
"Gimana bersih-bersih kalian? Udah beres?" Tanya Valencia yang mendatangi Rian dan kawan-kawan.
"Diem lo! Gara-gara lo kita dihukum mungutin sampah diparkiran yang udah kayak tempat penampungan!!" Ketus Derik.
"Kalo cuma mau mantau dan ga mau bantuin, mending pergi sono!!" Timpal Tomi.
"Kalian itu masih cowok bukan, sih?! Ini tuh akibat dari perbuatan kalian sendiri, masa ga mau tanggung jawab?" Valencia dengan santai duduk di sebuah motor sambil meminum segelas es teh.
"Diem lo!! Udah uang jajan gua abis, sekarang harus bersih-bersih! Lo mending jangan minum disini!! Kek setan lagi godain manusia, tau?!" Derik membuang kasar sekantong sampah yang dipegangnya.
"Kalian haus? Nih, Valen yang beliin." Amelia dan Anisa datang. Masing-masing dari mereka membawa nampan, milik Amelia berisi beberapa gelas es sedangkan milik Anisa berisi gorengan.
"Hah?! Lo yang beliin?!" Tanya Tomi agak terkejut.
"Anggap sebagai permintaan maaf aku, ini buat kalian." Jawab Valencia.
"Kalo kalian udah selesai langsung cuci tangan, harus pakai sabun!" Amelia meletakkan nampannya di sebuah bangku begitu juga dengan Anisa.
"Ga perlu lo suruh!" Tomi dan Derik langsung berlari secepat kilat menuju tempat cuci tangan sedangkan Rian yang dari tadi tak mengeluarkan suara hanya berjalan santai.
"Baca do'a dulu woi!!!" Amelia menyentil kepala Derik.
"Shh.... jangan nyentil juga kali! Sakit tau?! Dasar ibu-ibu tukang marah!" Derik meringis sambil mengusap kepalanya yang sebenarnya tak sakit.
"Heh, aku ga pakai tenaga! Dasar 4l4y!!" Ketus Amelia
"Apa tuh 4l4y?" Tanya Anisa.
"Alay sayang... " Jawab Valencia dengan suara sangat lembut seperti suara kuntilanak.
"Uhuk uhuk uhuk!! Heh, lo jangan ngagetin gua dong! Kek mak kunti, tau?!" Rian yang sedari tadi diam melayangkan protes.
"Lo mau gua hajar???" Tanya Valencia sambil memainkan jari-jarinya.
"Lo... lo itu kan cewek, ga bisa apa punya sifat cewek walau cuma sedikit?" Nyali Rian dalam sekejap langsung ciut melihat tatapan Valencia yang seperti ingin memakannya.
"Cih, pengecut!" Valencia lanjut memakan gorengannya.
"Suami takut istri, hahaha!" Derik si teman tanpa akhlak tertawa.
Buk!!!
__ADS_1
"Woi!! Lo itu sumo ato apa?!" Derik yang kesakitan karena dibanting oleh Valencia langsung ngesot dan bersembunyi di belakang Rian.
"Mau ngomong apa lagi, sayang~~~" Tanya Valencia dengan suara lembut dan menyeramkan.
"Lo... lo... se.... setan!!! Mama!!! Ada setan!!!!" Teriak Derik ketakutan.
Plak!!!
"Lo temen siapa?! Bukannya bantuin nge rukiyah Valencia yang kerasukan malah gua yang lo gampar!!!" Protes Derik sambil mengusap pipi kuning langsat yang bersih tanpa bekas jerawat itu.
"Udah dikasih makanan ama minuman bukannya terima kasih malah ngehina!! Lo masih cowok?!" Tanya Rian dengan nada agak sedikit tinggi. Dia tak berani menentang Valencia setelah melihat Derik yang dibanting tadi, Valencia menyeramkan ketika menyerang.
"Idih, bilang aja lo takut sama si Valen!" Celetuk Tomi yang bersembunyi di belakang Amelia, dia juga takut setengah mati.
"Lo masih punya harga diri?" Tanya Anisa pada Tomi dengan tatapan sinis dan wajah datarnya.
"Pengecut semua! Hadeh.... cowok apa kalian ini!?" Valencia meminum habis es teh milik Amelia.
"Es gua itu ban***t!!!" Amelia memukul bahu Tomi dengan sangat sangat kuat membuat Tomi meringis kesakitan.
"Dia yang minum kenapa gua yang sengsara..... Tuhan.... tak adakah yang kekuatannya normal disini????" Tomi ngesot ikut bersembunyi di belakang Rian.
"Auah, aku mau pulang. Kalo kalian udah selesai barang-barangnya langsung kasih ke warung depan, papay!!" Valencia tersenyum dan pergi begitu saja karena sudah ditunggu supir di depan sekolah.
"Cantiknya....." Ketiga murid laki-laki itu tak berhenti menatap Valencia.
"Dasar cowok! Liat cewek cantik aja langsung lupa ama sakit!!" Sewot Amelia.
"Aku juga mau pulang, kalian balikin gelas sama nampannya, oke?" Anisa mengambil tasnya dan ikut pergi.
"Ini tugas terakhir, silahkan ker-ja-kan!!" Amelia ikut kabur.
"Rik, lo yang balikin! Cepat!!" Perintah Rian.
"Lah? Kok gua?!" Derik menunjuk dirinya sendiri.
"Karna lo kang nebeng, kalo lo ga balikin gua ga akan anter lo pulang." Jawab Rian santai sambil berjalan menuju motornya.
"Ho'oh, buruan sana! Ntar lo pulang jalan kaki loh kalo telat!" Tomi mengikuti Rian dari belakang dan duduk di atas motornya yang terparkir disebelah motor Rian.
"Cih! Temenan hampir 4 tahun, tapi ga mau bantuin hal sepele!" Derik mengambil gelas dan nampan yang agak berserakan dan mengembalikannya ke warung.
__ADS_1
"Kita tunggu di depan gerbang!" Rian menyalakan motornya.
"Bu, ini gelas sama nampan yang tadi." Derik menaruh bawaannya di atas meja.
"Temen cewek cantik yang tadi, ya?" Tanya si ibu.
"Iya." Jawab Derik singkat.
"Eh, tunggu! Ini ada titipan!" Ibu itu langsung menghentikan Derik yang hendak pergi.
"Titipan?" Derik heran.
"Iya, tadi dia beli gorengan sama roti lagi sebelum pulang. Dia suruh bungkus aja terus nanti kasih ke cowok yang ngantar gelasnya. Ini makanannya, Dek." Si ibu memberikan sekantong penuh makanan.
"Va... Valencia yang beliin?" Tanya Derik.
"Iya, cucu keluarga Chandra itu loh! Dia yang beliin, katanya kasian ama temen-temennya yang lagi kena hukum bersih-bersih." Jawab si ibu lagi.
"Ma... makasih, bu!" Derik langsung mengambil kantong plastik berisi makanan itu dan membawanya pergi.
"Wuih? Apaan tuh?" Tanya Tomi yang melihat Derik membawa sebuah kantong.
"Makanan dari Valencia, mau?" Tanya Derik.
"Ga ah, tadi udah makan banyak!" Tomi menolak.
"Lo mau, Yan?" Tawar Derik pada Rian yang sedang menyisir rambutnya menggunakan tangan sambil melihat ke kaca spion.
"Kagak, udah kenyang! Lagian kalo gorengan doang gua bisa beli sendiri." Jawab Rian yang masih fokus dengan kegiatannya.
"Berarti ini buat gua semua, dong?" Derik agak senang.
"Ho'oh! Ambil aja!" Tomi menyalakan motornya.
"Yes!!!" Derik duduk di belakang Tomi.
Sebelum pergi Valencia memberikan sebuah kode agar yang mengantarkan gelas adalah Derik, Tomi dan Rian yang tak tau apa rencana Valencia hanya mengikuti saja. Setelah melihat barang yang dibawa Derik akhirnya mereka tau jika Valencia sudah menyelidiki mereka bertiga dan tau keadaan Derik. Dia bisa masuk ke sekolah elite itu berkat usaha dan kerja kerasnya yang berlajar dengan sangat giat sambil bekerja paruh waktu di malam hari.
"Ternyata emang ga semua anak orang kaya beda sama gua dan Tomi, masih ada juga yang punya kebaikan. Valencia cucu dari keluarga terkaya di negara ini punya hati yang baik dan ga lemah ataupun manja, memang jarang ditemui di negara ini." Batin Rian sambil mengendarai motornya, tanpa dia sadari dia tersenyum ketika mengingat Valencia.
Bersambung.....
__ADS_1