
“Alden ...,” lirih Zakira.
“Sttt... jangan khawatir.”
“Tapi—“
“Ayo ikut aku.”
Alden menarik pelan tangan Zakira untuk ikut dengannya. Pria itu membuka pintu mobil, lalu meminta Zakira untuk masuk ke dalam. Alden membawa Zakira pergi dari sana, membuat sang empu kebingungan.
“Kita mau ke mana? Kok, balik lagi?” tanya Zakira sambil melihat ke belakang.
“Beli minum,” jawab Alden.
“Oh.” Zakira hanya ber’oh’ ria saja. Dia tidak berani buka suara lagi, sebab wajah Alden saat ini sangat tidak bersahabat.
Mobil yang dikemudi Alden kembali bergabung dengan mobil lainnya di jalan raya. Entah sengaja atau tidak, Alden bolak balik membuat Zakira bingung. Namun, wanita itu tetap tidak berani protes.
“Kamu mau beli sesuatu?” tanya Alden.
“Nggak,” jawab Zakira pelan.
“Kalau tidak ada, kita balik ke rumah Mamah,” kata Alden. Lalu mobil yang Alden kemudi putar balik.
Bingung? Tentu saja. Zakira merasa aneh dengan sikap Alden, tetapi takut ingin bertanya. Mereka baru sehari menjadi suami-istri, Zakira takut Alden tidak nyaman bila dia bertanya-tanya. Jadi, Zakira mencoba untuk menyembunyikan penasarannya sampai Alden yang cerita sendiri.
“Ayo turun.” Alden mengulurkan tangannya yang langsung digapai oleh Zakira.
Zanira terus memegang erat lengan Alden, dirinya merasa gugup dan canggung. Padahal Zakira sudah pernah bertemu dengan ibu Alden, tetapi wanita itu masih saja gugup.
“Mamah nggak makan orang,” celetuk Alden.
__ADS_1
“Iya, tau.” Zakira mengerucutkan bibirnya, membuat Alden gemas.
Kedatangan keduanya disambut hangat oleh pemilik rumah. Seorang wanita setengah baya yang masih kelihatan sangat cantik. Alden langsung mengecup punggung tangan ibunya, disusul oleh Zakira.
“Maaf, Mah. Nggak ngabarin,” tutur Alden.
“Iya, nggak apa. Tapi Mamah terkejut tadi, loh,” ujar mamah.
“Maaf.”
“Menantu cantik Mamah tidak lapar?” tanya mamah sembari mengusap rambut Zakira.
Sedangkan si empu hanya tersenyum, membuat Alden tambah gemas. Akhirnya pria itu mencubit pelan pipi Zakira, karena tidak tahan.
“Kita sudah makan pas mau berangkat tadi, Mah,” kata Alden.
“Iya, Mah.” Zakira ikut menimpali.
Tidak henti Zakira melihat kanan dan kiri dengan kagum. Banyak sekali benda-benda mahal di sana, seperti; guji, lemari, dan lukisan. Wanita itu juga melihat banyak piala berjejer rapi di dalam lemari, membuatnya penasaran ingin melihat lebih dekat.
“Sayang,” panggil Alden.
“Hah?”
“Sayang.”
“Kamu manggil aku?” tanya Zakira bingung.
“Bukan. Aku manggil makhluk halus,” cetus Alden.
Zakira berbalik, melihat sekitarnya sambil bergidik ngeri. Alden yang sudah berada di tangga paling atas, turun kembali karena merasa gemas dengan tingkah istrinya.
__ADS_1
“Berbalik,” titah Alden.
“Apa?”
Cup
Secepat kilat Alden mengecup bibir Zakira, membuat sang empu bengong karena terkejut.
“Aku manggil kamu, Sayang.”
“Ayo, jalan. Jangan melamun terus,” sambung Alden.
Zakira mengedipkan matanya berulang kali, lalu menatap Alden yang juga menatapnya. Tak lama, pria itu tertawa membuat raut wajah Zakira berubah jutek.
“Kamu cium aku,” tuding Zakira.
“Memang. Kenapa, mau lagi?” tawar Alden.
“Nggak! Enak aja kamu.” Zakira berlalu meninggalkan Alden yang masih tertawa melihat tingkah lucu istrinya.
Wanita itu masuk lebih dulu ke kamar Alden, seketika dia dibuat terpukau dengan seisi kamarnya. Sangat rapi dan nyaman di pandang. Sepertinya dia akan betah berada terus di kamar ini.
__ADS_1