
“Pak Befan capek? Biar Vera aja yang lanjutin, Pak Befan bisa istirahat.”
“Nggak.”
“Benaran, Pak? Saya serius, loh. Mending Bapak istirahat dulu sana.”
“Saya masih bisa. Sebentar lagi juga selesai.”
Dua manusia berbeda genre sedang berdebat. Vera terus meminta Befan untuk istirahat, tetapi pria itu tetap keukeuh menolak. Dari gazebo Dera memantau sepupunya sambil tertawa-tawa membuat Daren bingung.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Daren sambil mengusap lembut wajah Dera.
“Lihat, Mas! Mereka berdua cocok, ya? Sayangnya Befan dingin banget sama Vera,” celetuk Daren.
Daren hanya tersenyum saja. “Biarkan saja, Sayang. Kita tidak boleh ikut campur.”
“Iya, iya. Si paling benar!” Dera mencebikkan bibirnya, kesal. Melipat tangan di dada, Dera memandang malas Daren.
Huff.
Kalau sudah merajuk, Daren pasti selalu kelimpungan. Dia berusaha membujuk istrinya dengan terus mengecup pipi wanita itu, tangannya tak lepas memeluk tubuh Dera.
Berbeda dengan Vera dan Befan. Keduanya masih sibuk dengan ikan gurami. Sudah hampir selesai, sepuluh ikan gurami hampir matang semua. Vera tersenyum lega, akhirnya sebentar lagi dia bisa istirahat.
“Mau minum, Pak?” tawar Vera pada Befan. Dia memang ingin mengambil minum karena haus.
__ADS_1
“Boleh. Tapi jangan es, saya tidak bisa minum es,” ucap Befan. Vera mengangguk patuh.
Saat Vera mengambil minum di dapur, seseorang muncul dari samping rumah. Senyum Pandu merekah ketika melihat Daren dan Dera.
“Maaf. Aku datang karena diundang Ibu Hamidah,” ujar Pandu sebagai jawaban atas kerutan bingung Dera.
“Oh, baiklah. Sini bergabung,” ajak Daren. Dia berusaha meluluhkan hatinya sendiri untuk tidak cemburu.
“Terima kasih, Paman.”
Pandu memilih mendekati Befan, dia tidak ingin mengganggu pamannya bersama sang istri. Meski rasa cinta itu masih ada, tetapi Pandu cukup sadar diri posisinya sekarang ini. Dia bukan lagi pacar Dera, tunangan apalagi calon suami wanita hamil itu. Dia hanya orang lain, yang mencoba kembali masuk untuk menjadi seorang teman.
“Silakan dicoba, Pak.” Befan menyodorkan satu ikan gurami yang sudah matang.
“Ahahaha. Saya ini baru datang, loh, masa iya langsung disuruh makan,” kata Pandu sambil tertawa.
Lagi-lagi Pandu tertawa. Namun, tawanya terhenti ketika mendengar teriakan Vera.
“Mas Pandu kesini? Kok, nggak bilang-bilang!” teriak Vera.
“Aku lupa ngabarin kamu, Ver,” jawab Pandu.
Vera meninju pelan lengan Pandu, membuat sang empu terkekeh geli. Refleks tangan Pandu mengacak rambut Vera yang tertata rapi.
“Tuh, kan, rusak,” cetus Vera.
__ADS_1
“Maaf, maaf. Tanganku jahil,” sahut Pandu.
“Hmm.”
“Eh, iya lupa. Ini Pak Befan, minumnya.” Vera menyodorkan segelas air putih pada Befan, langsung diambil oleh pria itu.
Suasana berubah menjadi senyap, Vera memandang satu persatu pria di depannya yang tengah memindahkan ikan di piring. Keduanya tampak menggoda dengan kelebihan masing-masing. Vera langsung memukul kepalanya sendiri, karena pikirannya sudah terlalu jauh.
Sedangkan pasangan suami istri, tengah menatap tiga orang di depan mereka. Wajah Dera berubah murung, dia tidak suka kedatangan Pandu. Pria itu merusak momen antara Befan dan Vera.
“Jangan aneh-aneh, Sayang. Biarkan mereka menjalani kehidupan dengan versi mereka,” ingati Daren.
Dera menghela napas. “Iya, Mas. Cuma agak sebel aja, padahal tadi sudah mulai dekat.”
“Udah stop, ya. Jangan coba-coba menjodohkan Vera dengan Befan. Karena belum tentu keduanya ikhlas dan suka. Oke?”
“Oke, Mas. Maafkan aku.”
“Iya, Sayangku.”
Daren langsung memeluk Dera, mengecup puncak kepala wanita itu.
**
__ADS_1
Terima kasih untuk yang sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan like dan komen. Jika ada lebih vote, bolehlah kasih ke om Daren. Atau mau kasih kopi juga, dipersilahkan. 😁