
“Siang ini aku akan pergi ke rumah Kak Fina, buat lihat kondisi Abang.”
Daren dan Dera tengah bersantai di rumah utama sambil menonton televisi. Wanita yang sejak tadi fokus sambil mengunyah kaca telur, mengalihkan pandangannya pada Daren.
“Apa aku perlu ikut?” tanya Dera.
“Kalau kamu tidak sibuk dan sudah tak sakit lagi, silakan saja,” jawab Daren.
Dera mangut-mangut, lalu beranjak dari duduk menuju kamar. Daren menatap bingung, lantas kembali menonton televisi. Dia berpikir mungkin saja Dera ingin buang air kecil atau beristirahat di kamar.
Sedangkan di dalam kamar, Dera tengah memilih-milih baju yang pas untuk dia kenakan ke rumah orang tua Pandu. Meskipun enggan, tetapi Dera harus menghargai. Lagi pula, hubungannya dengan Fina baik-baik saja, takutnya wanita itu berpikiran aneh jika Daren yang pergi sendiri menjenguk ayah Pandu.
Ketika Dera kembali ke ruang utama, Daren masih bersantai di sofa. Pria itu memang tidak masuk kerja, alasan karena Dera masih merasa sakit. Bodoh amat, Dera tidak peduli dengan Daren.
“Katanya mau pergi,” ujar Dera mengagetkan suaminya.
Daren menatap bingung. “Sekarang juga?”
“Ck. Lebih cepat lebih baik,” sahut wanita itu malas. Berjalan duluan ke depan.
Secepat kilat Daren menuju kamar untuk mengganti baju. Dia tak ingin ratunya yang judes itu, ngambek karena dia terlalu lama.
**
Bangunan megah berlantai dua, sudah ada di depan mata. Namun, keduanya enggan untuk berjalan ke arah pintu utama. Disebabkan oleh mobil yang terparkir di halaman rumah orang tua Pandu. Mobil siapa lagi kalau bukan milik Hafran dan Jilia.
__ADS_1
Dera membuang wajahnya, malas. Menghembuskan napas berulang kali, dia meyakinkan diri untuk tidak berdebat saat di dalam nanti. Mengingat pertemuannya dengan Jilia tempo hari, sangat tidak mengesankan, membuat Dera malas untuk masuk.
“Kalau kamu tidak nyaman nantinya, lebih baik kita pulang saja,” tukas Daren. Mengerti dengan raut wajah Dera.
“Tidak perlu. Lagian, kita udah sampai juga, ‘kan? Lebih baik masuk,” kata Dera. Lalu dia melangkah lebih dulu, meninggalkan Daren yang terus menghembuskan napas kasar.
Sebenarnya Daren juga malas bertemu pasangan suami-istri itu, emosinya akan berlonjak melihat wajah tak berdosa. Dan lagi, Daren juga tidak mau kalau Dera jadi sasaran empuk hinaan mereka.
Cepat Daren menghampiri istrinya, menggenggam jemari lentik itu dan membawanya dalam genggaman hangat. Dera sempat menoleh, lantas kembali fokus pada jalan.
“Kak!” panggil Daren. Karena pintu terbuka lebar, jadi dia tidak memencet bel.
Fina tergopoh-gopoh menghampiri keduanya dengan senyum mengembang, mengajak Daren dan Dera untuk segera masuk.
“Kalian kenapa tidak bilang kalau mau ke sini?” tanya Fina. Wanita itu mengusap lembut punggung tangan Dera.
Sejak awal Pandu membawa Dera ke rumah untuk dikenalkan padanya, Fina sudah menyukai sikap Dera yang sangat sopan dan penuh kasih sayang. Jadi, tak heran jika sampai sekarang dia masih merasa bersalah pada wanita itu.
“Sengaja, Kak,” jawab Daren. Wajah datar dengan tatapan dingin.
“Sudah makan belum? Kalau belum, ayo kita makan,” ajak Fina.
“Sudah, kok, Kak. Jadi tidak perlu repot-repot,” tolak Dera, Daren mengangguk setuju.
Fina mengangguk sambil tersenyum. Obrolan mereka berlanjut tentang kondisi ayah Pandu, yang alhamdulillah sudah baik-baik saja. Jilia yang sejak tadi diam mendengarkan, mulai beraksi. Terlihat dari senyuman penuh bangga, lantas wanita itu mengusap perutnya yang rata.
__ADS_1
“Oh, ya, aku juga mau ngasih tau. Kalau sekarang, aku sedang mengandung,” ucap Jilia dengan bangganya. Membusungkan dada penuh kesombongan.
“Wah, syukurlah!” Fina ikutan bahagia.
“Setelah di beri anak dua, kini aku diberi lagi. Mungkin aku terlalu subur, makanya cepat jadi. Enggak kaya’, sih, Dera, belum isi juga. Iya, ‘kan?”
Sudah Daren duga, ujung-ujungnya pasti menghina Dera. Memang wanita tidak tahu malu, pikirnya. Seharusnya Jilia sadar diri, bahwa dia adalah duri di keluarga besarnya.
Mendengar ucapan Jilia, darah Dera mendidih. Ingin sekali dia menyumpal mulut tidak tahu diri itu dengan kain. Sebisa mungkin Dera menahannya, demi menjaga image.
“Kami memang sengaja ingin berduaan dulu, agar lebih leluasa untuk melakukan hal-hal yang romantis,” kata Dera sambil tersenyum. Tentunya senyum meremehkan Jilia.
“Atau jangan-jangan kamu mandul?”
“Jilia!” Daren sudah terlampau geram.
“Belum ada satu bulan kami menikah, jadi wajar kalau Dera belum hamil. Setidaknya bukan sepertimu, melahirkan ketika pernikahan baru menginjak enam bulan,” sinis Daren. Dia menggenggam tangan Dera dan langsung pergi dari sana.
“Dera dan Mas Daren pamit pulang, Kak. Kalau ada kesempatan, pasti datang ke sini lagi,” teriak Dera yang dibalas anggukan oleh Fina.
**
Tahan, tahan, jangan emosi. Kalem😂
__ADS_1