
Pagi ini Daren sudah masuk kerja kembali, selesai sarapan bersama. Dera mengantar Daren sampai halaman rumah, wanita itu juga memastikan tas yang akan suaminya bawa, sudah berada di dalam mobil.
“Om kalau makan siang, di mana?” tanya Dera.
“Ya, di kantor,” jawab Daren sekenanya.
“Maksudnya, makanan itu beli di mana? Restoran?” tanya Dera lagi.
“Iya.”
Daren mengambangkan tangannya ke udara, menunggu sambutan dari Dera. Mengerti dengan kode sang suami, Dera langsung mengecup punggung tangan itu dengan takzim.
“Nggak sehat kalau terus-terusan makan makanan siap saji begitu,” ucap Dera, menghentikan langkah Daren untuk pergi.
“Terus, aku harus makan apa? Memangnya kamu mau mengantar makanan ke kantor?”
“Boleh. Nanti aku minta sopir buat ngantar aku ke kantor, Om.”
Padahal Daren hanya bercanda, tetapi Dera menganggap serius. Sudah terlanjur, Daren mengangguk saja. Setelah itu, dia pamit untuk pergi bekerja. Dera melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan, semua itu dia lakukan untuk memperbaiki hubungan mereka menjadi lebih baik lagi.
Dera beranjak masuk setelah memastikan mobil Daren tak terlihat oleh pandangan. Wanita itu sibuk membersihkan dapur bekas dia memasak tadi. Dera sudah men-stop pelayan yang bertugas di dapur, karena semua sudah dia ambil alih.
__ADS_1
“Nyonya kalau lelah, biar Reva yang lanjutin,” ucap Reva. Gadis itu berniat untuk menghentikan Dera, karena dia merasa tak enak.
Dan lagi kalau sampai Daren tahu, sudah pasti pria itu akan marah pada semua pelayan. Membiarkan istrinya membersihkan rumah sendiri.
“Nggak perlu, Rev. Aku masih sanggup, kok. Lagian, sudah sering juga melakukan beginian,” jawab Dera. “Sebaiknya kamu fokus mengurus tamanku saja, nanti aku tambah gajimu.”
“Baiklah kalau begitu. Tapi jika nanti Nyonya lelah, panggil Reva saja,” ingati Reva. Dera mengangguk.
Karena tak bisa membujuk Dera, akhirnya Reva memilih keluar untuk menyiram bunga. Seperti permintaan Dera, Reva akan mengurus taman dengan sangat baik. Selain karena pekerjaannya, juga gaji tambahan dari Dera. Bukan matre, hanya saja semua butuh uang.
**
Dengan diantar sopir, Dera pergi ke kantor Daren untuk mengantar makan siang. Bolak balik dia mengecek penampilan, memastikan bahwa pakaian yang dia pakaian sudah rapi dan bagus. Dera hanya tidak ingin membuat Daren malu, karena memiliki istri sepertinya.
“Mau berhenti di suatu tempat, Nyonya?” Sopir bertanya dengan melirik lewat kaca atas.
“Hemm, tidak, Pak. Langsung ke kantor Tuan saja,” perintah Dera. Sang sopir mengangguk dan segera menambah kecepatan mobil yang dia kemudi.
Tidak sampai setengah jam, mobil yang mengantar Dera memasuki halaman parkir kantor Daren. Dera melongo ketika melihat bangunan pencakar langit, antara kagum dan tak percaya. Ternyata suaminya se-sultan itu.
Sebelum melewati pintu masuk, Dera harus memberitahukan KTP-nya lebih dulu pada satpam. Dia jengkel, tetapi berusaha sabar karena tak ingin membuat ribut.
__ADS_1
“Benar, Pak. Beliau ini adalah istri Tuan Daren Algra,” ucap pak sopir. Memberitahu satpam karena sempat tak percaya dengan ucapan Dera.
“Oh, maaf, Nyonya. Silakan masuk.” Satpam membuka pintu masuk kantor.
Banyak orang berlalu lalang di lobi membuat Dera kebingungan. Dia ingin segera ke ruangan Daren, tetapi tidak tahu di mana tempatnya. Karena tak tahu harus melakukan apa, akhirnya Dera menghubungi Daren. Pria itu memintanya menunggu di lobi saja, sebab Daren yang akan menemuinya.
“Maaf. Ada perlu apa Anda di sini?” Pertanyaan dari seseorang, membuat Dera menoleh.
Dia menatap dari ujung rambut sampai kaki gadis di depannya. Tampak cantik dengan balutan pakaian kantor. Sampai-sampai, Dera minder dengan kecantikan gadis itu.
“Emm, itu ... aku ingin menemui suamiku,” cicit Dera.
“Suami? Siapa suami Anda?” Gadis di depan Dera, memindai dirinya dari ujung kaki sampai kepala. Lalu, tatapan gadis itu seperti ... meremehkan.
“Daren Algra. Dia suamiku,” jawab Dera mantap.
Gadis yang Dera ketahui sebagai karyawan di kantor suaminya, seperti menahan tawa. Bahkan, sebelah tangannya membungkam mulut. Sekali lagi, gadis bernama Elena itu melihat Dera dengan tatapan sulit di artikan. Ah, Dera benci dengan itu.
“Yakin istrinya?”
**
__ADS_1
Vote dan hadiahnya jangan lupa😁