KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Pertemuan yang Direncanakan Tuhan


__ADS_3

Vivian baru saja pulang dari pasar membeli beberapa bahan untuk keperluan restoran, dia memilih jembatan yang sudah jarang dilewati itu untuk menghemat waktu. Namun dia tiba-tiba merendahkan kecepatan motornya.


"Siapa itu?" Vivian penasaran ketika melihat seseorang di jembatan seperti akan melakukan bunuh diri. Dengan cepat dia menghentikan orang itu, menuntunnya turun dan duduk.


"Dia buta?" Melihat pandangan orang itu Vivian yakin jika orang itu buta.


Vivian memperkenalkan diri, "Rein" Jawab orang itu.


"Apa kamu orang yang ibu bilang itu? Teman yang sebenarnya?" Pikir Vivian dalam hati.


Walau agak ragu Vivian bertanya, "Kenapa nekat?" Tanyanya.


"Bukan urusanmu!" Ketus Rein.


"Jadilah orang yang pantang menyerah dan ga mudah putus asa. Semua masalah pasti ada jalan keluar." Kata Vivian.


"Mudah untuk bicara. Apa kamu tau gimana rasanya dibuang oleh keluarga sendiri?! Hanya karena aku buta aku dibilang ga berguna dan dibuang kejalan!!!" Bentak Rein. Dia kelihatan frustasi.


"Aish... Aku memang ga tau, tapi aku yakin itu pasti sakit." Kata Vivian.

__ADS_1


"Tapi.... Kalau kamu bunuh diri, sama aja dengan membenarkan ucapan mereka, kan?" Dia menggenggam tangan Rein.


Rein terdiam, apa yang Vivian katakan memang benar.


"Tapi aku ini buta, ga bisa ngelakuin apapun sekarang." Jawab Rein. Rasa putus asa terlihat jelas diraut wajahnya.


Vivian menyandarkan kepala Rein di bahunya, "Setiap orang punya kekurangan dan kelebihan. Kamu mungkin ga bisa melihat, tapi kamu pasti punya kelebihan. Aku yakin, dengan kelebihan yang kamu punya itu, kamu bisa membuktikan kalau kamu bisa sukses." Vivian menyemangati.


Disaat keluarganya sendiri membuangnya, orang asing malah menyemangati dirinya. Dia menangis, tak tau mengapa dadanya terasa sakit.


Vivian mengusap bahu Rein, "Menangis memang ga bisa menyelesaikan masalah, tapi setidaknya hati akan merasa lebih baik."


"Udah.... Sekarang kamu ikut aku aja." Vivian menarik tangan Rein untuk berdiri.


"Kita mau kemana?" Tanya Rein yang tangannya ditarik oleh Vivian.


"Nanti juga tau. Sekarang ikut aja." Vivian membantunya menaiki motor.


"Pegang ini." Vivian menaruh tangan Rein di sisi samping koper nya. Koper itu berada di tengah menjadi pembatas.

__ADS_1


"Sebenarnya aku mau dibawa kemana?" Tanya Rein lagi.


"Udah dibilang ikut aja!" Vivian menyalakan motor.


Setelah sekitar 10 menit kuda besi itu berhenti, "Udah sampai, turun." Kata Vivian.


Tangan kiri Rein memegangi kopernya sementara tangan kanannya ditarik Vivian, "Pelan-pelan, aku ga bisa liat nanti jatuh."


"Kita udah sampai. Restoran ini belum buka, karyawan juga belum datang." Vivian menuntun Rein untuk duduk.


"Apa dia pemilik restoran? Atau cuma karyawan?" Pikir Rein, "Kamu kerja disini?" Tanyanya.


"Oh, aku yang punya. Ibu yang bangun, sekarang aku yang melanjutkan." Jawab Vivian.


Rein mengangguk, "Memangnya ini jam berapa? Kapan restoran ini buka?".


"Ini masih jam 9.00 dan restoran buka jam 10.00 jadi masih 1 jam lagi." Jawab Vivian, "Kamu tunggu disini sebentar." Tambahnya lalu pergi.


Rein tetap ditempat menunggu Vivian datang.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2