
“Masih sakit?”
“Sedikit.”
“Coba sini aku lihat.”
“Apa?!” Zakira menatap tajam Alden.
Pria tampan itu menghembuskan napas kasar, berpindah duduk jadi di dekat Zakira. Dia juga menatap Zakira, tidak kalah tajam juga.
“Aku mau lihat. Kamu tidak dengar?” tanya Alden.
“Lihat apa? Jangan aneh-aneh, ya,” ancam Zakira.
“Cuma mau lihat, abis itu aku obati,” ujar Alden.
“Nggak perlu, sebentar lagi juga sembuh.”
“Ya udah, terserah kamu.”
Alden kembali memasukkan barang-barang yang akan Zakira bawa. Keduanya sudah sepakat akan langsung pergi ke rumah orang tua Alden. Daren dan Dera pun setuju.
Selesai memasukkan semua, Alden kembali mendekati Zakira yang sedang bermain ponsel. Wanita itu kelihatan begitu fokus pada ponselnya, sampai kedatangan Alden tidak diketahui. Tanpa pikir panjang Alden langsung mengambil ponsel sang istri, lalu menyimpan di saku celana.
“Alden!”
“Kenapa? Mau protes?” tanya Alden dingin.
__ADS_1
Nyali Zakira menciut, dia menggeleng seraya bangkit. Tatapannya tidak lepas dari wajah Alden, Zakira mengakui pria itu sangat tampan.
“Siap-siap, gih. Setelah itu kita turun makan siang bersama lebih dulu,” titah Alden sambil mengusap lembut rambut Zakira.
Sang istri dibuat melongo dengan perlakuannya, jarang sekali Alden berlaku seperti itu. Zakira mengangguk dengan senyum mengembang.
“Iya, suamiku,” jawab Zakira.
“Pintar.”
🌺🌺
Zakira dan Alden pamit pada kedua orang tua Zakira. Mereka akan langsung berangkat ke rumah orang tua Alden. Niatnya, mereka akan menginap satu malam setelah itu baru tinggal di apartemen yang sudah Alden siapkan.
Zakira menurut saja, karena dia tahu kodrat seorang istri adalah selalu ikut kemana pun suaminya pergi. Selama dalam perjalanan, Zakira tidur terus karena sangat mengantuk. Hampir setengah jam, mobil yang dikemudi Alden memasuki halaman rumah orang tuanya.
“Maksud kamu apa? Alden sudah menikah, dan dia sangat mencintai istrinya!”
“Aku tidak peduli! Bukannya sudah kukatakan, bahwa aku sudah menjodohkan Alden dengan pilihanku!”
“Tapi dia tidak mencintai perempuan itu! Seharusnya kamu jangan memaksa!”
Teriakan demi teriakan yang terdengar dari dalam, membuat Zakira terbangun. Wanita itu mengucek matanya berulang kali, menetralkan penglihatan pada cahaya yang tertangkap mata.
Setelah jelas melihat, Zakira terus menatap wajah Alden yang memerah. Urat-urat pria itu kelihatan, tatapannya pun setajam tatapan elang, membuat Zakira takut.
“Alden,” panggil Zakira pelan.
__ADS_1
Alden langsung menoleh, menatap Zakira dalam. Lalu dia mencoba menetralkan emosi yang telah berapi-api, demi tidak membuat Zakira takut. Sebab, dapat Alden lihat wanitanya ketakutan saat memanggil dia.
“Kamu sudah bangun?” tanya Alden dengan suara lembut.
“Humm. Turunkan aku,” pinta Zakira. Alden langsung menurunkannya.
Wanita cantik itu melihat sekitar, seketika dia langsung terkejut dengan mulut menganga. Kelihatan sangat lucu di mata Alden.
“Kita sudah sampai? Kamu kenapa nggak bangunin aku?” cecar Zakira.
“Kamu tidur,” jawab Alden.
Saat Zakira akan mengetuk pintu, suara benda jatuh membuatnya kaget dan langsung berbalik memeluk Alden. Setelah benda jatuh, disusul dengan makian seseorang dari dalam.
“Aku tetap akan menjodohkan Alden! Aku tidak peduli! Kamu dengar, aku tidak peduli!”
Zakira menatap Alden bingung. Sedangkan yang ditatap, memeluk erat Zakira seraya mengecup puncak kepala wanita itu berulang kali.
“Alden ...,” lirih Zakira.
“Sttt... jangan khawatir.”
__ADS_1