
“Sepertinya kamu hamil, Nak.”
Mendengar Dera muntah-muntah kembali, ibu menghampiri, memijat tengkuk putrinya dengan sayang. Jam masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Dera terbangun karena ingin muntah dan berakhir di kamar mandi.
Ibu masih setia mengusap tengkuk Dera, membantu sang putri untuk mengeluarkan isi perutnya. Sedangkan Daren, pria itu di dapur membuat teh hangat. Dia pun sama khawatirnya dengan ibu, bahkan tidur saja tak tenang.
“Mana mungkin, Bu. Ini pasti cuma masuk angin aja,” jawab Dera. Tubuhnya sudah sangat lemas.
Daren datang membawa teh hangat, memberikan pada Dera agar segera diminum. Melihat istrinya yang begitu lemas, Daren merasa sangat kasihan.
“Pokoknya besok pagi-pagi Daren harus sudah beli tespek!” perintah ibu.
“Sekarang temani istrimu tidur, Dar.”
Ibu pergi meninggalkan Daren dan Dera. Pria yang duduk di tepi ranjang, merotasikan matanya pada sang istri.
“Sebenarnya ada apa, Sayang?” tanya Daren lembut. Jemarinya sudah membelai pipi Dera.
“Ibu bilang aku hamil. Padahal aku tuh cuma masuk angin, Mas.”
“Ya, sudah. Kalau gitu besok pagi-pagi Mas ke apotek,” ucap Daren.
“Ngapain?”
“Beli tespek,” jawab Daren.
“Mas!”
“Nggak ada salahnya dicoba, Sayang. Udah, ya, sekarang kamu tidur lagi.”
Daren segera membantu Dera berbaring. Menyelimuti dan memeluk tubuh sang istri dengan erat. Dera semakin merapatkan dirinya dengan Daren, menghirup dalam-dalam aroma mint yang menguar dari tubuh sang suami.
**
Sesuai permintaan ibu, Daren sudah membeli tespek. Langsung diberikan pada Dera agar segera dicoba. Ini pengalaman pertama untuk Dera, sejak tadi jantungnya terus berdebar tak karuan.
Dera keluar dengan memegang tespek yang belum dia lihat. Niatnya, Dera ingin Daren yang melihatnya saja. Dia langsung memberikan alat kehamilan itu pada sang suami.
“Mas aja yang lihat duluan,” kata Dera.
Tentu saja bukan hanya Dera yang gugup, Daren pun sama. Pasalnya ini pengalaman pertama bagi keduanya. Menghembuskan napas kasar, Daren terus melafalkan doa dalam hati. Dengan perlahan, dia melihat ke arah benda panjang yang berada di genggaman.
__ADS_1
“Ya Tuhan!” pekik Daren membuat Dera terkejut.
“Positif, Sayang! Positif, kamu hamil!”
Daren langsung memeluk Dera dengan erat, menciumi pucuk kepala wanita itu dengan air mata yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.
“M-mas ... beneran?” tanya Dera.
“Iya, Sayang. Lihat ini, garis dua.” Daren menunjukkan garis merah dua pada Dera, yang seketika membuat wanita itu menangis.
Lama mereka berpelukan, saling meluapkan kebahagiaan dengan Daren yang terus menciumi setiap inci wajah Dera. Sungguh mereka tidak menyangka akan diberi momongan secepat ini, apalagi umur pernikahan yang baru memasuki usia empat bulan.
“Nanti kita cek ke dokter kandungan, ya? Biar lebih akurat,” ajak Daren.
“Iya, Mas. Tapi agak siangan, ya? Soalnya kepala aku masih pusing.”
Jadilah Daren tidak masuk kerja hari ini. Dia menemani Dera ke dokter, memeriksa agar lebih akurat. Ternyata Dera benaran hamil, usia kandungannya masih dua Minggu.
Kabar tentang kehamilan Dera menjadi hal bahagia untuk Hamidah dan Vera. Mereka terus memeluk Dera sambil mencium kening Dera.
**
“Nggak. Memangnya Mas sudah sanggup, kalau aku ngidam yang aneh-aneh?”
“Sangguplah. Apa, sih, yang enggak buat anak kesayangan Daddy,” ucap Daren sambil mengusap perut Dera yang masih rata.
Wanita itu langsung bangkit dari tidur. Duduk tegap dengan mata melotot pada Daren.
“Daddy, Daddy. Nggak ada itu. Panggilannya Ayah Bunda aja, nggak usah yang aneh-aneh,” protes Dera sambil berkacak pinggang.
“Itu terlalu klasik, Sayang. ‘Kan, lebih keren Daddy dan Mommy.”
“Pokoknya aku bilang nggak, ya, nggak!” Dera tetap keukeuh. Tidak mau menggunakan bahasa panggilan dari Daren.
“Iya, nggak. Ya, udah, panggilannya Ayah dan Bunda.” Barulah Dera tersenyum.
Dia kembali tidur di pangkuan Daren, memeluk erat pinggang suaminya. Entah mengapa Dera sangat menyukai harum tubuh Daren, hingga tidak ingin berjauhan dari Daren.
“Emm, Mas,” panggil Dera sambil mengusap perut Daren.
“Iya, Sayang, kenapa?”
__ADS_1
“Tiba-tiba aku pengen makan bebek goreng,” kata Dera.
“Serius? Ya, sudah, ayo kita cari bebek goreng,” ajak Daren.
“Benaran boleh?”
“Tentu, Sayang. Apa pun yang kamu inginkan, pasti Mas turuti.”
“Asikkk!”
Keduanya bersiap-siap untuk pergi membeli bebek goreng di luar. Namun, langkah mereka terhenti ketika melihat seseorang yang tak familier.
“Befan?”
“Ah, maaf, Bos. Saya datang kemari karena ingin memberitahu, bahwa jam makan siang ini, Anda ada meeting bersama klien di kafe Anggra,” jelas Befan sambil memberikan iPad yang dia bawa.
“Hah! Yang benar saja?” bantah Daren.
“Tentu, Bos. Saya sudah menghubungi Anda sejak tadi, tetapi nomor Anda tidak aktif. Jadilah saya kemari dengan berbekal alamat dari karyawan,” ucap Befan.
Daren langsung lemas, dia melihat ke arah Dera yang wajahnya sudah cemberut. Tidak jadi mereka pergi karena sekarang sudah jam makan siang. Dan mau tidak mau, Daren harus bertemu dengan keliennya karena ini sangat penting.
“Sayang, maaf. Janji setelah pulang nanti, kita pasti akan cari bebek gorengnya,” bujuk Daren.
“Lama, Mas!”
“Iya, Sayang. Tapi Mas juga nggak bisa batalin pertemuan ini, soalnya ngebujuk beliau untuk kerja sama saja udah susah.”
Huff. Dera menghembuskan napas kasar. Dia menatap Daren yang masih memegang tangannya sambil memohon. Akhirnya wanita itu mengangguk, membuat senyum Daren mengembang.
“Janji, ya?”
“Iya, Sayang. Pasti.”
**
Yuk, mampir di karya ketiga othor. Seru? pasti dong. Jangan lupa hadiah, vote, like dan komen ya guys.
__ADS_1