Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Season 2: 31


__ADS_3

Dengan berat hati Alden meninggalkan istrinya di dalam, rasanya sangat berat ketika dia meninggalkan istrinya sendirian di sana. Namun, Alden berusaha meyakinkan dirinya sendiri, bahwa Zanira kuat, perempuan itu pasti bisa bertahan.


Di dalam mobil, Alden mengotak-atik ponsel. Pria itu menghubungi kepala bodyguard di apartemennya.


“Bawa anak buahmu, maksimal lima,” titah Alden.


“....”


“Aku tidak mau kalian teledor, tetap awasi Zakira di rumah Papahku.”


“....”


“Baik. Kalian bisa datang malam ini.”


Alden memutuskan sambungan telepon setelah dia selesai berbicara. Pria tampan itu masih memperhatikan bangunan mewah milik sang papah. Bukan, bukan memikirkan pria tua itu, melainkan perempuan cantik nan manis yang selalu membuat jantungnya berdebar-debar. Alden tersenyum saat membayangkan wajah lucu Zakira.


“Belum ada dua puluh menit kita berpisah, tapi aku sudah rindu. Wajahmu, suaramu, dan omelanmu,” ucap Alden seraya memandang lurus ke depan.


Baru ingin menghidupkan mesin mobil, Alden melihat Rasan berjalan ke arah mobilnya. Tak lama wanita cantik dengan pakaian seksi itu mengetuk kaca mobilnya, meminta Alden untuk turun. Dengan terpaksa Alden turun kembali dari mobil, dia berdiri tengap dengan wajah datar nan dingin.


“Kamu tidak rindu aku?” tanya Rasan dengan pedenya. Alden mendecih.


“Memangnya kau siapa?” Alden menatap sinis.


“Ayolah, Alden, jangan seperti ini. Kita pernah menjalin kasih, tapi kamu masih kaku saja,” lontar Rasan.


“Apa kau pikir aku peduli? Aku sudah tidak peduli denganmu. Jadi, tidak perlu mengurusi urusanku!” tekan Alden.


“Bukankah kamu masih mencintaiku?” Tiba-tiba Rasan memeluk lengan Alden erat, membuat sang empu terkejut.


“Sayang!”


Teriakan Zakira mengejutkan keduanya, Alden langsung mendorong tubuh Rasan agar menjauh darinya. Pria itu berlari menghampiri sang istri, menggenggam jemari Zakira dengan erat.

__ADS_1


“Dia langsung memeluk lenganku,” kata Alden jujur.


“Aku tahu. Dia memang agak aneh,” cetus Zakira.


Zakira mencebikkan bibirnya, kedua tangannya sudah terlipat di dada. Bukannya takut, justru Alden merasa sangat gemas dengan tingkah Zakira. Tanpa ba bi bu Alden mencuri kecupan di bibir istrinya itu.


“Kamu, ih.” Zakira memukul-mukul pelan dada Alden, lalu menyembunyikan wajahnya di sana.


Melihat adegan romantis Zakira dan Alden, Rasan menjadi panas. Dia terus menggerutu, sumpah serapah entah sudah berapa kali terlontar dari bibirnya.


“Bisa minggir, Mbak? Soalnya suami saya mau pulang,” tegur Zakira.


“Ck.” Rasan mendecih, melangkah dengan mengentakkan kakinya memasuki rumah Tuan Hander.


Zakira tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah Rasan, perempuan manis itu sampai memegang perutnya. Alden dibuat semakin gemas, langsung memeluk erat Zakira.


“Ternyata kamu bisa menyindir juga,” ucap Alden sambil mencubit pelan hidung Zakira.


“Dia yang cari gara-gara duluan, jadi jangan salahkan aku kalau lebih parah,” kata Zakira dengan kekesalan menggebu-gebu.


“Ya sudah sana kamu pulang.”


“Ngusir?”


“Iya. Udah sana.”


Zakira mendorong tubuh Alden agar masuk ke dalam mobil. Perempuan itu menggoyang tangannya, sebagai salam perpisahan.


“Dadah! Hati-hati di jalan.”


“Kamu serius nggak ikut pulang?” tanya Alden memastikan.


“Nggak, Alden. Udah sana.”

__ADS_1


“Tadi Sayang, sekarang Alden,” cetus Alden. Membuang wajahnya tanda merajuk.


Zakira tertawa renyah, lalu mencubit pelan pipi Alden. “Udah, ya, Sayang. Kamu harus pulang. O, ya, titip salam buat Mamah.”


“Aku akan kembali besok.”


“Iya, iya. Aku tahu kamu tidak bisa jauh dariku,” sindir Zakira.


“Tapi kenapa kamu memaksa aku untuk menjauh?” Alden menaikturunkan sebelah alisnya.


“Demi kebaikan kamu. Dah, ah, sana pulang.”


Menghembuskan napas kasar, Zakira kembali menyemangati dirinya sendiri. Setelah mobil Alden sudah tidak terlihat lagi, Zakira segera melangkah masuk ke dalam rumah.


Dia bisa mendengar percakapan Rasan dan ayah mertuanya, posisi mereka duduk membelakangi pintu, membuat keduanya tidak melihat kehadiran Zakira.


“Kamu harus membuat gadis kampung itu tidak nyaman di sini.” Tuan Hander memberi perintah pada Rasan.


“Pasti, Om. Aku sangat benci dia, yang sudah merebut Alden dariku,” sahut Rasan.


Lalu tawa keduanya terdengar saling bersahutan. Zakira hanya bisa menggelengkan kepalanya, tetapi senyum tipis terbit di bibirnya.


Baiklah, Mbak Rasan. Kita buktikan saja, siapa yang akan pergi dari rumah ini. Aku ... atau kamu.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2