkan kepalanya di bahu Valencia.


"Memangnya ada apa?" Tanya Valencia mengusap punggung Rian.


"Papa aku.... Val... Papa aku juga ada dalam pesawat itu! Tapi aku baru dikasih tau pagi ini! Sampai sekarang papa belum ditemukan sama sekali!" Jawab Rian dengan suara bergetar, Valencia dapat merasakan bahunya mulai basah.


"Aku tau gimana perasaan kamu sekarang, aku juga sempat ga nerima kenyataan. Sekarang mending kamu berdo'a supaya papa kamu cepat ditemukan." Ucap Valencia terus mengusap punggung Rian.


"Papa udah janji mau ngajak kita ke makam kakek sama nenek! Tapi sekarang papa malah ngilang! Papa selalu ingkar janji sejak aku kecil! Papa selalu sibuk!" Ucap Rian setengah berteriak.


"Rian.... kamu tenang, ya? Tenang... tenang..." Valencia memeluk Rian.


"Tapi, Valen.... Papa aku udah sering ingkar janji! Dia bilang akan pulang secepatnya, tapi sekarang malah ngilang! Aku benci sama papa! Papa selalu bohong sama aku, Val!!" Rian frustasi.


"Aku tau ini berat, jadi sekarang giliran aku yang nemenin kamu. Sekarang kamu pulang dan tunggu perkembangannya aja, siapa tau nanti papa kamu bisa cepat ditemukan." Valencia mengusap dan menghapus air mata yang membasahi wajah Rian.


"Tapi aku ga bisa cuma duduk nunggu di rumah gitu aja, gimana kalau mereka ga becus dan malah ga nemuin papa?" Rian seperti tak yakin jika papanya tak bisa ditemukan.


"Ga usah ribut! Sini kuncinya! Aku yang antar kamu!" Omel Valencia yang merebut kunci di tangan Rian.


"Ga! Aku ga mau pulang! Aku mau nyari papa!" Tegas Rian.


"Mau nyari gimana? Nyelam ke laut?" Tanya Valencia kesal.


"Ga perduli! Bahkan kalau aku mati aku akan tetap cari papa sampai ketemu!" Jawab Rian.


"Cepat duduk dan ikut aku pulang!" Valencia mengangkat tubuh Rian dan langsung mendudukkannya di atas motor seperti seorang ibu yang memaksa anaknya yang baru 5 tahun untuk pulang.


Dalam perjalanan


"Valen.... kenapa papa jahat sama aku? Kenapa selalu ingkar janji?" Tanya Rian dengan nada sendu dan suara bergetar.


"Dia ga jahat. Kalau dia jahat kamu pasti ga akan tumbuh sampai sebesar ini, ga akan bisa sekolah dan kuliah di tempat yang terbaik di kota ini." Jawab Valencia.

__ADS_1


"Tapi kenapa selalu ingkar janji? Dari aku kecil papa cuma bisa janji tapi ga ditepatin!" Rian kini seperti seorang anak kecil yang sedang marah pada papanya.


"Dia pasti punya alasannya sendiri kenapa ngelakuin itu, mungkin kerjaannya banyak banget sampai ga sengaja kelupaan." Jawab Valencia yang sepanjang selalu meladeni pertanyaan kekanak-kanakan Rian. Entah sudah berapa kali Rian menanyakan hal yang sama, namun Valencia terus menjawab dengan nada lembut dan penuh perhatian.


"Kenapa papa selalu jahat? Perkataannya ga pernah ditepatin!" Rian mulai lagi.


"Udah sampai, aku antar kamu sampai dalam." Valencia memarkirkan motor di depan rumah Rian.


"Siapa tuh? Pacarnya?"


"Ga tau, tapi kayaknya sih iya!".


"Ckckckck, papanya masih belum ketemu, eh anaknya malah bawa pulang cewek!"


"Dasar anak ga tau diri!"


"Ga punya hati banget tuh si Rian!"


"Jangan-jangan cewek yang dia bawa cewek ga bener tuh!"


"Di luar keliatan kayak anak baik-baik, ternyata cuma berandalan yang suka nyewa perempuan ga bener!"


Mulut tanpa rem para tetangga ibu-ibu tukang gibah yang mengintip dari balik gerbang rumah mulai nyerocos, segala prasangka buruk mereka sebutkan tanpa ingat dosa dan neraka.


"Perempuan murahan aja sombong banget!"


"Iya, tampangnya aja pasti ga lebih dari ujung kuku jari Valencia Chandra!"


"Iya tuh! Dasar ga tau diri!"


Ejekan para ibu-ibu itu membuat Valencia muak, dia sangat membenci orang yang selalu berpikir jika ada perempuan yang berteman dengan laki-laki pasti seorang perempuan murahan.


"Ga lebih dari ujung kuku jari Valencia Chandra? Buka mata kalian lebar-lebar! Siapa saya?! Siapa tadi yang bilang Rian bawa perempuan murahan?! Siapa kalian berhak menghina dia?! Bubar kalian semua! Saya robek mulut kalian kalau ga pergi secepatnya!!!!!" Bentak Valencia yang langsung membuka masker dan tak tahan atas hinaan yang didapatkan Rian.Valencia membawa Rian masuk setelah para ibu-ibu itu kabur.


"Valen?! Kok kamu bisa pulang sama Rian?" Tanya Mama Rian saat melihat Valencia.


"Takut dia ngebut, Tan." Jawab Valencia, dia membawa Rian untuk duduk di sofa.


"Aduh... jadi ngerepotin kamu, maaf." Ucap Mama Rian tak enak hati.


"Ga papa, lagian aku juga temennya Rian." Ucap Valencia.

__ADS_1


"Ya udah, nanti biar Tante suruh Nandini yang antar kamu pulang." Ucap Mama Rian.


"Ga perlu! Aku telfon supir aja! Tolak Valencia yang merasa tak enak.


"Kamu mau pulang? Jangan...." Tahan Rian dengan nada manja seperti anak kecil.


"Eh....." Mama Rian hanya bisa menatap tak percaya dengan tingkah putranya itu.


"Udah gede masih manja! Gimana bisa diterima kalo sifatnya masih kayak bocil?!" Ketus Nandini yang baru selesai menelfon.


"Gimana? Udah ada perkembangan?" Tanya Mama Rian dengan wajah khawatir.


"Belum, mungkin masih perlu waktu." Jawab Nandini murung.


"Tuh! Bener 'kan papa emang jahat! Papa udah janji pulang secepatnya, sekarang malah ga tau ada dimana! Valen.... papa emang jahat...." Rengek Rian memeluk Valencia.


"Rian! Kamu itu anak cowok! Ga boleh manja gitu apalagi dia itu anggota keluarga Chandra! Kalau ada yang tau kita bisa dihujat!" Mama Rian mencoba menarik tubuh Rian yang seolah sudah diberi lem super dan menempel erat dengan tubuh Valencia.


"Kalo lo kayak gitu yang ada dia malah ilfil sama lo! Cepat lepasin! Dia mau pulang!" Nandini ikut menarik tubuh Rian.


Bruk!!!


Empat orang itu jatuh ke lantai secara bersamaan, namun Rian masih setia memeluk Valencia. Pusing dengan tingkah Rian, ketiganya sampai teler setelah satu jam berusaha untuk melepas pelukan Rian.


"Suntik rabies aja deh, Ma!" Usul Nandini.


"Suntik mati aja gimana?" Saran Mama Rian.


"Huhuhu... Valen.... mereka ga sayang sama aku... Masa aku mau disuntik rabies sama suntik mati?" Rengek Rian.


"Jadi kamu maunya apa?" Tanya Valencia yang sudah mulai kesal.


"Aku jagain kamu semalaman kemarin, sekarang gantian! Jagain aku juga!" Jawab Rian.


"Hadeh.... Ya udah! Aku jagain! Tapi lepas dulu!" Ucap Valencia.


"Ga mau! Nanti kamu pulang!" Tolak Rian.


"Rian!!!!!!!!!!" Geram Valencia.


"Valen......." Ucap Rian dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Hiih!!! Ya udah! Terserah!" Pasrah Valencia yang tak tahan dengan wajah memelas Rian.


__ADS_2