Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 74. Pergi


__ADS_3

Kamar menjadi tempat paling nyaman untuk meluapkan segala tangis yang tertahan. Vera menutup wajahnya, lalu membukanya kembali dan mengusap air mata dengan kasar.


Dia nggak boleh nangis. Ya, nggak boleh. Vera bukan perempuan lemah, dia pasti bisa melewati ini. Turun dari ranjang, Vera mengambil ponsel yang sempat dia banting. Lalu dirinya menghubungi salah satu teman kuliah.


“Halo, Ver? Ada apa?”


Demi menghalau sesak di dada, Vera menghembuskan napas kasar terlebih dahulu baru menjawab pertanyaan temannya itu.


“Kamu di mana, Ke?” Vera balik bertanya. Seseorang di seberang sana tampak diam sejenak.


“Aku di Bandung. Sesuai perkataanku tempo bulan, aku tinggal di sini sama Nenek. Memangnya kenapa, Ver?”


“Aku mau ke sana!”


“Lah, ngapain?”


“Aku mau ke Bandung. Niatnya buat healing,” jawab Vera.


“Serius? Kalau gitu kamu bisa menginap di rumah Nenek aku aja.”


“Belum tahu juga, Le. Besok aku kabari kalau jadi pergi.”


“Oke.”


Vera memutuskan sambungan secara sepihak. Gadis itu kembali melempar ponsel pada ranjang.


Vera diam, lagi-lagi air matanya menerobos keluar. Dia sudah memikirkan ini matang-matang, dirinya akan berangkat ke Bandung untuk menenangkan diri.


Mungkin bagi orang lain ini masalah sepele, apalagi dirinya bukan siapa-siapa Befan. Jadi tak ada hak buat marah atau melabrak tunangan pria itu. Namun, buat Vera ini adalah suatu kegagalan. Lagi-lagi hatinya tersakiti karena ulahnya sendiri, membuka hati lalu patah hati.

__ADS_1


“Lebih cepat lebih baik. Aku nggak mau sakit hati lagi, jadi lebih baik besok aku segera pergi,” ucapnya pada diri sendiri.


**


Hamidah terkejut bukan main mendengar ucapan Vera. Tanpa bicara lebih dulu, keponakannya malah meminta izin untuk pergi ke Bandung. Hamidah bungkam, tanpa mau menatap Vera karena merasa kecewa.


“Mungkin Tante kecewa sama aku, tapi aku ke sana cuma mau nenangin diri aja, kok, Tan,” kata Vera.


“Iya, tapi nenangin diri buat apa? Kamu kenapa, Nak?” Hamidah memegang kedua bahu Vera.


“Biasa, Tante. Masalah anak gadis,” ujar Vera. Dia masih bisa tertawa, meskipun hatinya sakit mengingat kejadian kemarin.


“Putus cinta?” tebak Hamidah.


Langsung saja Vera mengangguk, tidak mau menutupinya lagi. Hamidah tampak menghela napas kasar, dia tidak bisa menahan Vera karena tahu apa yang gadis itu rasakan kalau sudah tentang patah hati. Pasti butuh udara baru dan tempat yang baru pula.


“Sebelum pergi pamit sama Dera dulu,” pinta Hamidah.


“Gimana lagi, kamu maksa.”


“Yeayy! Oke, Tante, aku bakalan ke rumah Dera dulu. Sekalian mau pamit sama si kembar juga.”


Menjadi ibu pengganti untuk keponakannya, Hamidah merasa tak nyaman dengan sikap Vera. Gadis itu pura-pura baik-baik saja di depannya, entah bagaimana di belakang dia. Hamidah ingin bertanya, tetapi tidak mau membebani Vera dulu.


**


“Duo Z, Onty pamit buat jalan-jalan ke Bandung, ya?”


Vera sudah berada di rumah Dera, gadis itu langsung menemui anak sepupunya itu. Mengganggu Zakira dan Zanira yang sedang tidur di box masing-masing.

__ADS_1


“Kamu ngapain, sih, Ver? Udalah, jangan aneh-aneh,” cetus Dera.


“Idih. Aku tuh mau healing, Der. Kamu tahu nggak healing?”


“Gak usah gaya-gayaan, deh. Sebenernya kamu ada apa?” Dera terus mendesak.


Dia tahu tabiat sepupunya bagaimana. Pasti karena putus cinta. Ya, Dera sudah menebak, tetapi Vera belum mau mengaku juga.


“Siapa yang baru menyakiti kamu? Bilang sama aku, biar aku datangi dia.”


“Gaya kamu, Der. Udah, deh, aku pamit, ya. Kan, tadi udah bilang nggak bisa lama-lama.”


“Ver!” sentak Dera.


“Aku tetap akan pergi, Dera. Aku butuh menenangkan pikiran,” seru Vera.


“Baiklah, aku nggak bisa menahan kamu. Ingat, ya, kalau ada apa-apa langsung telepon aku,” ingati Dera.


“Siap, Bos!”


Sepeninggalan Vera, Dera menghampiri putri-putrinya. Dia menyentuh pipi Zakira, putrinya itu menggeliat.


“Hihihi. Maafin Bunda, ya, Sayang.”


“Ontymu itu memang keras kepala banget. Dibilang jangan pergi, malah pergi.” Dera menggerutu kembali mengingat betapa keras kepalanya Vera tadi. Huh. Menyebalkan!


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2