Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Boncap 1


__ADS_3

Hari hari Dera lalui dengan bahagia. Dia banyak belajar dari keadaan, bahwa apa yang dia lakukan saat ini begitu nikmat. Kedua putrinya menggeliat, membuka mata dengan senyum begitu menawan.


Lekas Dera meraih salah satunya, menimang dengan penuh cinta.  Zanira tertawa-tawa kecil saat Dera melakukan ‘cilup ba’. Puas bermain dengan Zanira, Dera gantian menggendong Zakira dan melakukan hal sama seperti putri keduanya tadi.


“Karena sudah tertawa-tawa bareng Bunda, jadi kakak dan adek sudah boleh dikasih dot,” ucap Dera sambil mengangkat botol susu ke udara. Kedua putrinya langsung tersenyum, berusaha meraih dot dengan kedua tangan mereka.


Dua baby sitter membantu Dera mengurus si kembar. Karena akhir-akhir ini Daren sering pergi keluar kota untuk bekerja, jadi Dera meminta agar pria itu mencarikannya baby sitter untuk membantu. Daren setuju, dia juga tidak mau Dera kelelahan.


“Mbak-mbak, tolong jaga baby Zakira dan Zanira, ya? Saya ingin keluar sebentar, soalnya sepupu saya sudah datang,” pinta Dera pada kedua baby sitter-nya.


“Baik, Mbak,” jawab keduanya.


Dera bergegas keluar dari kamar untuk menemui Vera. Gadis itu memaksa datang ke rumahnya pagi-pagi sekali, katanya ada yang ingin dibicarain.


“Kamu lama banget, Der. Aku capek nungguin,” kata Vera setelah Dera duduk di single sofa.


“Astaga, kamu ini. Aku nyapa si kembar dulu tadi,” ucap Dera. “Kamu mau minum apa? Biar aku ambilkan.”


“Air putih aja.”


Ibu muda dengan dua anak itu langsung melesat ke dapur untuk mengambil air putih untuk Vera. Dera membuka kulkas, mengambil kue yang dia simpan di sana. Lalu membawanya ke depan untuk dihidangkan.


“Bagaimana proses untuk pernikahan kamu, aman, kan?” tanya Dera.

__ADS_1


“Aman. Nah, itu dia, yang nggak aman adalah aku,” celetuk Vera.


“Lho, lho, kenapa?”


“Takut, Der.”


Meski selama ini Vera selalu diam, tetapi Dera mengerti apa yang gadis itu rasakan. Vera pasti menyembunyikan sesuatu, terbukti dari raut wajahnya yang menyurut.


“Ada apa? Kamu bisa cerita sama aku. Aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan, Ver, jangan tutupi lagi,” pinta Dera.


“Kamu benar.” Vera menghela napasnya kasar.


Dia memilih minum lebih dulu, meloloskan air pada kerongkongan agar tidak terasa kering. Setelah itu, Vera barulah menghirup dalam-dalam oksigen, lalu membuangnya dengan pelan.


“No, Ver. Aku tahu bagaimana sikap dan sifat Pandu. Dia pria baik, tidak neko-neko.”


“Aku hanya merasa ragu saja dengan diriku sendiri. Kalau tentang Mas Pandu, aku akui dia adalah pria baik yang aku temui. Aku nyaman dengannya, hanya saja hatiku takut. Aku takut kehilangan lagi, Der. Sudah cukup selama ini aku selalu tersakiti, aku nggak mau mengulangnya kembali.” Tangis Vera pecah.


“Aku juga takut mengecewakan Mas Pandu,” lirih Vera.


Dera menggeleng, wanita itu berpindah mendekati Vera. Dia memeluk sepupunya dengan erat, Dera ikut menangis melihat Vera sesenggukan.


“Kamu itu orang baik, Ver. Bukan cuma Pandu yang nyaman denganmu, tetapi aku juga. Kamu adalah sepupu paling baik buatku.”

__ADS_1


“Pasti kamu pernah mendengar kata-kata seperti ini, kan. Jodohmu adalah cerminan dirimu sendiri. Jadi, kamu tidak perlu ragu dan takut. Semua sudah disusun sesuai dengan skenario Tuhan,” ucap Dera menenangkan Vera.


Vera mengangguk, perasaannya mulai membaik karena sudah bisa menceritakan pada Dera. Namun, senyumnya kembali menyurut saat mengingat sesuatu.


“Ijab kabulnya diwakilkan penghulu, kan, Der? Papah, kan, sudah nggak ada,” lirih Vera.


“Tenang aja Vera, Papah kamu pasti bahagia di sana. Melihat putri satu-satunya akan menikah, menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Kamu jangan sedih lagi ya, kan, ada aku dan ibu.”


Mereka berpelukan dan menangis bersama. Dera merasa terluka bila Vera terluka. Mereka kecil bersama, selalu kemana pun bersama pula. Rasa persaudaraan antara kakak dan adik itu ada.


Setelah puas berpelukan dan menangis, Dera mengajak Vera ke taman belakang. Sudah lama mereka tidak menanam bunga bersama, jadi Dera ingin mengajak Vera untuk menanam bersama.


“Jangan sedih lagi calon pengantin, nanti prianya di sana sedih juga, lho,” celetuk Dera dibarengi tawanya.


Vera juga tertawa kecil. “Harus, dong. Biar setia.”


“Ah, Mas Pandunya sudah pasti setia, dong. Tantenya ini, setia tidak?”


Lagi-lagi mereka tertawa bersama, meluapkan kebahagiaan di taman belakang rumah.


**


Jadi, niatnya othor mau bikin kisah anak-anak mereka di sini. Satu judul dengan orang tuanya. Menurut kalian gimana?

__ADS_1


 


__ADS_2