KEMBALINYA SANG AKTRIS

KEMBALINYA SANG AKTRIS
Remaja Merindu


__ADS_3

"Kakak, apa kau tak pernah merindukan paman dan Zhishu?" Tanya seorang gadis cantik yang usianya sekitar 16 tahun.


"Tidak!" Jawab remaja laki-laki disampingnya yang sedang berbaring diatas tanah sambil memandangi langit cerah.


"Hm? Kau yakin?" Tanya gadis itu lagi.


"Ini sudah 14 tahun, kau masih menanyakan pertanyaan yang sama?" Remaja laki-laki itu mengambil posisi duduk.


"Mereka adalah ayah dan adik perempuanmu satu-satunya, bagaimana bisa kau tak pernah merindukan mereka?" Gadis cantik tadi mengeluarkan sebuah belati dan memainkannya.


"Gu An, sebagai anak laki-laki aku harus menjadi orang yang kuat! Jika aku memperlihatkan kesedihanku, aku pasti akan lemah. Sebagai seorang putra yang diminta untuk menjaga ibunya, bagaimana bisa aku menjadi orang yang lemah? Perasaan sedih karena kehilangan selama ini harus bisa aku tutupi. Walaupun aku selalu merindukan mereka, aku pernah bertemu dengan mereka 8 kali sebelumnya dan itu sedikit mengobati rasa rindu ini." Minghao mengangkat tangannya mencoba menggapai langit.


"Kau sangat hebat! Diluar kau tampak tak perduli dengan kepergian mereka, tapi sebenarnya kau merasa sangat kehilangan. Ini sudah 14 tahun, kapan misi bibi selesai dan kalian bisa bertemu kembali?" Gu An yang tadi duduk mendaratkan kepalanya di paha Minghao.


"Entahlah, mungkin sebentar lagi akan selesai? Tapi.... apa kau tak masalah jika aku ikut pergi juga?" Tanya Minghao.


"Keluarga lebih penting dari kekasih, apa kaau mengerti?" Gu An menutup matanya.


"Aku mengerti, sangat mengerti. Oh ya, apa pangeran kecil sudah selesai dengan pelajarannya?" Minghao menutupi sinar matahari yang membuat Gu An merasa silau.


"Aku rasa sebentar lagi, mau langsung mengunjunginya?" Gu An membuka matanya dan menatap Minghao.


"Em... ayo! Kita harus terus melindungi pangeran dan putri!" Minghao mengangkat kepala Gu An yang sejak tadi bersandar di pahanya.


"Rapikan dulu rambutmu itu! Sangat berantakan seperti orang gila!" Gu An dengan sengaja mengacak-acak rambut Minghao, rambut panjang itu kini semakin berantakan.


"Dasar kau anak nakal! Entah bagaimana aku bisa menyukaimu!" Minghao merapikan rambutnya dibantu Gu An.


"Apa kau selalu merindukan mereka?" Tanya Gu An sambil terus berjalan menuju ruang belajar pangeran.


"Setiap saat, aku selalu merindukan mereka. Terakhir kali kami bertemu dalam mimpi adalah 3 tahun lalu, bagaimana bisa aku tak merindukan mereka? Aku akan menjadi orang tanpa hati jika tak merasakan ini!" Jawab Minghao.


"Bagaimana dengan bibi? Apa dia juga sangat merindukan paman dan Zhishu?" Tanya Gu An lagi.


"Jika ibuku tak merindukan mereka, dia tak akan menjadi seperti sekarang. Selama 14 tahun ibu tak pernah tersenyum sedikitpun didepan orang, aku bahkan hanya melihatnya sebanyak 8 kali. Ibu.... sangat merindukan mereka." Jawab Minghao sedikit memperlambat langkah kakinya.


"Minghao sangat hebat dalam menyembunyikan perasaan!!" Kata Gu An sambil menepuk-nepuk bahu Minghao.


"Tentu saja! Aku adalah Minghao! Pria yang sangat hebat dan luar biasa! Karena itu kau bisa menyukaiku! Juga hanya aku yang bisa menerima sifat burukmu itu!" Kata Minghao bangga.


"Terlalu memuji diri sendiri, sangat sombong!" Han muncul tiba-tiba dan memukul kepala belakang Minghao.

__ADS_1


"Auch... paman, sakit!" Minghao mengusap-usap kepalanya yang sakit.


"Pangeran akan segera selesai, cepat pergi!" Perintah Han.


"Dasar paman kejam!" Ketus Minghao lalu langsung pergi secepat mungkin ke ruang belajar pangeran.


Sebelum sampai ke ruang belajar mereka melihat selir Yao pergi ke suatu tempat secara diam-diam, akhirnya Minghao mengikuti selir Yao sementara Gu An pergi menemui pangeran untuk 'bermain' bersama.


Dimensi lain


"Ibu, kakak, apa kalian baik-baik saja di sana?" Valencia yang sedang duduk di dalam kelas nampak lesu.


"Valen, kamu kenapa?" Tanya seseorang yang berdiri di depan tempat duduk Valencia.


"Ga papa, cuma lagi rindu sama ibu dan kakak." Jawab Valencia lesu.


"Sampai sekarang belum ketemu, ya?" Gadis tadi mengambil kursi dan duduk di depan Valencia.


"Em.... mungkin sebentar lagi. Kita udah pisah selama 14 tahun, aku ga tau gimana keadaan mereka sekarang. Waktu kecil kakak pasti ngelindungin aku walaupun sering usil, rindu yang menyiksa." Valencia mengingat-ingat memori masa kecil.


"Oh iya! Kamu kan cantik, em... kalo kakak kembar kamu ganteng ga?" Tanya Teman Valencia tadi, Amelia.


"Hiss.... kalo punya tenaga jangan buat nyakitin sahabat, dong!" Amelia meringis kesakitan.


"Lagian, temen lagi rindu ibu sama kakaknya kamu malah mikirin ganteng apa ga!! Masih mending cuma aku sentil, belum aku banting!" Ketus Valencia.


"Menurut foto yang aku lihat dari internet, ibu kamu itu cantiiik banget. Terus aktingnya juga keren banget! Multitalenta! Anggun, berwibawa, terus ramah banget. Tapi aslinya tuh gimana sih?" Tanya Amelia.


"Anggun? Berwibawa? Belum pernah lihat evolusi dari kucing jadi macan?" Pikir Valencia.


"Jawab woi!!!" Teriak Amelia tepat di telinga Valencia membuat sang pemilik terkena serangan jantung.


"Ga usah teriak juga kali!!!!" Valencia balas meneriaki Amelia.


"Makanya kalo orang nanya tuh dijawab!!" Amelia mengusap telinganya begitu juga dengan Valencia.


"Ibu itu jauh lebih cantik dari foto dan video yang ada di internet. Kalau soal anggun dan berwibawa..... agak sedikit gimanaaaa gitu. Kalo lagi kesal, sedih, atau banyak pikiran, pasti banyak makan sampai lupa dunia. Porsi makan nambah drastis sampai susah disuruh berhenti, makan kayak lagi lomba makan sama raksasa rakus. Tapi ibu memang murah senyum dan sabar, asal ga lagi marah aja." Jawab Valencia sambil mengingat bagaimana sifat ibunya dalam menghadapi beberapa situasi.


"Maksudnya ibu kamu itu bobrok?" Tanya Amelia.


"Kurang lebih gitu deh. Ibu juga gampang dikerjain, kami sering banget ngerjain ibu. Pernah satu temen kami ngerjain ibu pas lagi di sawah, ibu jatuh ke lumpur sampai seluruh badannya kotor. Hahaha...." Valencia tertawa, hanya saja dia tak kuat menahan air matanya. Amelia bangkit dari duduknya dan memeluk Valencia, dia tau sahabatnya itu sedang sangat bersedih karena merindukan ibunya.

__ADS_1


"Aku do'ain kalian bisa cepat kumpul lagi, cepat saling berbagi cerita, cepat saling berbagi cinta." Amelia mengusap punggung Valencia, dia berusaha untuk menenangkan hati sahabatnya itu.


"Aku rindu ibu.... hiks... hiks.... huaa..." Valencia menangis sampai membuat teman sekelas lainnya langsung menoleh ke arah mereka.


"Mel.... aku mau ketemu ibu.... mau ketemu kakak.... Aku ga tau sekarang keadaan mereka gimana, mereka pasti ngalamin banyak hal sulit selama ini.... hiks... hiks..." Air mata Valencia terus mengalir tanpa henti, tanggul terlanjur jebol.


"Iya iya... kalian pasti bakal ketemu lagi, kok. Kamu harus tetap yakin kalo ibu kamu masih ada kesempatan untuk kembali ke sini. Ibu sama kakak kamu pasti rindu sama kamu juga." Amelia mengeratkan pelukannya.


"Hm.... kalo mereka ga rindu sama aku bakal aku suruh mereka habisin cabe satu ton!!" Valencia terus menangis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anggota keluarga Chandra:


1. Tuan & nyonya Chandra, 76 & 75 tahun


2. Andrew Chandra & istrinya Zalikha, 57 & 56 tahun


3. Justin Chandra, 56 tahun


4. Anindya Chandra, 53 tahun


5. Shifa Chandra & suaminya Felix, 52 & 53 tahun


6. Calvin Chandra, anak Andrew, 39 tahun


7. Sandrina Chandra/Gea, anak Andrew, 35 tahun


8. Mita Chandra, anak Justin, 31 tahun


9. Gio Chandra, anak Anindya, 24 tahun


Istri Justin meninggal saat melahirkan Mita sementara suami Anindya adalah seorang polisi, dia meninggal karena tertembak saat melakukan penyergapan bandar narkoba. Shifa dan Felix tak dikaruniai anak.


Tuan Chandra sebenarnya sudah diminta untuk pensiun di usia 60 tahun, namun dia meneruskan sampai usia 70 tahun. Saat ini perusahaan Chandra dipimpin oleh anak-anak dan cucu-cucu mereka di berbagai negara yang berbeda, Alvian sekarang ini diperintah untuk memimpin perusahaan di dalam negeri.


Andrew dan Justin menikah di usia 18-19 tahun, Shifa dan Anindya menikah di usia 20 tahun. Mereka semua menikah muda kecuali Rein.


Oke!!! Author pusing kebanyakan tokoh, jadi setelah 14 tahun akhirnya di kediaman Chandra cuma ada tuan dan nyonya Chandra, Rein, Vivian, Valencia, Alvian beserta istrinya dan 2 anaknya. Pelayan juga ada walau tinggal kepala pelayan dan beberapa pelayan lain.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2