Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 6. Ajakan untuk Pindah


__ADS_3

Ketika bangun pagi, tidak ada drama peluk-pelukan karena sang perempuan kedinginan dan si pria berinisiatif untuk memberikan kehangatan. Sebenarnya malam tadi Daren ingin pindah, tetapi mengingat Dera pasti akan marah. Alhasil dia menahan keinginannya.


Daren bangun lebih dulu, melihat Dera masih tertidur pulas, dia tersenyum. Sangat lucu istrinya itu, bayangkan saja, yang awalnya tidur dengan posisi cantik kini sudah acak-acak dengan kepala berpindah ke bawah dan kaki di atas dekat kepala ranjang.


Lama menikmati wajah sang istri, Daren bangun untuk membersihkan diri. Karena tidak ada baju ganti lagi, alhasil dia memakai baju itu kembali. Di luar, Dera baru saja bangun. Kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul. Melihat ke sekeliling, mata Dera menangkap tempat untuk tidur Daren sudah rapi. Lalu, dia bandingkan dengan tempat tidurnya, Dera meringis malu.


“Om-om tapi rajin,” puji Dera. Dia segera bangun dan membereskan tempat tidur.


Tidak lupa juga, gadis itu menyapu lantai kamar. Membuka gorden, agar sinar matahari masuk ke dalam kamarnya. Baru saja berbalik, Dera dikejutkan dengan sosok Daren yang baru keluar dari kamar mandi. Wajah tampan itu kelihatan segar, rambutnya yang basah menambah kesan maco pada Daren. Dera segera menggeleng, menepis perasaan aneh pada hatinya.


“Ngapain geleng-geleng begitu?” tanya Daren. Menatap Dera aneh.


“Nggak,” balas Dera. Dia langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Karena memang ada hal penting yang ingin dia katakan pada Dera, akhirnya Daren menunggu sampai gadis itu keluar dari kamar mandi. Sudah hampir setengah jam, tetapi belum ada tanda-tanda Dera muncul dari sana. Membuat Daren khawatir, takut-takut gadis itu malah ketiduran.


Rupanya di dalam kamar mandi, Dera tengah kebingungan. Sebab, dia tidak membawa baju ganti, sedangkan bajunya tadi sudah basah karena terjatuh di lantai kamar mandi. Bolak balik gadis itu di depan pintu, ragu ingin meminta bantuan pada Daren, tetapi jika tidak, dia akan terus terkurung di tempat dingin ini.


Setelah berperang dengan hati, mau tidak mau Dera harus menurunkan egonya. Membuka pintu sedikit, dia menyembulkan kepala. Dera celingukan mencari keberadaan Daren, sampai akhirnya menemukan pria itu di sofa sedang bermain ponsel.


“Om,” panggil Dera dengan suara kecil. Tidak mendapat jawaban dari Daren, karena mungkin pria itu tidak dengar.


Mencebik kesal, Dera berinisiatif buat manggil lagi. “Om!” Kali ini suaranya agak sedikit keras.


Lagi-lagi Daren tidak menoleh. Entah disengaja atau memang tidak. Dengan wajah merah menahan emosi, Dera berteriak kencang sampai-sampai Daren terkejut dan menjatuhkan ponselnya.


“Ada apa? Kenapa teriak-teriak?” tanya Daren panik.


“Sini.” Dera melambaikan tangannya, meminta Daren untuk mendekat.


Tanpa banyak bicara, Daren menurut saja. Menghampiri pintu kamar mandi, demi mendengar apa yang akan istrinya katakan. Melihat Daren sudah mendekat, Dera memposisikan agar tubuhnya tidak kelihatan dari luar. Berulang kali pula, dia menghembuskan napas kasar, mencoba untuk menepis ego yang kembali datang.


“Kenapa masih di dalam, keluarlah jika ingin bicara. Nggak sopan hanya mengeluarkan kepala saja,” ucap Daren.


“Ish, Om ini nggak ngerti banget, sih,” omel Dera.


“Maksudnya? Tolong kalau bicara jangan setengah-setengah, saya lebih tidak mengerti,” pinta Daren.


“Tolong ambilkan aku handuk, soalnya aku lupa bawa baju ganti. Cepat, di sini dingin sekali,” ucap Dera. Daren melongo sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Melihat reaksi suaminya begitu, Dera mencebik kesal. Wajahnya sudah merah padam menahan emosi, ingin sekali langsung disemburkan pada Daren. Namun, keadaan sedang tidak mendukung Dera. Dia harus baik-baik, agar Daren mau mengambilkan handuk untuknya.

__ADS_1


“Apa tadi? Coba ulangi,” pinta Daren dengan senyum seringai.


“Ck. Tolong ambilkan handuk, Om Tampan,” ucap Dera mengulang keinginannya. Terpaksa dia tersenyum manis.


“Handuk saja? Bajunya tidak?”


“Nggak. Cukup handuk saja.”


“Yakin?”


“Iya. Cepatlah, aku sudah kedinginan ini!” teriak Dera.


“Hahaha, baiklah.”


Daren langsung beranjak untuk mengambil handuk Dera. Pria itu membuka lemari pakaian Dera, mencari bahan tebal dan hangat di sana. Namun, Daren tidak menemukannya.


“Di mana kamu meletakkan handuk itu?” tanya Daren dengan sedikit berteriak, agar Dera mendengar.


“Di dekat lemari, kan, ada gantungan. Nah, di situ!” balas Dera dengan berteriak balik.


“Oke.”


Pria yang selalu berwajah datar, menutup pintu lemari. Dia berpindah ke samping, melihat handuk yang tergantung di sana, langsung saja Daren mengambilnya untuk diberikan pada Dera.


“Kenapa saya harus keluar? Kalau mau berpakaian, ya, silakan saja,” jawab Daren santai.


Dera melotot. “Gila. Nanti Om ngintip kalau masih di dalam. Sudah, sana keluar!”


“Kalau aku tidak mau?”


“Om, tolonglah!”  Dera memasang wajah memelas.


“Baiklah. Tapi cepat, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” pinta Daren, langsung beranjak pergi.


Setelah memastikan Daren keluar dari kamar, Dera langsung berlari menuju lemari pakaian. Dia mengambil celana jeans dan kaos oblong berwarna putih. Kebiasaan Dera memakai baju santai. Selesai memakai pakaian, Dera beralih ke meja rias. Tipis dia poleskan bedak ke wajahnya, tidak lupa juga dengan lipblam, agar bibirnya tidak pucat.


“Kira-kira Om Daren mau bicara apa, ya?” tanya Dera pada dirinya sendiri. Tidak ingin terus penasaran, akhirnya gadis itu memilih untuk keluar dan mencari Daren.


Untungnya dia melihat pria itu sedang duduk bersama ibu dan Vera di ruang tamu. Tanpa menunggu lama, Dera langsung menghampiri dan duduk di dekat Vera.


“Acile, pengantin baru, seger amat,” celetuk Vera sambil tertawa. Yang langsung mendapat tawa dari ibu juga.

__ADS_1


“Apaan, sih, kamu. Anak kecil, sok, tahu aja,” sinis Dera.


“Hehehe.”


Dera menanggapi dengan memutar bola matanya malas. Lalu, gadis itu beralih menatap ke arah Daren yang juga menatapnya. Dera langsung melotot, membuat Daren terkikik geli.


“Katanya tadi mau bicara,” tegur Dera pada Daren.


Pria itu berdehem, untuk meloloskan rasa gugup. “Ah, iya. Saya sampai lupa.”


“Cepat. Mau bicara apa.”


“Jadi, niatnya saya ingin mengajak kamu pindah ke rumah saya hari ini. Ibu juga sudah memberikan izin, untuk saya membawa kamu pergi,” ucap Daren.


“Apa? Yang benar aja, aku nggak mau!” tolak Dera mentah-mentah.


“Sayang, kamu tidak boleh begitu,” ingat ibu.


“Tapi, Bu. Dera nggak mau keluar dari rumah ini, Dera nggak mau pisah sama Ibu,” lirih Dera.


Hamidah menggeleng pelan, dia berpindah duduk di dekat Dera dan langsung memeluk putrinya.


“Nak, dengarkan Ibu. Ketika kamu sudah menikah, maka kamu ini bukan tanggung jawab Ibu lagi melainkan suamimu. Dan, kodratnya istri itu memang mengikuti kemana pun suaminya pergi,” jelas ibu. Mengusap lembut punggung Dera.


Dalam pelukan ibunya, Dera menangis. Menumpahkan segala air mata di sana, Dera enggan melepas pelukan barang sejenak.


“Kalau kamu sayang pada Ibu, pergilah bersama Daren,” ucap ibu.


“B-baik, Bu,” jawab Dera pasrah.


Daren tersenyum melihat interaksi keduanya. Ternyata dia melewatkan satu hal, bahwa Dera sangat manja pada ibunya. Apa nantinya, Dera juga akan manja pada dia? Daren memukul kepala pelan, menghilangkan pertanyaan yang menurutnya konyol itu.


**


Ceileh, Om Daren pengen Mbak Dera manja-manja, nih, ye😅



Om Daren ketika nungguin istrinya mandi. Lama amat, sampai bosan😂


😟: Nggak doubel up, Thor? Sesekali.

__ADS_1


😂: Nggak. Othornya mau ngedate dulu sama Mas jahat Pandu.


like, komen, kembang/kopi, dan votenya jangan lupa, guys.


__ADS_2