Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Season 2: 18


__ADS_3

“Ada apa? Kenapa datang?”


Zakira menatap Alden yang berada di ruang keluarga. Pria itu datang ketika jam makan siang, tidak mengabari Zakira sama sekali.


“Tidak ada,” jawab Alden santai.


“Kamu—“


“Kenapa? Tampan? Jelas.”


“Bisa tidak, jangan buat orang kesal,” gerutu Zakira.


“Kenapa menyalahkan aku? Bukannya kamu kesal sendiri? Dasar perempuan.”


Ah, Zakira mengabaikan ucapan itu. Dia tidak akan pernah menang melawan Alden, sebab pria itu sangat licik dan tidak mau mengalah.


“Ayo pergi.”


“Kemana?” tanya Zakira.


“Apa kamu selalu begini? Bertanya terus?” Alden menatap malas Zakira.


“Aku ganti dulu.”


Dari pada harus berdebat terus, Zakira memilih menyetujui ajakan Alden. Gadis itu pergi ke kamar, untuk berganti pakaian. Sebenarnya Zakira sangat malas, tetapi Alden memaksa. Sweater mint beserta rok mini menjadi pilihan Zakira. Tidak lupa gadis itu juga memoles wajahnya tipis, agar tidak kelihatan pucat.


“Ayo,” ajak Zakira ketika sudah berada di ruang keluarga.


“Hmm.”


Zakira mengikuti langkah Alden, dia akui pria itu cukup tampan saat ini. Apalagi dengan pakaian yang dia pakai.


“Masuk,” titah Alden. Zakira mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobil.


Selama dalam perjalanan tidak ada percakapan antara keduanya, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Zakira memilih menatap luar jendela, melihat banyaknya gedung di sepanjang jalan.

__ADS_1


“Kamu pernah makan es krim?” Alden buka bicara seraya fokus pada kemudi.


“Pernah, lah. Memangnya siapa yang tidak pernah?” Zakira balik bertanya dengan malas.


“Tidak tahu. Mengapa bertanya padaku?”


“Sudahlah, kamu fokus mengemudi aja.”


Dasar Alden sinting, batin Zakira. Pertanyaan macam apa itu, siapa yang tidak pernah makan es krim? Ah, dasar Alden.


“Ungkapkan saja, aku tidak apa,” ucap Alden.


“Ungkap apa?”


“Kamu kesal padaku, kan?”


“Ti-tidak,” sahut Zakira cepat.


“Untuk apa berbohong, tidak ada gunanya. Aku tahu kamu kesal, tapi satu yang harus kamu tahu, itu caraku untuk mencairkan suasana.”


“Kamu unik,” puji Zakira sukses membuat Alden tertawa.


Zakira terus menatap Alden yang kembali fokus mengemudi. Wajah tampan itu saat terkena sinar matahari, semakin membuatnya tampan. Namun, Zakira tetap tidak bisa menembak seorang Alden.


“Mau makan ayam gebrek seperti malam itu?”


Ternyata mobil telah berhenti, Zakira meringis karena terlalu lama melamun. Langsung saja dia mengangguk, lalu membuka sabuk pengaman yang sejak tadi melindungi tubuhnya.


“Ini di tempat yang sama, kan?”


“Tentu. Kamu masih ingat?”


“Masih, dong. Makanan seenak itu tidak bisa aku lupakan,” ujar Zakira antusias.


“Berarti kamu juga tidak pernah melupakanku, sebab aku yang membawamu ke tempat enak ini.” Alden melangkah lebih dulu meninggalkan Zanira.

__ADS_1


Pede sekali pria ini.


🌺🌺


Lelah berkeliling seharian, Alden menghentikan mobilnya di taman kota yang sangat ramai. Pria itu membeli dua es krim rasa strawberry dan langsung diberikan pada Zakira.


“Aku ingin pulang,” lirih Zakira.


“Sebentar lagi. Ayo, turun.”


“Tapi ....”


“Ayo turun dulu,” tekan Alden.


Mau tidak mau Zakira menuruti keinginan Alden, untuk turun dari mobil dan berjalan di belakang pria itu. Alden memilih duduk di atas rerumputan, Zakira pun mengikutinya.


“Waktumu hanya untuk pekerjaan. Bersenang-senanglah, meski hanya sebentar. Kamu butuh udara segar untuk menyegarkan otak setelah seharian bekerja,” ujar Alden.


Zakira menunduk, memilin ujung rok yang dia kenakan. Bukan tidak ada waktu, hanya saja Zakira terlalu malas keluar rumah karena dia tidak memiliki teman. Dulu, sewaktu Zanira belum menikah, adiknya itu sangat malas untuk bepergian sekembalinya dari bekerja. Makanya Zakira juga tidak pernah pergi untuk refreshing.


“Kenapa kamu diam?”


“Udaranya segar,” celetuk Zakira.


“Ya. Sangat segar, seperti menatapmu saat ini.”


“Gombal?”


“Menurutmu?”


“Tidak cocok sama sekali. Berkacalah, wajahmu kelihatan sangat jelek,” ejek Zakira.


Seketika mata Alden melotot sempurna dengan wajah merah padam. Bukannya meminta maaf, Zakira malah tertawa terbahak-bahak.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2