
Valencia turun dari motor dan Trista langsung naik dan pergi, Rian senang akhirnya memiliki kesempatan untuk berduaan dengan pujaan hatinya. Rian membawa Valencia ke warung pinggir jalan favorit Valencia, tentunya karena semangkuk mie pedas yang sangat menggoda dan ditemani es teh.
"Habis makan pulang?" Tanya Valencia.
"Jalan dulu bentar di taman, ada yang mau aku omongin." Jawab Rian.
"Oh, oke!" Valencia menghabiskan mienya.
Selesai makan Rian membawa Valencia ke taman, tak lupa membeli es krim coklat untuk mendinginkan suasana hatinya yang sedang panas seakan ingin meledak.
"Jalan gini doang nih?" Tanya Valencia.
"E..... Sebenarnya...." Rian menghentikan langkahnya.
"Sebenarnya apa?" Tanya Valencia.
"Sebenarnya aku.... aku... Aku ke toilet bentar!" Rian ngacir.
"Pelajaran buat cowok, jangan gagap atau gugup kalo ga mau ceweknya diembat orang lain!" Ucap Valencia kesal karena kalimat yang sudah dia tunggu-tunggu tak juga keluar dari mulut Rian.
Valencia sudah menunggu cukup lama, namun batang hidung Rian tak juga muncul. Sudah terlalu bosan, Valencia pergi ke toilet. Belum juga sampai dia sudah melihat pemandangan yang memanaskan hati, Rian dikerumuni oleh banyak perempuan dengan pakaian minim bahan.
"TERNYATA SANGAT MENIKMATI YA?!!!!" Valencia meremas botol air mineral yang sempat dia beli, dia langsung melemparnya dan mendarat tepat di kepala Rian.
"His...." Rian meringis karena botol itu masih berisi air.
"Siapa sih yang berani ngelempar botol ke Rian?! Ga tau apa dia itu pangeran dunia bisnis?!" Protes salah seorang wanita.
"Iya, pasti orang yang cemburu karena Rian berhasil bawa nama perusahaan ke sepuluh besar perusahaan paling berhasil!" Salah satunya.
Valencia makin kesal, dia tak tahan ingin menghampiri dan membanting wanita-wanita genit itu. Dia menghentakkan kakinya dengan kuat, dia sudah emosi tingkat tinggi karena tangan salah satu wanita memegang wajah Rian.
"PERMISI!" Valencia mendorong mereka.
"Siapa sih ini main nyerobot aja?!" Kesal wanita-wanita itu.
"Ini yang namanya toilet?" Tanya Valencia geram.
"Aku mau pergi, cuma mereka terlalu banyak." Jawab Rian.
"Tapi suka, kan?" Tanya Valencia memainkan jari-jarinya.
"Be... beneran deh aku...." Belum selesai Rian bicara sudah ada yang menyela.
"Kamu itu siapa dia? Daritadi dia itu sendirian. Lagian cewek galak gini mana ada yang mau?" Salah satu wanita memeluk lengan Rian, hohoho tentu saja sedikit tingkah genit yang membuat Valencia makin muak.
"Pergi dari sini sekarang, atau aku buat kalian semua hancur!" Ancam Valencia.
"Emangnya kamu siapa berani ngancam kita? Kamu juga cuma salah satu 'peliharaan' kan?" Tanya seorang lainnya.
"Cari saja di internet siapa Valencia Chandra!" Valencia mendorong wanita yang memeluk lengan Rian.
"Halah, ancaman yang biasa banget! Jadi kamu 'peliharaan' si sok cantik itu?" Seorang wanita membuka ponselnya dan mulai mencari di internet.
Awalnya wanita itu masih terlihat sombong, namun seketika dia bungkam seribu bahasa. Melihat reaksi mengherankan itu yang lainnya melihat hasil pencarian, dalam sekejap reaksi mereka sama kagetnya.
"Dia ini Rian, orang yang sudah diakui dalam keluargaku sejak lama! Siapapun yang berusaha menggodanya, akan berhadapan langsung dengan aku!" Ucap Valencia.
Secepat kilat wanita-wanita itu kabur, siapa juga yang mau menyinggung keluarga terkaya di negara ini?
"Yang sudah diakui?" Rian masih bengong.
"Tampaknya ga bisa antar aku pulang, cari taksi aja lah." Valencia melangkah pergi.
__ADS_1
"Eh.... Aku antar aku antar!" Rian menarik tangan Valencia.
"Telat, pengen pulang sendiri aja!" Valencia melepaskan tangan Rian.
"Jangan marah dong...." Ucap Rian kembali menarik tangan Valencia.
"Aku mau pulang sendiri!" Ucap Valencia menepis kasar tangan Rian.
"Aku beliin es krim satu dus deh, janji!" Ucap Rian memelas.
"Ya udah ayo, beliin sekarang!" Valencia menggandeng tangan Rian.
"Bayaran kita aman?"
"Mungkin berkurang setelah kata 'peliharaan' keluar."
"Kan yang nyuruh dia sendiri, tanggung jawab sendiri lah!"
"Iya juga, kalau bayaran dikurangin tinggal laporan sama si cewek!"
"Setuju! Hahaha!"
Begitulah isi bisik-bisik sekelompok wanita yang tadi mengerumuni Rian, mereka dibayar untuk melakukan hal tadi. Sebenarnya mereka tak tau jika targetnya adalah Valencia, hanya saja karena itu adalah Rian mereka langsung setuju saja. Sebuah keberuntungan mereka bisa pergi dengan utuh, semua bertekad untuk memukuli Rian saat memberikan bayaran.
.........
Kediaman Chandra
"Gu An.... Udah selesai belum? Sakit nih lututnya...." Ucap Michael memelas.
"Masih ada empat menit, tahan sebentar!" Ucap Devina dengan tanpa dosa setelah penyiksaan yang dia berikan.
"Oh, ya, jangan biarkan adik kecilku itu terlalu dekat dengan si cicak cacingan!" Ucap Michael.
"Sayang sekali, tapi mereka sudah menjalin hubungan yang sangat dekat." Ucap Devina.
"Duduk!" Devina melotot.
"Kapan mereka pacaran?!" Tanya Michael kembali berlutut.
"Sampai kapanpun tak akan bisa dihentikan, lagipula dia itu orang yang sudah diakui oleh keluarga Chandra sejak awal." Jawab Devina sambil dengan santainya makan kuaci.
"Bisa ga kamu ga liatin aku sambil makan kuaci?" Tanya Michael.
"Nonton topeng monyet enaknya sambil makan kuaci!" Jawab Devina.
"Ini kapan istirahatnya?" Tanya Michael yang sudah sangat kesakitan.
"Empat menit lagi, sabar dikit aja bisa ga sih?" Devina lanjut menuangkan sebungkus kuaci lagi.
"Dari tadi empat menit mulu! Kapan selesainya?" Teriak Michael.
"Jadi cowok kok letoy banget sih? Itu cuma kulit durian!" Ketus Devina.
"Ini kulit durian bukan kulit semangka!!!!" Teriak Michael yang sudah tak tahan.
Tit tit.... Tit tit....
Alarm berbunyi, Michael langsung berbaring. Devina kehilangan selera makannya, dia langsung pergi.
"Eh? Mau kemana kamu?" Tanya Devina saat melihat Valencia turun.
"Ketemu Trista, katanya dia lagi perlu bantuan diperusahaan." Jawab Valencia.
__ADS_1
"Jangan lupa bawa si Rian lain kali, setidaknya kita bisa nyiksa si Michael lagi." Ucap Devina.
"Rian bukan alat buat penyiksaan, tapi bagus juga sih." Valencia tersenyum licik.
"Makanya cepetan bawa, setidaknya ada hiburan nanti." Devina lanjut pergi ke dapur.
"Selalu antusias kalo liat orang disiksa atau bersaing, kapan sih kamu itu jadi orang normal?" Valencia pergi.
Di luar Trista sudah menunggu Valencia, mereka langsung pergi ke perusahaan Trista, Be Strong. Karena masalah cukup rumit mereka berdiskusi sampai malam, Valencia pun meminta izin untuk menginap di apartemen Trista. Pulang bukan berarti pekerjaan selesai, mereka masih lanjut berdiskusi hingga subuh.
Pagi hari
"Trista!!!!!!" Valencia berteriak membangunkan Trista.
"Mmh... Kenapa? Ini itu hari minggu..." Tanya Trista dengan suara serak.
"Ini hari minggu, kamu ada kencan pertama!!!!" Valencia menarik Trista sampai jatuh ke lantai.
"Aduh.... kencannya itu jam 11 siang!" Trista naik lagi dan membungkus diri.
"Ini jam 10.30!!!!!!!!!!" Teriak Valencia sekencang-kencangnya.
"Apa?!!!!!" Trista langsung bangun dan berlari mandi.
"Molor terosss!!!!!" Valencia menyiapkan pakaian yang cocok sementara Trista mandi.
Mereka terburu-buru pergi ke taman, motor dibawa dengan kecepatan tinggi. Mereka terlambat dua menit, Derik sudah ada di sana bersama Rian.
"Bukankah seharusnya dia sendiri?" Bisik Trista.
"Entahlah, tapi itu urusan mudah untuk menyingkirkan kami." Bisik Valencia.
"Trista! Valen!" Panggil Derik.
"Hai...." Dua gadis cantik itu melambaikan tangan.
"Kok muka kamu kayak habis dipukulin gitu? Ada memar sama benjol dikepala." Tanya Valencia pada Rian.
"Ga papa, cuma kurang hati-hati keinjek sabun trus jatoh." Jawab Rian, dia sudah cukup mahir untuk berbohong.
"Oh...." Valencia mengangguk.
"Fiuh.... Untung dia percaya!" Batin Rian.
"Dipukulin sama siapa nih anak? Harus cari tau!" Batin Valencia.
"Agendanya apa hari ini?" Tanya Derik.
"Buat kalian ga ada, terserah mau ngapain kalian disini." Jawab Valencia.
"Lah? Kok diajakin kalo ga ngapa-ngapain?" Protes Derik.
"Kalian bisa ngobrol berdua, lagian taman ini tuh luas." Ucap Valencia.
"Eh, ini kita baru kenal tau?!" Protes Derik.
"Tak kenal maka tak sayang, ya ini tuh namanya menjalin hubungan yang lebih dekat di antara kalian." Ucap Valencia beralasan.
"Sebenarnya kita diajakin kesini tuh buat apaan? Masa iya kita dijadiin obat nyamuk?" Derik masih protes.
"Kalian kami gunakan sebagai alasan, nikmati waktu kalian sementara kami kencan." Valencia menarik Rian kabur.
"Cari minuman?" Tawar Trista.
__ADS_1
"En, ayo." Derik mengangguk.
Mereka membeli minuman, suasana terasa canggung sesaat karena tak ada topik pembicaraan.