KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Anak atau adik?!


__ADS_3

Kediaman Chandra


"Kakak!! Tunggu aku!!" Teriak Valencia sambil mengejar Calvin yang hendak masuk ke mobil.


"Cepat sedikit!! Kalau kamu masih lambat kakak tinggalin kamu!! Ga usah ikut!!" Kata Calvin yang tak melihat Valencia dan duduk santai di dalam mobil.


"Huh! Dasar kakak yang jahat!! Bukannya terima kasih udah dikasih perempuan baik, malah mau ninggalin orang dan ingkar janji!!" Ketus Valencia yang duduk disamping Calvin, dia sedikit ngos-ngosan karena berlari dari lantai 3 untuk mengejar Calvin.


"Pak, langsung ke kantor!" Perintah Calvin pada supir.


"Baik!" Supir langsung melajukan mobil.


Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit akhirnya mereka sampai di kantor. Para pegawai yang melihat Calvin menggendong Valencia masuk ke ruangan menatap dengan heran.


"Dia anak tuan muda Calvin?"


"Mungkin! Aku ga pernah dengar berita tentang anak yang tuan muda gendong, mungkin anak har*m!!"


"Mungkin adiknya?"


"Adik? Anak siapa? Sejak tuan muda Rein dan istrinya meninggal 6 tahun lalu, ga pernah ada berita tentang keturunan baru!"


"Sstt... kalo ketahuan kita bisa kena pecat!! Bubar sekarang!"


Ruangan Calvin


"Aiya... kakak tampan, apa kau tak ingin tau apa yang mereka pikirkan?" Tanya Valencia.


"Terserah dengan apa yang mereka pikirkan, selama Aila tau yang sebenarnya ga ada masalah sedikitpun!" Calvin fokus dengan pekerjaannya.


"Hm.... oh, dimana kak Aila?" Tanya Valencia.


"Dia sebentar lagi datang." Jawab Calvin yang masih tetap fokus.


"Hm..." Valencia berbaring disofa panjang.


"Apa tujuan kamu kesini?" Tanya Calvin. Semalam Valencia terus mendesaknya agar berjanji untuk membawanya ke kantor, dengan berat hati dia berjanji pada Valencia.


"Kopi dan segelas coklat panas yang Anda minta, pak." seseorang mengetuk pintu.


"Masuk aja." Jawab Calvin yang berpindah posisi menjadi duduk disamping Valencia.

__ADS_1


"Permisi, minumannya mau ditaruh dimana?" Tanya seorang gadis cantik yang melangkah masuk, Aila.


"Kak Aila! Sini!" Valencia yang melihat Aila langsung duduk dan menepuk-nepuk sofa sebagai kode agar Aila duduk disebelahnya.


"Valencia? Kok kamu disini?" Tanya Aila sambil menaruh dua gelas minuman yang dipesan oleh Calvin melalui pesan pribadi sebelumnya.


"Bantu kalian untuk saling mengenal dan membantu kakak perjaka tuaku ini agar lebih mengerti tentang seorang gadis!" Jawab Valencia sambil menatap tajam ke arah Calvin.


"Hah? Maksudnya?" Tanya Aila.


"Hari ini paman memberikan kalian waktu untuk berduaan!! Berterima kasihlah padaku!!" Jawab Valencia bangga.


"Terus kenapa kamu ikut aku kesini? Bukannya malah jadi bertiga?" Tanya Calvin.


"Agar tak ada seorangpun yang berani menggoda salah satu dari kalian! Hari ini kalian akan langsung berperan sebagai orang tua dan aku adalah anak kalian!!" Jawab Valencia dengan nada serius sambil menyeruput coklat panasnya.


"Pfftt.... ap... apa?!" Pekik Calvin yang langsung memuncratkan kopi yang baru saja masuk ke mulutnya.


"Dasar jorok!!" Valencia memukul paha Calvin dengan sangat kuat.


"Sshh.... bisa ga sih kamu itu ngeluarin kekuatan yang sesuai sama umur kamu?" Calvin mengusap pahanya yang terasa sakit sambil tangan sebelahnya mengelap kopi yang membasahi sekitar mulutnya.


"Jangan banyak tanya, ujian kalian dimulai sekarang!! Jika kalian gagal jangan pernah berharap untuk bisa bersama!!" Titah Valencia.


"Harus hari ini?" Tanya Aila.


"Ya! Sekarang kita harus pergi ke tempat yang akan disukai anak-anak, jika aku suka dengan tempat yang kalian pilih itu akan menambah poin." Jawab Valencia.


"Gimana kalo kita beli es krim setelah kamu habisin coklatnya?" Tawar Aila.


"Poin pertama untuk kak Aila. Kalau poin kak Aila lebih banyak dari kak Calvin, maka akan diputuskan bahwa pernikahan ditunda atau bisa saja dibatalkan karena pihak laki-laki belum siap untuk mengurus anak!!" Lagi-lagi Valencia menatap sangat sangat sangat dan sangat tajam.


Setelah minuman mereka habis mereka langsung keluar untuk membeli es krim. Bisik-bisik tetangga terdengar saat para pegawai melihat manager Calvin dan Aila si og keluar dari ruangan dan berjalan bersama. Hal yang membuat perbincangan semakin panas adalah Aila menggendong seorang gadis kecil yang sebelumnya datang bersama Calvin.


"Bukannya itu Aila, og yang tiga bulan lalu baru masuk? Kok bisa jalan sama pak Calvin? Trus ngegendong anak kecil yang datang bareng pak Calvin lagi?! Apa jangan-jangan dia pakai guna-guna buat ngedeketin pak Calvin?!"


"Kok mereka kelihatan serasi, ya? Walau penampilan si Aila kelihatan sederhana tapi tetap cantik!"


"Jangan-jangan anak kecil itu anak mereka?! Ngeliat mereka persis kayak lihat satu keluarga kecil yang bahagia!"


"Dilihat-lihat kayaknya tuh anak umur 3 tahunan, sebenarnya apa hubungan mereka bertiga?"

__ADS_1


"Anak atau adik?! Kalau anak, ga pernah ada berita tentang pernikahan pak Calvin. Kalau adik, kenapa ga pernah ada di berita manapun sebelumnya?"


Mereka bertiga sudah sampai diparkiran, sesuai dengan perintah Valencia Aila duduk di depan bersama Calvin. Supir? Dia sudah pulang duluan setelah mendapat pesan dari Andrew tepat setelah Calvin masuk ke dalam kantor pagi tadi.


"Hasil tes kalian bergantung padaku, jadi jangan sampai ada kesalahan sedikitpun karena aku adalah orang yang jeli!!" Kata Valencia.


"Baik, tuan putri!!" Calvin mulai geram, sedangkan Aila hanya tertawa kecil melihat tingkah Valencia.


"Satu poin lagi untuk kak Aila!" Valencia mengedipkan sebelah matanya. Dia mengeluarkan sebuah buku kecil dan sebuah pulpen dari saku bajunya, entah sejak kapan dua benda itu dibawanya. Dia sedang menulis sesuatu di sana, tepatnya menulis poin yang sudah diperoleh.


"Ini rencana pengenalan lebih dalam atau ujian semester?" Calvin menatap jalanan yang tak terlalu ramai dengan tatapan kesal.


"Jika kau gagal maka paman berencana untuk menikahkan dirimu dengan seekor kera, kamu mau?" Tanya Valencia dengan sinis.


"Pfft... hahaha!! Kenapa ga sama orang utan aja? Kan bisa gandengan tanpa perlu jongkok terus!! Hahaha!!!" Aila tertawa terbahak-bahak. Kini Aila yang biasanya pendiam dan pemalu malah berubah 180°, orang kantor yang melihat ini pasti akan langsung pasang togel.


"Mau es krim rasa apa?" Tanya Aila.


"Hm... lihat nanti, aku akan memilih setelah sampai." Jawab Valencia.


"Terserah padamu, a-nak-ku ter-sa-yang!!!" Calvin menekankan semua kata-katanya.


Sepanjang hari Calvin dan Aila menjalani ujian yang diberikan oleh Valencia. Terkadang mereka harus menjawab beberapa pertanyaan yang dilayangkan Valencia, setiap menjawab pertanyaan dengan benar maka poin mereka bertambah. Entah mengapa ujian yang diberikan oleh Valencia lama-lama menjadi sebuah permainan seru, mereka melanjutkan ujian sampai malam hari.


"Gimana hasilnya?" Tanya Calvin. Mereka sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah kontrakan Aila.


"Hasilnya? Setelah aku amati dan hitung, kalian untuk sementara seri. Jadi... aku sarankan kalian untuk menjalani masa pacaran untuk beberapa waktu. Ingat untuk memperlakukan kakak iparku dengan baik, atau aku sendiri yang akan menghajar dirimu!!" Ancam Valencia dengan tatapan membunuh sambil memainkan jari-jarinya.


"Dasar tukang paksa!!" Ketus Calvin.


"Ternyata pak Calvin yang sepanjang hari selalu kelihatan dingin dan berwibawa bisa ditaklukkan sama anak kecil? Bahkan tiba-tiba jadi banyak bicara diluar waktu rapat? Valencia, kamu bisa jadi pawang singa di sirkus kalo gini!" Aila tertawa geli melihat Calvin yang takut pada kecerdikan, kelicikan, dan kekuatan Valencia.


"Disini?" Tanya Calvin ketika berhenti di sebuah kontrakan kecil dan sederhana.


"Iya, makasih udah nganterin!" Aila hendak keluar namun ditahan oleh Calvin.


"Biar aku yang bukain pintunya, kamu duduk dulu disini." Kata Calvin lalu keluar untuk membukakan Aila pintu.


"Satu poin untuk kak Calvin!" Valencia kembali menambah sebuah garis di tabel nama Calvin.


"Hah?" Calvin sedikit bingung.

__ADS_1


"Poin tidak jadi seri, kak Calvin unggul satu poin dari kak Aila. Sekarang cepat antar aku pulang!" Perintah Valencia.


"Baik, adikku yang manis, putriku yang lucu, tuan putriku yang paliiiing baik se-dunia." Calvin memberikan senyum terpaksa lalu melajukan mobilnya untuk pulang ke kediaman Chandra.


__ADS_2