Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Season 2: 4


__ADS_3

Meminta Zanira datang, ternyata mamah Arfan akan mengajak mereka fitting baju buat tunangan. Wajah kedua perempuan itu tampak semringah, sedangkan Arfan ikut saja dengan wajah sedikit ditekuk.


Sebelum perjodohan ini benar-benar terjadi di antara keduanya, sempat terjadi perdebatan antara Arfan dan mamahnya. Bukannya tidak menghormati orang tua, tetapi Arfan punya hak untuk memilih pasangan hidup sendiri.


Sayangnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa saat mamah membawa-bawa harta warisan dan perusahaan. Jujur, Arfan tidak bisa hidup tanpa harta. Dia yang sedari kecil sudah dimanja, akhirnya ketergantungan pada uang dan kekuasaan.


“Ayo kamu juga cobain tuxedonya, biar samaan dengan Zanira juga,” perintah mamah, Arfan mengangguk saja.


Dengan lesu dia masuk ke ruangan ganti, memakai pakaian yang sudah dipilihkan oleh pelayan butik. Arfan hanya tersenyum simpul saat Zanira memujinya. Sebagai teman yang baik, Arfan juga memuji meski hati kecilnya sangat kesal.


“Kita lanjut ke mal, ya? Mamah mau ajak calon menantu shopping,” ujar mamah.


Lagi-lagi Arfan menurut. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Biarlah orang bilang dia berada di bawah ketek sang mamah, memang begitu benarnya.


**


Sekembalinya dari butik, Zakira langsung menuju kamar. Badannya sudah terasa lengket, butuh berendam agar lebih fresh. Mungkin, dengan berendam dia bisa menghilangkan perasaan sakit hati, dan mencoba lebih ikhlas lagi.


Andai Zakira orang yang egois, sudah pasti dia tidak akan membiarkan Zanira yang dijodohkan dengan Arfan. Namun, kembali lagi pada kebahagiaan adiknya. Zakira selalu mengutamakan itu.


Puas berendam, Zakira membilas tubuhnya dan membalut dengan handuk. Dia keluar dari kamar mandi, memakai pakaian dan lekas turun ke bawah untuk membuat makan malam.


“Kamu pasti capek, Sayang. Jadi, biar Bunda saja yang membuat makan malam,” tukas Dera. Dia tidak tega melihat wajah Zakira. Meski sudah mandi dan sedikit fresh, tapi gurat kelelahan tetap tampak di sana.


“Tapi nanti Mamah capek,” ujar Zakira.

__ADS_1


“No. Bunda sejak tadi pagi di rumah terus, mana mungkin bisa capek.” Dera tertawa singkat.


Zakira mengangguk saja, mengikuti permintaan sang bunda. Sambil melihat aktivitas bunda, Zakira terus-menerus melirik ke arah jam tangan yang ada di pergelangan. Dia sangat khawatir karena Zanira belum kembali, padahal waktu sudah hampir malam.


“Kak,” panggil Dera. Zakira yang sedang fokus pada jam, menoleh.


“Iya, Bun?”


“Maaf, ya, kalau misalnya Bunda ada salah sama Kakak,” ujar Dera. Tangannya tetap giat memotong wortel, tetapi matanya sesekali melihat ke arah Zakira.


“Bunda ngomong apa, sih? Bunda, tuh, nggak pernah punya salah sama Kira. Harusnya Kira yang minta maaf, mungkin secara tidak sengaja ucapan Kira ada yang melukai Bunda.”


Zakira mendekati Dera, memeluk tubuh wanita itu dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu sang bunda.


“Jangan minta maaf lagi, Bun. Selama dua puluh empat tahun, Bunda nggak pernah ada salah sama Kira,” ujar gadis itu.


**


Akhirnya, keduanya resmi bertunangan. Daren meminta tamu-tamunya untuk menikmati hidangan, sedangkan dia memilih berkeliling karena ada yang harus dia cari.


Putri sulungnya tidak terlihat, Zakira tidak ada di sana dari awal sampai acara hampir selesai. Daren khawatir, dia memilih keluar dari ruangan dan menuju lobi hotel. Daren menghampiri meja resepsionis untuk bertanya.


“Apakah Anda melihat gadis ini?” tanya Daren sambil menyodorkan ponselnya yang menampilkan foto Zakira.


“Oh, iya, Pak. Tadi saya melihatnya jalan keluar,” ujar resepsionis itu.

__ADS_1


“Baiklah, terima kasih.”


“Sama-sama.”


Daren pergi menuju luar hotel. Kekhawatirannya semakin bertambah, apalagi mengingat tatapan sendu Zakira. Daren cukup paham dengan perasaan gadis itu.


Taman. Daren baru ingat kalau Zakira sangat menyukai taman. Berhubung di belakang hotel ada taman, langsung saja dia menuju ke sana. Dan saat itulah dia bisa melihat seorang gadis dengan dress putih tulang, sedang duduk di salah satu bangku.


“Ayolah, hati. Kumohon, ikhlas.”


Suara itu, terdengar serak dan sendu. Hati Daren mencelos, dengan langkah pelan dia menghampiri putrinya.


“Pernah dengar kata-kata ini, kan? Yang menurutmu baik, belum tentu baik menurut Tuhan. Dan yang menurutmu buruk, belum tentu buruk juga menurut Tuhanmu.”


“Ayah!”


“Tidak apa, Nak. Menangislah.”


Zakira sudah berada dalam pelukan Daren, menumpahkan air mata dan sesak yang sudah dia tahan sejak tadi. Dia ingin kuat, tetapi keadaan meminta untuk lemah.


 


 **


Maaf kalau banyak typo. Belum diedit.

__ADS_1


 


 


__ADS_2