
Pagi hari
"Mhh...." Valencia melenguh, matanya sembab.
"Udah bangun? Hoam...." Tanya Michael yang baru saja bangun sambil menguap.
"Kak? Kakak semalaman jaga?" Tanya Valencia.
"Bukan aku, tuh, si cicak cacingan yang jagain semalam sampai tidur di lantai." Jawab Michael sambil menunjuk Rian yang tengah tertidur lelap di lantai beralaskan karpet.
"Rian? Ngapain dia nungguin semalaman?" Tanya Valencia bingung.
"Ngapain nanya? Bukannya gara-gara kamu?" Michael menaruh sepatunya di atas sofa, begitu juga dengan kaus kaki pembunuhnya.
"Hoi!!! Turunin tuh sepatu ama kaus kaki!! Barang kotor di taruh di atas sofa, dasar ga punya sifat kebersihan!! Cepat turunin atau aku patahin tuh kaki!! Cepat!!" Omel Valencia dengan suara nyaring sampai Rian terbangun.
"Kenapa ribut pagi-pagi gini?" Tanya Rian dengan suara serak. Rian baru bisa tidur jam 5 pagi setelah Valencia melepas genggamannya, tapi baru tidur dua jam dia dipaksa bangun oleh omelan seseorang.
"Nah, bangun tuh orang! Gara-gara kamu tuh! Ngomel mulu tiap hari, dasar emak-emak!" Michael dengan santai menginjakkan satu kakinya yang sudah terpasang sepatu disofa, dia sengaja memancing amarah Valencia.
"Hoi!! Ngerti bahasa manusia kagak?! Turunin tuh kaki! Aku putusin tuh kaki ama junior mau?! Cepat turunin!!!!" Valencia turun dan langsung mengejar Michael yang berlari keluar padahal sebelah kakinya hanya terpasang kaus kaki.
"Keliatan ga perduli dan suka cari masalah, padahal sebenarnya sayang banget. Kak Michael sengaja ngajak ribut pagi-pagi supaya Valen lupa sama kejadian kemarin untuk sementara waktu, andai kakak aku gitu juga." Ucap Rian lalu menyusul kakak-adik yang sedang bertengkar dan saling kejar tadi.
......................
"Valen! Michael!" Panggil Calvin dengan suara nyaring saat tiba di kediaman Chandra.
__ADS_1
"Kak Calvin!" Valencia berlari dan langsung memeluk Calvin.
"Michael mana?" Tanya Calvin sambil mengusap rambut Valencia.
"Ada di dalam. Kakak bilang kita bisa ngelakuin upacara terakhir, semua udah ditemukan semalam." Jawab Valencia.
"Valen, kamu masih kuat?" Tanya Aila yang baru saja masuk sambil menggendong anak kecil dan menggandeng seorang remaja perempuan.
"Iya, kak, masih!" Jawab Valencia yakin sambil melepas pelukannya.
"Akhirnya kalian sampai, yang lain mana?" Tanya Michael menghampiri mereka.
"Mungkin sebentar lagi sampai, jalanan juga agak macet." Jawab Calvin.
Tin... tin!!!
Suara klakson mobil saling bersahutan seperti sedang konser, menandakan bahwa anggota keluarga Chandra yang lain sudah tiba. Tak lama setelah itu masuklah puluhan orang yang seluruhnya adalah anggota keluarga Chandra dari generasi ke generasi.
"Em.... udah semua." Jawab Calvin setelah menerawang sekelompok orang itu.
"Kalau malam-malam kita jalan kaki sambil bawa tongkat mungkin kita bakal dikira mau tawuran ama polisi, nih!" Ucap Renata sambil membawa nampan berisi gelas air minum.
"Pelayan lain mana? Kok malah kamu yang bawa minuman?" Protes Gea.
"Ga papa, lagian kita udah biasa." Kata Cassandra yang juga membawa nampan.
"Eh? Rian juga disuruh bawa nampan minuman? Bukannya dia tamu?" Tanya Alvian saat melihat Rian ikutan membawa nampan.
__ADS_1
"Ga papa, Om, lagian ga enak kalo saya cuma duduk santai." Jawab Rian.
"Mohon Michael, nih calon adek ipar lumayan juga. Andai Jeff cewek udah pasti aku jodohin sama dia!" Ucap Gea.
"Kalian mending jangan ngomong hal lain dulu, cepat siap-siap untuk upacara pemakaman." Sinis Valencia.
"Syukurlah dia udah bisa nerima kenyataan meskipun masih nyembunyiin rasa sedihnya." Batin Rian sambil tersenyum menatap Valencia. Oh, saat ini Rian mengenakan pakaian Michael karena pagi tadi dia disiram oleh Valencia yang hendak menyiram Michael tapi Michael berhasil menghindar. Untung saja hanya sedikit kebesaran, jadi tak memalukan.
......................
Upacara pemakaman dilakukan dengan lancar, meski tangis menghiasi setiap anggota keluarga. Hujan deras sempat mengguyur saat jenazah empat anggota keluarga Chandra dibawa dari rumah sakit, namun mereka semua yang kebanyakan menggunakan motor tetap melanjutkan perjalanan meski tubuh mereka seperti membeku.
"Ibu.... ayah.... kenapa pergi secepat ini? Dua minggu tak bertemu, malah berjumpa dengan cara ini." Valencia memandangi foto Vivian dan Rein yang terpasang di kamarnya, sejak tadi dia terus melamun disana.
"Valen...." Rian mengusap bahu Valencia dengan tatapan dan senyum memberi semangat.
"Rian... kenapa masih disini? Ga pulang?" Tanya Valencia sambil menghapus air matanya.
"Ada seorang teman yang membutuhkan dukungan, kenapa aku harus pergi?" Rian mengusap kepala Valencia. Meski lebih muda dua tahun, tetap saja dia lebih tinggi daripada Valencia.
"Kamu pulang aja, aku udah ga papa." Ucap Valencia sambil tersenyum.
"Bibir bisa berbohong dengan tersenyum, tapi tatapan mata ini tak pernah bisa menyembunyikan kesedihan yang ada." Ucap Rian yang tiba-tiba menjadi bijak.
"Sejak kapan bisa bijak kayak gini? Biasanya selalu gangguin orang, sekarang malah ngehibur pas lagi sedih." Valencia menarik telinga Rian pelan.
"Makanya jangan galak jadi orang, kan jadi sering dikerjain." Ucap Rian santai.
__ADS_1
"Ga mau debat sama orang gila." Valencia pergi.
"Ckckck, jangan sampai dia jadi adek ipar aku, bisa-bisa peringkat aku di hati Valen turun!" Batin Michael yang sejak tadi menguping.