KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Perbincangan yang Tak Seharusnya Ada


__ADS_3

Entah sudah berapa lama sejak Vivian pergi, Rein merasa bosan dan mencoba untuk mencari kamarnya.


Tring.... Tring....


"Apa Vivian lupa bawa ponsel?" Rein yang baru berjalan beberapa langkah berbalik dan mencari asal suara.


"Aduh!" Jempol kaki kakannya terbentur kaki kursi, "Keadaan ini memang menyulitkan, mereka pasti kerepotan ngurus aku nanti." Gumamnya.


Deringan ponsel tak berhenti, Rein meraba-raba meja namun tak menemukan ponsel Vivian.


Tring..... Tring..... Tring....


Rein mulai meraba kursi satu per satu, "Ketemu juga." Rein mengangkat telfon itu, sebenarnya dia tak yakin dia sedang menjawab atau malah memutus panggilan itu, "Halo?"


"Siapa ini?" Tanya seseorang di seberang.


"Syukurlah aku ga salah." Batin Rein. "Saya Rein, jika ada pesan untuk Vivian akan saya sampaikan setelah dia pulang." Jawab Rein.


"Rein? Aku Alex, mantan tunangannya." Kata Alex.


"Alex? Apa dia yang dimaksud Vian?" Batin Rein, "Ya ada apa tuan Alex?" Tanyanya.


"Urusanku bukan denganmu, tak perlu ikut campur! Kasih telfonnya ke Vivian sekarang!" Ketus Alex.


"Maaf, tapi Vian lagi ke sekolah ngantar adiknya." Jawab Rein.

__ADS_1


"Vian?" Alex mendengus, "Heh! Seberapa dekat kamu dengan dia? Aku bahkan ga pernah diizinkan manggil dia Vian!" Alex terdengar kesal.


Vivian memang tak pernah mengizinkan Alex untuk memanggilnya dengan panggilan itu, Vivian sendiri tak tau alasannya kenapa dia melarang Alex.


"Seberapa dekat kami itu bukan urusan orang asing. Jika ada pesan untuk Vian silahkan katakan, nanti akan saya sampaikan ketika dia sudah sampai rumah." Jawab Rein.


"Heh! Jangan sok kamu, ya! Aku ini..." Belum selesai Alex bicara Rein menyela.


"Mantan tunangan, hanya mantan. Anda hanya masa lalu Vian, jangan sok" Rein membalas.


Alex mulai geram, "Sebenarnya apa hubunganmu dengan Vivian?!"


"Hubungan yang sederhana. Jika Anda masa lalu, maka saya bisa saja masa depannya." Jawab Rein untuk memancing Alex. Entah mengapa tapi dia senang mengatakan kalau dia sangat dekat dengan Vivian. Bahkan dia merasa membuat Alex cemburu adalah hal yang harus dia lakukan. Seperti seorang pria yang sangat tidak ingin jika wanitanya didekati orang lain.


Belum sempat Rein menjawab seseorang menarik ponsel itu, "Udah berapa kali aku bilang, jangan pernah ganggu aku!! Kita ini udah ga ada hubungan apapun! Lagipula kamu yang melakukan kesalahan. Hubungan aku dan Rein ga ada sangkut pautnya sama kamu, jadi jangan ganggu lagi! Dia memang spesial, ga murahan kayak kamu!" Jawab Vivian penuh emosi.


Dia baru saja pulang dan melihat Rein memegang ponselnya, ketika mendengar Rein mengatakan 'masa lalu' dia tau jika yang menelfon adalah Alex. Dengan cepat dia memutuskan panggilan.


Tut... Tut... Tut....


Panggilan terputus


"Apa dia bilang sesuatu?" Tanya Vivian pada Rein.


"Dia cuma bilang kalau dia itu mantan tunangan kamu. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu kedengarannya benci banget sama dia?" Rein balik bertanya.

__ADS_1


"Seharusnya kamu ga jawab panggilan itu, dia itu pasti ngomong yang macam-macam. Dia itu orangnya terlalu nekat." Vivian memijit kepalanya pelan.


"Memangnya kalian punya masalah apa sampai membatalkan pertunangan?" Tanya Rein.


"Sherly, dia sepupuku. Mereka berhubungan dibelakangku, bahkan sampai ketitik yang seharusnya ga mereka perbuat." Jawab Vivian.


"Sebaiknya sekarang kamu fokus dengan pekerjaan dan mengurus Vian." Rein mengalihkan pembicaraan.


"Iya, aku udah bersumpah untuk menebus kesalahan dikehidupan sebelumnya!" Vivian keceplosan, dia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Dikehidupan sebelumnya? Maksudnya? Kamu..... Terlahir kembali?" Rein bingung.


Vivian gelagapan, "Ah... Itu... Anu.. Ah.. Em..." Dia mulai panik.


"Jelaskan aja nanti malam, sekarang kita fokus kerja dulu." Kata Rein.


Vivian menarik nafas lega, "Iya. Aku akan jelaskan nanti malam setelah selesai kerja. Sekarang kita ke restoran dulu, aku mau ngubah sedikit panggung buat kamu." Vivian menarik tangan Rein.


"Rein, apa yang kamu bilang tadi serius? atau sekedar kata-kata pemancing emosi Alex? Ibu, apa boleh dia ga jadi teman aku, tapi jadi pasanganku?" Sepanjang perjalanan Vivian hanya diam, larut dalam pikirannya sendiri.


"Vivian, andai aku sempurna, aku akan buat kamu terus ada di sisiku. Aku ga akan rela kamu di rebut oleh orang lain. Tapi semua itu hanya mimpi, aku buta dan kamu ga mungkin membalas perasaan orang buta ini." Rein juga larut dalam pikirannya.


"Andai kalian cepat bersama, ibu mau lihat dan gendong cucu ibu." Ibu Rein yang mengikuti mereka dari belakang mulai berharap.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2