
Calvin mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, dia tau Aila mudah mabuk saat naik mobil dan sedikit khawatir. Setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai di taman bermain, ada banyak sekali anak-anak yang bermain di tempat yang sangat luas itu.
Duar!!! Surr....
Hujan tiba turun dan membuat semua orang berhamburan dari tempat luar ruangan itu.
"Gimana kalo kita ke mall?" Ajak Intan.
"Mall?" Valencia bingung.
"Em... boleh deh! Disana juga bisa main, kan?! Tunggu apalagi? Buruan bos!" Perintah Aila yang kembali lupa dengan status orang yang sedang duduk di kursi pengemudi itu.
"Okok, hari ini aku jadi pelayan kalian? Enak aja main suruh! Sabar dikit napa?! Kamu itu udah 23 tahun, tau?! Masih aja sesenang itu kalo soal main, hadeh...." Keluh Calvin sambil memasang sabuk pengaman Valencia.
"Tau tuh! Malu dong sama Valencia, dia aja ga kegirangan kayak kamu! Huh!" Ucap Intan sambil menyentil kening Aila. Sebenarnya dia membenci Aila, tapi dia harus menjaga citranya sebagai wanita cantik dan menjadi idola semua pria di kantor. Apalagi ada Calvin didepannya, dia akan kehilangan kesempatan untuk menjadi anggota keluarga terkaya jika melakukan kesalahan.
"His... sakit tau..." Aila meringis sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit.
"Aih.... sebagai atasan kalian aku baru tau kalo Aila yang pendiam dan pekerja keras bisa kayak anak kecil kalo soal main." Calvin geleng-geleng.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, Aila yang sudah tak sabar langsung menggendong Valencia.
"Yuk, kita langsung ke atas!" Seru Aila dengan semangat.
"Ya ampun, jaim dikit ga bisa? Kok childish banget, sih?" Intan memeluk lengan Calvin dengan genit.
"Rubah ekor sepuluh!!" Umpat Valencia dalam hati.
"Mm... kamu kenapa? Kok kayak kesal gitu?" Tanya Aila sambil berbisik.
"Antar aku ke toilet!" Perintah Valencia.
"Iya iya, kakak antar kamu." Aila langsung membawa Valencia ke toilet.
"Kakak suka sama kak Calvin, kan?" Tanya Valencia.
"Ah.. hahaha ma.. mana mungkin!" Aila mengelak dengan tawa canggung nya.
"Berbohong pada diri sendiri itu sebuah kesalahan!" Ketus Valencia.
"Kalau memang suka maka lebih baik melepaskan demi kebahagiaan orang yang disukai, kamu anak kecil ga bakal tau." Aila mencubit pipi Valencia untuk yang kesekian kalinya.
"Aku memang anak kecil, makanya lebih peka dengan perasaan kalian. Jelas-jelas sama-sama suka, tapi malah menolak menerima perasaan sendiri. Yang satu ga sadar sama perasaan sendiri, satu lagi malah mengubur perasaan sendiri. Kalian orang yang aneh!" Valencia mengerucutkan bibirnya.
"Aih... walaupun suka, tetap ga bisa bersama. Kakak ini orang dari kampung, sedangkan bos Calvin itu anggota keluarga terkaya di negara ini. Dilihat dari penampilan aja udah beda jauh, bos lebih cocok sama Intan." Aila nampak sedikit sedih.
"Apa semua anggota keluarga kaya harus menikah dengan orang kaya juga? Bagi kami status tak masalah, selama dia memiliki kepribadian dan kemampuan yang baik! Aku pasti menyatukan kalian!" Valencia berkata dengan ekspresi serius membuat Aila tak tahan untuk mencubit pipinya lagi.
__ADS_1
"Kita ini ga cocok, kita itu langit dan bumi." Aila mengusap kepala Valencia.
"Bumi dan langit itu saling melengkapi! Hujan turun dari langit memberikan kita air! Bumi memberikan kita tempat untuk membangun bangunan dan tinggal di sana!" Valencia menepis tangan Aila, dia mulai sebal dengan sikap Aila yang mudah menyerah.
"Kita udah ditunggu, ayo keluar." Aila memilih untuk mengakhiri pembicaraan dan menggendong Valencia keluar.
"Aku akan buat kesempatan, kakak harus manfaatkan dengan baik!" Nada bicara Valencia sedikit menyeramkan, Aila hanya bisa mengangguk.
Calvin dan Intan sudah menunggu Aila dan Valencia cukup lama, mereka bahkan sudah selesai membeli beberapa cemilan baru dua orang itu muncul.
"Aila, maaf jadi ngerepotin. Ini pertama kalinya Valencia keluar dan ketemu orang, ga tau kalo dia bakal minta gendong terus." Calvin merasa tak enak.
"Ga papa, bos! Saya memang suka anak kecil, jadi ga ngerepotin sama sekali!" Aila tersenyum manis, wajah Calvin seketika memerah setelah melihat senyuman itu.
"Perjaka tua yang tak bisa memahami perasaan sendiri, bod*h!!" Maki Valencia dalam hati.
Mereka berempat bermain dengan riang, sesekali Valencia menatap jijik ke arah Intan yang terus menempel genit pada Calvin.
"Kesempatan bagus!!" Valencia yang melihat Calvin mendekat langsung menyenggol kaki Aila. Sesuai dugaannya Aila terjatuh dan masuk ke dalam pelukan Calvin yang menolongnya, mereka bertatapan cukup lama.
"Ma... maaf, tadi ga sengaja jatuh!" Aila nampak gugup.
"Em... ga papa, santai aja." Jawab Calvin yang merasa sedikit aneh karena jantungnya berdegup kencang, padahal selama Intan di dekatnya detak jantungnya masih normal.
"Ei? Cepat sekali? Harus cari kesempatan lagi!" Valencia mulai mengoperasikan otak jahatnya.
"Calvin, cobain deh! Enak banget tau udang nya!" Intan memberikan udang pada Calvin namun ditahan oleh Aila.
"Tunggu! Bos ga suka udang, kan?" Tanya Aila.
"Em..." Calvin mengangguk, Intan langsung menarik kembali tangannya.
"Kakak ipar yang baik! Dia tau kakak perjaka tuaku ini tak suka pada apa, sepertinya seleraku tak buruk!" Pikir Valencia.
"Bos, mau bakso?" Tanya Aila sambil menyodorkan satu buah bakso yang duduk manis di sendoknya.
"Em..." Calvin hanya berdeham dan langsung memakan bakso yang diberikan Aila.
"Gimana?" Aila memberikan kode pada Valencia dengan menaikan turunkan alisnya.
"Kerja bagus!!" Begitulah Aila menterjemahkan kode Valencia yang membalas dengan memberikan dua jempol padanya.
"Dasar orang-orang licik!! Kalian kerjasama buat bikin aku malu!! Kalian bakal nerima akibatnya!!" Intan mulai geram.
"Permisi, boleh saya duduk disini?" Tanya seorang pria yang berpakaian kumuh.
"Ini pengemis kok bisa ada disini sih?! Ganggu pemandangan aja!!" Intan menatap jijik ke arah pria itu lalu memalingkan wajah.
__ADS_1
"Silahkan duduk, pak!" Tiga orang lainnya menyambut pria itu dengan ramah.
Intan tak tahan dengan bau yang ada disekitar tubuh pria itu, dia hampir muntah karena orang itu duduk didekatnya.
"Aduh.... bapak udah ga mandi berapa bulan sih?! Bau banget!!" Protes Intan yang sudah tak ingat dengan keberadaan Calvin.
"Kak, yang sopan sama orang tua! Walaupun bukan orang yang dikenal tetap harus menghargai dan menghormati! Lagipula bapak ini ga gangguin kita, dia cuma duduk buat makan!" Aila tak terima dengan kata-kata Intan.
"Kamu orang kampung tau apa?! Kalian itu sama-sama kampungan!! Makanya kamu belain nih pengemis bau!!" Nada Intan semakin tinggi.
"Kakak kalau mau ngehina aku ga papa, tapi kakak ga seharusnya ngehina orang yang jauh lebih tua dari kakak yang bahkan ga ganggu sedikitpun! Ga tau ternyata Intan yang dikenal ramah ternyata punya sifat asli kayak gini!! Ga menghargai orang lain hanya karena penampilan dan derajat!!" Aila yamg juga lupa dengan keberadaan Calvin mulai menyulut api, dia sangat ingin mengungkap topeng asli wanita didepannya.
"Yeah.... kalian sama-sama lupa dengan kakak perjaka tuaku, hebat!!" Valencia tak perduli dan terus melanjutkan kegiatan makannya.
"Dasar orang kampung ga tau diri!! Kamu itu jelek jadi iri sama aku yang cantik, kan?! Kamu kau pakai cara kotor supaya bisa ngerayu orang-orang!! Supaya kamu bisa dapat sugar daddy!! Kamu perempuan kotor!!" Intan mulai tersulut emosi.
"Cara kotor? Bukannya itu kamu? Di kantor seolah-olah baik dan ramah, ternyata semua cuma topeng? Ah... gimana ya kalo bos Calvin tau? Kamu pasti ga bisa ngerayu dia lagi, kan? Selama ini kamu selalu ngedeketin pak Calvin supaya bisa masuk keluarga Chandra, iya kan?" Tamya Alia dengan nada santai.
"Kalo emang iya kenapa?! Kamu pikir aku ga tau kalau kamu suka sama pak Calvin?! Kamu ga berani deketin dia karena kamu malu sama status kamu yang cuma orang kampung!! Makanya kamu ngubur perasaan kamu itu!! Zaman sekarang yang penting itu status dan penampilan!! Bukan cuma bakat dan kerja keras!! Keluarga Chandra cuma pantas punya menantu dari keluarga kaya juga!! Dengar kamu?!" Intan hendak menampar Aila namun seseorang menahan tangannya.
"Kamu mau nampar orang?" Calvin menatap tajam dan menghempaskan tangan Intan, dia langsung mengelap tangannya yang menyentuh tangan Intan tadi dengan tisu.
Plak!!!
Satu tamparan melayang dari tangan mungkin Valencia dan mendarat dengan mulus di pipi Intan, Valencia langsung mengelap tangannya karena bedak yang dipakai Intan menempel ditangannya.
"Aish... ada berapa ribu lapis? iww... jijik!" Hina Valencia sambil mengelap tangannya, dia sedang berdiri di atas kursi.
"Ga semua keluarga kaya itu harus punya menantu dari keluarga kaya juga! Selama orang itu punya sifat yang baik dan bisa diandalkan, kami tetap bisa nerima dia!! Sebaliknya perempuan kayak kamu yang cuma mau status dan kekayaan, ga akan pernah diterima di keluarga Chandra!!" Ketus Calvin.
"Pfftt.... hahaha!!!" Pria dengan tampang lusuh tadi berdiri dan tertawa terbahak-bahak membuat empat orang didekatnya bingung. Orang itu melepas rambut dan janggut palsunya, ternyata dia adalah Andrew.
"Eh? Oom yang waktu itu di rumah sakit, bukan?" Tanya Aila.
"Kamu kenal sama papa?" Tanya Calvin.
"Hah?! Papa?!" Teriak Aila dan Intan bersamaan.
"Calvin, kamu mau siapa?" Tanya Andrew.
"Kenapa harus ditanya lagi? Bukannya udah dilihat?" Calvin merangkul Aila membuat gadis berpenampilan sederhana itu mematung.
"Hahaha!!! Memang masih ga berubah! Kamu tetap anak gadis yang baik dan polos! Benar-benar anak si Hendri!" Andrew menepuk-nepuk pundak Aila yang masih mematung.
"Kapan pulang? Kapan kan Intan dipecat? Kapan tanggal pernikahan kak Calvin dan kak Aila?" Tanya Valencia, pertanyaan terakhir kembali membuat Aila yang baru saja sadar kembali mematung. Intan pergi dari tempat itu dengan kesal karena tak tahan dengan kehangatan yang ada.
"sekarang!" Jawab Andrew.
__ADS_1
Bersambung.....