KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Penyakit Rian vs Michael


__ADS_3

Menjelang malam


"Lepasin dia!!!!" Michael berusaha melepaskan tangan Rian yang terus menggenggam tangan adiknya.


"Ga!!!" Rian makin mempererat genggamannya.


"Aw! Sakit hoi!" Pekik Valencia.


"Heh, sadar dong lu tuh cowok! Ga sopan banget sama cewek! Cepat lepasin!" Michael menarik tangan Valencia dengan kuat.


"Jadi kakak ga bisa ngebiarin adek dewasa ya?! Sampai kakak kawin juga dibawa nih Valencia?" Tanya Rian meninggikan suaranya.


"Aduh..... kalian nih ribut banget sih! Kapan aku bisa pulang kalau kalian debat mulu?!" Kesal Valencia.


"Manusia satu ini yang bikin kamu ga bisa pulang!" Ketus Michael sambil menunjuk-nunjuk Rian dengan tatapan kesal.


"Rian!!! Lepasin Valencia SE-KA-RANG!!!!" Geram Nandini yang sudah sangat lelah menangani tingkah aneh Rian.


"Ga mau!!" Bantah Rian.


"Lepasin dia atau ku potong tanganmu!" Ancam Michael, dia benar-benar marah.


"Potong aja kalau berani!" Tantang Rian.


"Ambilkan pisau memotong daging, kalau ada kapak jauh lebih baik!" Perintah Michael pada Nandini.


"Hm.... gimana kalau kita potong kakinya juga?" Saran Nandini.


"Bagus juga, dengan begitu dia ga akan ganggu Valencia lagi. Cepat ambil kapaknya, aku mau bawa adikku pulang secepatnya." Ucap Michael menyetujui saran Nandini.


"Ma!!! Ada orang jahat!!!" Teriak Rian.


"Banyak bacot lu jadi laki! Lu transgender?!" Teriak Michael ditelinga Rian.


"Lu tuh yang transgender! Semua laki-laki di keluarga lu transgender!" Balas Rian tak kalah nyaring.


"Lu yang transgender!! Lu pencinta sesama jenis makanya ngelakuin transgender! Lu transgender!!!" Balas Michael.


"Lu yang transgender!!!!!!" Teriak Michael dan Rian bersamaan hingga keributan semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


"DIAM!!!!!!!" Teriak Valencia menghentikan mereka yang sedari tadi membuat gendang telinganya hampir pecah.


"Masih belum selesai juga berantemnya?" Tanya Mama Rian yang benar-benar sudah pusing.


"Gendang telinga aku udah mau pecah gara-gara kalian! Ga malu apa sama tetangga sebelah?! Udah mau malam masih aja ribut, mau dilaporin ke polisi gara-gara bikin tetangga risih?!" Bentak Valencia pada dua orang itu.


"Dia yang ga sopan!! Cowok tapi kelakuannya ga mencerminkan sifat menghargai cewek! Udah main genggam seenaknya, tadi juga main peluk sekuat itu! Kakak ga akan biarin kamu dekat sama dia lagi!" Bela Michael.


"Lu aja yang terlalu overprotective sama dia!" Balas Rian.


"Wajar karna gua harus ngelindungin dia! Cuma gua yang bisa dia andalkan! Lu orang luar dan ga punya hubungan apa-apa sama dia mending ngejauhin dia!!" Balas Michael.


"Berhenti!!!!! Kalian ini apa-apaan?! Umur kalian berapa?! Lima tahun?! Tiga tahun?! Bisa ga sih kalian itu ngomongnya baik-baik?! Bisa ga kalian ga bikin berisik?! Bisa ga kalian itu ga bikin orang tambah pusing?! Ga bisa ya bikin suasana tenang semenit aja?! Kalo udah ketemu selalu berantem! Kalian mau disiram pake air keras biar puas?!" Omel Devina (Gu An) yang baru saja tiba dan langsung mendengar keributan.


"Kamu ke sini pakai apa?" Tanya Michael yang terkejut saat Devian muncul tiba-tiba.


"Pakai ojek! Kenapa?! Salah?! Ga mau aku ada disini?! Ga suka?!" Tatapan mata singa dan suara Devina yang menggelegar sukses membuat nyali kedua orang itu ciut.


"Akhirnya datang! Aku bisa gara-gara mereka!" Valencia menyenderkan kepalanya di sandaran sofa.


"Valencia, ikut aku pulang!" Perintah Devina.


"Ga baik kalau kamu ga pulang malam ini." Ucap Devina.


"Rian.... izinin aku pulang, ya?" Mohon Valencia.


"Ga!" Tolak Rian mentah-mentah.


"Tolong.... aku harus pulang hari ini. Aku janji besok datang nemenin kamu, beneran!" Valencia mulai bernegosiasi.


"Ga! Ga boleh! Aku ga akan bisa tidur kalau kamu ga pulang!" Rian masih menolak.


"Ya udah, aku temenin kamu sampai tidur. Aku akan tetap disini sampai kamu tidur, baru aku pulang, gimana?" Tawar Valencia.


"Em...." Rian nampak menimbang-nimbang tawaran Valencia.


"Gimana?" Tanya Valencia dengan penuh harapan Rian akan setuju.


"Ya udah, tapi besok pagi harus datang!" Ucap Rian.

__ADS_1


"Iya iya aku janji!" Ucap Valencia mengangguk senang.


Dengan kesepakatan yang telah dibuat, akhirnya Valencia bisa merasakan kebebasan setelah seharian menjadi tawanan. Meski sedikit tak rela Michael tetap menunggu sampai Rian tidur, dia menunggu sambil berbincang ringan dengan Nandini dan Devina.


Setelah sekian lama akhirnya Rian merasa mengantuk, Valencia menemani dia sampai tertidur. Setelah Rian tidur Valencia tak langsung pergi, dia menunggu sampai Rian benar-benar tertidur pulas.


"Valen, ada sesuatu yang mau Tante omongin sama kamu." Ucap Mama Rian.


"Apa?" Tanya Valencia.


"Sebenarnya.... Rian pernah kayak gini sebelumnya." Ucap Mama Rian.


"Udah pernah kayak gini? Kenapa?" Tanya Valencia.


"Dulu.... Rian dekat dan sayang banget sama kakek neneknya, setiap hari pasti main bareng. Rian ga pernah mau jauh dari mereka, kemana-mana pasti ikut." Ucap Mama Rian mulai menjelaskan.


"Sampai suatu hari... mereka bertiga ngalamin insiden mengerikan. Waktu itu rencananya mau jalan-jalan ke taman bermain, tapi di tengah jalan mobil mereka ditabrak truk tangki. Rian terlempar keluar mobil tepat setelah mobil oleng, dia langsung digendong pengendara lain untuk ngejauh dari lokasi kejadian. Ga lama setelah itu.... mobilnya meledak, kakek nenek Rian ga bisa diselamatkan. Rian yang ngeliat langsung kejadian itu syok berat, dia ga makan, minum, atau ngomong berhari-hari. Setelah berjuang beberapa lama akhirnya dia perlahan-lahan mau makan, perlahan-lahan mau ngobrol sama orang lain. Kata psikiater dia ga boleh kena tekanan berat lagi karna hal yang sama bisa terulang kembali." Mama Rian mengakhiri ceritanya.


"Jadi itu alasan kenapa Rian tiba-tiba berubah sifat gini?" Valencia memandangi Wajah Rian yang tertidur pulas seperti anak kecil.


"Tante minta maaf karna kamu harus ngalamin hal yang ga enak gini, Tante bener-bener minta maaf!" Ucap Mama Rian menggenggam tangan Valencia.


"Iya, ga papa. Ini udah malam, aku harus pulang." Valencia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10.30 malam.


"Ya udah, hati-hati dijalan." Ucap Mama Rian.


"Iya, Tan." Valencia pergi setelah mencium tangan Mama Rian.


Ruang tamu


"Udah selesai?" Tanya Michael yang melihat Valencia menghampirinya.


"Iya, udah." Jawab Valencia.


"Kalau gitu kita pulang sekarang." Ucap Devina.


"Ini udah malam, kalian hati-hati dijalan." Ucap Nandini.


"Iya, kita pamit dulu." Ucap Valencia.

__ADS_1


Diperjalanan Michael terus mengoceh tentang Rian, nampak sekali dia sangat tidak menyukai sifat Rian yang seperti itu. Valencia menjelaskan tentang keadaan Rian pada Michael, setidaknya dia sudah bisa sedikit mengerti meskipun masih kesal.


__ADS_2