
“Yakin istrinya?”
Dera sungguh geram dengan Elena. Ingin sekali mencongkel mata merendahkan itu, tetapi lagi-lagi Dera hanya mampu bersama. Dia tidak ingin harga dirinya terancam, apalagi Daren.
“Dera!” Panggilan dari Daren, membuat Dera tersenyum.
“Iya, Mas? Akhirnya kamu datang juga.” Sengaja Dera menghampiri Daren, bergelanyut manja di lengannya.
Jujur, Daren bingung dengan sikap Dera. Namun, saat dia ingin membuka suara kembali, sapaan Elena menghentikan gerakan mulutnya. Daren menatap aneh gadis di depannya itu.
“Ada apa, Elena?” tanya Daren.
“Siapa perempuan itu, Bos?” tanya Elena kepo.
Dih. Memangnya dia tidak bisa melihat, Dera sudah manja juga. Lagian, tadi Dera juga memberi tahu bahwa dirinya itu istri Dare.
“Aku istri Mas Daren. Kenapa?” Dera memotong ucapan Dare.
“Saya pikir Mbak ini salah alamat, Bos,” tukas Elena.
Kedua tangan Dera terkepal, bahkan buku-buku tangannya terlihat. Daren menoleh, menatap cemas wajah penuh amarah. Dengan segera Daren menggenggam jemari istrinya, berusaha membuyarkan kepalan itu. Dia menarik Dera agar mengikuti langkahnya, mengajak gadis itu keluar dari kantor.
__ADS_1
“Ngapain Om bawa aku ke sini?!” tanya Dera kesal. Mereka sudah berada di restoran yang tak jauh dari kantor Daren. Dengan berjalan kaki, mereka juga akan sampai.
“Aku tidak ingin kamu marah-marah di sana,” jawab Daren.
Dera mendengkus kesal, melepaskan genggaman Daren dengan kasar. Dia memilih keluar dari restoran, berjalan meninggalkan suaminya dengan wajah penuh kekesalan.
“Dera! Tunggu!” teriak Daren berusaha menghentikan Dera. Dia menambah kecepatan larinya untuk menghentikan langkah wanita itu.
Daren langsung menggenggam tangan Dera, membalikkan tubuh sang istri. Dapat dia lihat, wajah itu memerah, seperti menahan emosi. Padahal niat Daren baik, hanya tak ingin semuanya semakin runyam. Namun, sepertinya Dera salah mengartikan sikapnya itu.
“Apa, sih? Lepasin!” bentak Dera.
“Dengerin dulu,” pinta Daren.
“Kamu ngomong apa, sih? Siapa yang bela dia?”
“Setan!” Dera kembali berjalan.
Menghembuskan napas pelan, Daren kembali berlari. Dia tak pernah berpikir, bahwa Dera ketika marah akan seperti ini. Kalau tahu masalah ini akan terjadi, sudah pasti dirinya tak akan membiarkan Dera datang ke kantor.
“Aku tidak membelanya, Der.” Daren masih berusaha menjelaskan pada Dera.
__ADS_1
“Kalau begitu pecat dia. Asal Om tahu, dia sudah meremehkan aku dengan mulut dan matanya itu!”
“Aku ... tidak bisa memecat dia dengan alasan yang jelas. Lagi pun, dia adalah sekretarisku yang handal,” lirih Daren.
Lagi-lagi Dera tertawa, membuat Daren semakin frustrasi. Kalau bisa, dia rela dipukuli oleh Dera asal wanita itu tidak bersikap seperti ini.
“Baiklah. Mungkin memang aku yang harus sadar diri. Kalau gadis miskin ini, tidak terlihat seperti ISTRI dari pemilik perusahaan terbesar di Jakarta,” ucap Dera penuh penekanan. Selanjutnya, dia sudah menyetop taksi dan masuk ke dalam mobil berwarna biru.
Daren menjambak rambutnya. Memiliki istri Dera, menguji kesabaran. Namun, dia juga merasa bersalah karena tak membela istrinya di depan Elena tadi. Lantas, apa yang akan dia lakukan sekarang?
Drtt
“Halo? Ada apa?”
“Bos, meeting sepuluh menit lagi!” Suara Elena terdengar dari seberang, penuh penekanan. Menegaskan Daren bahwa pria itu harus kembali untuk menghadiri meeting bersama klien.
Dengan lesu Daren berjalan menuju kantor, dia akan membujuk Dera nanti saja setelah kembali dari kantor. Dan lagi, biarkan wanita itu tenang lebih dulu.
“Semangat Daren. Kamu pasti bisa.” Dia mengepalkan tangannya, memberi semangat untuk dirinya sendiri.
**
__ADS_1
Hadiah dan vote jangan lupa 😁