
Di siang Senin yang panas, keadaan di dalam ruangan pun sama panasnya. Adu mulut terus terdengar, memekakkan telinga dan membuat kesal hati.
Di sudut ruangan, Dera mencoba menenangkan hatinya yang terasa panas karena emosi terus meletup-letup. Sebisa mungkin dia menutup telinga sejenak, demi menghalau suara-suara yang malah membuatnya semakin kesal.
“Lihat saja, ya. Di sini itu barangnya nggak terjamin. Saya beli baju, harganya mahal, eh, bajunya nggak berkualitas dan terdapat robekan di dekat ketiak!”
“Maaf, Bu, tetapi barang di sini sudah dicek sedemikian rupa sebelum dipajang!”
“Lalu ini apa! Jangan mengelak, cepat kembalikan uangku!”
Seorang wanita modis setengah baya, tiba-tiba datang ke butik tadi. Marah-marah sambil menunjukkan baju yang dia bawa. Dera terkejut, merasa tidak percaya dengan apa yang wanita itu ucapkan.
Selama ini dia menjamin, bahwa baju-baju yang dia jual itu berkualitas. Pun, sebelum memajangnya, Dera bersama tim lebih dulu mengecek agar tak mengecewakan pelanggan.
Mendengar teriakan kembali, Dera beranjak dari duduk. Kaki jenjangnya melangkah mendekati kerumunan antara pegawai dan pelanggan.
“Permisi,” ucap Dera, sopan.
“Nah, ini bosnya!”
“Maaf, Bu. Sebaiknya kita bicarakan ini dengan kepala dingin,” ucap Dera. Masih mencoba untuk bersabar, meskipun tatapan tak suka terus terlempar dari si pengkomplain.
__ADS_1
“Halah. Lebih baik cepat kembalikan uangku, dan tutup saja butik ini! Dasar penjual barang buruk!” Cemoohan itu langsung menancap kuat di hati Dera. Sakit dan perih.
“Saya sudah mengajak ibu untuk membicarakan masalah ini dengan baik, tetapi Anda malah merendahkan butik kami. Ingat, Bu, di dunia ini tidak ada yang paling benar. Kalau sekiranya kami salah, karena teledor dengan barang, kami mohon maaf.” Dera menghela napasnya kasar. “Saya pasti akan mengganti rugi.”
Orang-orang yang tak lain adalah pelanggan Dera, berbisik-bisik dengan tatapan terarah pada Dera. Ada yang semakin menjatuhkan Dera, ada pula yang membelanya.
“Sebentar. Saya akan ambilkan uangnya,” kata Dera sembari melangkah menjauhi kerumunan itu.
Di dalam ruangan, Dera termangu di dekat meja kerja. Album foto dirinya dan ibu, terpajang di meja. Tidak bisa lagi dia menahan setitik air mata untuk tak mengalir. Sakit, kecewa dan marah menjadi satu, tetapi dia tak bisa berbuat apa-apa.
Sebelumnya tidak ada masalah dengan barang di sini. Semua aman, pelanggan pun nyaman. Namun, hari ini tiba-tiba kekacauan menyerang. Dia tidak ingin balik suuzon pada pelanggannya, mungkin saja memang dia atau timnya yang kurang teliti.
“Kalau tidak bisa menjual barang berkualitas, gak usah buka aja lagi,” cetus pelanggan itu sambil meninggalkan butik.
“Buk, yang sabar, ya. Ini ujian dari Tuhan, supaya kita lebih semangat lagi.” Yana mengusap punggung Dera, memberikan sedikit motivasi untuk bosnya.
“Terima kasih untuk semua pegawaiku. Meskipun badai melanda, kita masih bisa bersatu. Tetaplah teguh, wahai kawan.” Dera tersenyum, dibalas senyuman oleh semua pegawainya.
**
“Kamu sudah makan siang?” Ucapan pertama ketika sambungan terhubung. Nada khawatir terdengar jelas dari seberang sana.
__ADS_1
“Sudah, Mas,” bohong Dera. Dia menggigit bibir bawah, menyesal karena telah membohongi Daren.
“Syukurlah. Aku sangat khawatir karena sejak tadi kamu susah dihubungi,” ucap Daren, masih terdengar khawatir.
“Maaf, Mas. Tadi banyak pelanggan, jadi Dera tak sempat memegang ponsel.”
Dera memang bertekad untuk tidak memberitahu Daren. Dia nggak mau suaminya jadi khawatir. Lagian, masalah sudah clear, ada atau tidaknya pelanggan nantinya Dera pasrah pada Tuhan saja.
“Dera matiin, ya, Mas. Soalnya ada pelanggan, nih,” bohong Dera lagi.
“Ya, sudah. Jangan terlalu kecapean. Nanti aku akan jemput sepulang dari kantor.”
“Oke.”
Setelah memutuskan sambungan, Dera melempar ponselnya ke sofa dengan kasar. Sesak di dada masih terasa, bahkan kini lebih besar karena kebohongannya pada Daren. Dia hanya tidak ingin semua orang terbebani dengan masalahnya.
“Kamu harus semangat, Dera. Demi Ibu dan ... Mas Daren.”
**
Hadiah dan vote jangan lupa guys. Biar othor semakin semangat. Like ma komennya juga, ye. Hihihi.
__ADS_1