Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 55. Vera Mengorek Informasi


__ADS_3

Lalu lintas kota Jakarta begitu padat siang itu. Bunyi klakson yang saling bersahut-sahutan, semakin membuat riuh keadaan. Aroma polusi sangat pekat menyapa indera penciuman Vera dan Pandu.


“Sekarang Kak Mima ada di mana?” Vera tak mengalihkan pandangan dari padatnya lalu lintas.


“Di rumah orang tuanya,” jawab Pandu.


“Mas Pandu udah nikahin dia?” Sungguh Vera sangat kepo dengan apa yang terjadi. Namun, bukannya menjawab Pandu malah menundukkan kepalanya.


Ingin protes karena kesal, tetapi Vera tak tega. Alhasil dia biarkan saja Pandu berjalan menunduk seperti itu, sampai pria itu sendiri yang angkat kepala dan menjawab pertanyaannya.


Demi tahu kelanjutan cerita dari Pandu, Vera bela-belain berjalan kaki mengikuti pria itu. Sayangnya, bukan cerita yang dia dapat melainkan lelah.


“Kamu mau es krim?” tawar Pandu saat melihat pedagang es krim di bawah pohon besar.


“Bolehlah. Tapi rasa vanila, ya,” kata Vera. Pandu mengangguk, mengiyakan.


Pandu pergi untuk membeli es krim, sedangkan Vera menunggu di tempat mereka memberhentikan langkah. Panas semakin membakar kulit, hampir saja Vera mengumpat karena Pandu terlalu lama.


“Antre. Maaf, ya,” ungkap Pandu cepat karena tahu Vera sedang kesal.


“Iya, nggak apa-apa. Btw, makasih, ya.”


“Sama-sama.”


Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Vera sibuk menikmati es krim sembari melihat lalu lalang di jalan. Menanti Pandu buka suara pun, membuatnya seperti menanti hujan di siang bolong yang sangat panas. Percuma.


Entah sejauh apa mereka ingin berjalan, Pandu tak memperlihatkan tanda-tanda memesan taksi. Dia malah semangat berjalan kaki apalagi ditemani mengobrol ringan oleh Vera. Gadis yang dulunya begitu cuek pada dia.


“Apa kamu tidak lapar lagi? Kita sudah berjalan sejauh ini,” tanya Pandu pada Vera ketika mereka memilih berhenti sebentar untuk istirahat.


“Hahaha, Anda lucu. Sejauh ini, tentu saja lapar dan haus!” cetus Vera.


“Jangan menyalahkanku, kamu sendiri yang maksa ikut berjalan kaki tadi.”


“Itu karena aku kepo dengan si Mima. Tapi sayangnya Mas tidak bicara apa pun. Aku merasa perjuanganku sia-sia.”


Pandu terkekeh mendengar celetukan Vera. Tanpa sadar dia mengacak rambut Vera gemas. Namun, menit berikutnya dia meminta maaf.


“Aku belum menikahi Mima. Meskipun dia mengaku telah hamil, tetapi aku merasa itu bohong. Kalau pun dia hamil, seharusnya usia kandungannya sudah empat bulan lebih,” jelas Pandu.

__ADS_1


“Terus?”


“Perutnya enggak kelihatan besar, makanya aku nggak percaya sama dia.”


“Badan Kak Mima, kan, kurus. Bisa aja memang belum nampak,” sahut Vera.


“Aku nggak tahu, Ver. Aku dilema.”


Sebenarnya Vera paling malas mendengar curhatan orang dilema, tapi kali ini dia harus berubah baik demi mendapat informasi kembali.


“Usulku Mas bawa aja Kak Mima ke dokter kandungan buat periksa. Nah, dari sana baru ketahuan hamil atau tidaknya,” usul Vera.


“Kalau hamil?” tanya Pandu dengan wajah polosnya.


“Sebenarnya ini pertanyaan terbodoh yang pernah orang tanyakan ke aku. Tapi karena Mas yang bertanya, mau tidak mau aku harus jawab. Mas harus nikahi dia, buat tanggung jawab sama bayi yang ada di dalam kandungannya.”


“Masalahnya kalau itu bukan anak aku, gimana? Ya, siapa tahu aja dia pernah main sama orang lain juga.”


“Anda suuzon. Beginilah pria, tidak mau mengakui kesalahannya!” tekan Vera yang sangat amat kesal.


“Maaf. Ver, apa kamu membenciku?”


“Ya udah, bunuh aja aku sekarang,” ucap Pandu.


“Gila! Kamu harus tanggung jawab, jangan bisanya kabur terus. Dasar pria brengsek!”


Melakukan perjalanan siang bersama Vera, bukannya membuat Pandu sedih dan takut. Dia malah terasa terhibur dengan ocehan gadis itu.


**


“Waw! Ternyata di dalam rumah ini ada perpustakaan!” seru Dera dengan wajah gembira.


“Iya, Sayang. Soalnya Mas sangat suka membaca.”


Daren mengikuti langkah istrinya memasuki kamar yang sudah dia rubah menjadi tempat membaca. Semenjak menikah, Daren sudah jarang masuk ke dalam sini. Jadi, tampak berdebu meski selalu dibersihkan.


“Aku klaim jadi tempat favoritku boleh?” tanya Dera dengan puppy eyes.


“Boleh, Sayang. Apa sih yang nggak buat kamu.” Daren mencubit gemas pipi chubby Dera.

__ADS_1


Wanita hamil itu mulai melihat-lihat buku yang tertata rapi. Matanya menyusuri judul setiap buku, mencari yang menarik untuk dia baca. Namun, tatapannya terhenti pada album yang terletak di rak paling ujung. Foto seseorang yang sangat amat dia benci, berada di dalamnya.


“Mas!” teriak Dera geram. Daren langsung berlari menghampiri.


“Ada apa, Sayang? Kenapa teriak-teriak?” tanya Daren khawatir.


“Harusnya aku yang tanya. Kenapa ada foto Jilia si ular berbisa di sini? Seharusnya sudah musnah sejak lama, kalian, kan, sudah berpisah!” geram Dera.


“Itu ... sayang, Mas lupa buangnya.”


“Bohong! Pasti Mas sengaja simpan buat kangen-kangenan. Iya, kan? Ngaku aja, deh!”


“Ya ampun, nggak, Sayang.” Daren tampak panik.


Daren mencebikkan bibirnya, kedua tangannya sudah terlipat di dada.


 “Kalau kamu tidak percaya, Mas udah nggak ada rasa sama dia lagi. Ini foto bakalan Mas bakar,” ujar Daren meyakinkan.


“Ya udah, buruan bakar. Minta tolong Reva aja, aku percaya dia pasti bakalan bakar,” imbuh Dera.


“Kamu nggak ingin, Mas sendiri yang bakar?” tanya Daren sambil mengusap pipi istrinya.


“Nggak. Aku gak rela Mas ngotorin tangan demi bakar foto dia.”


“Uh, so sweet, Sayangku.”


“Dan lagi, tidak boleh ada album orang lain kecuali aku. Karena tempat ini sudah jadi milikku!”


“Baik, Ratuku!”


**


Jangan lupa like dan komen, guys. Kalau ada belebih vote, bolehkan kirim ke othor. Siapa tahu juga mau kasih kopi, nggak apa, kok, pasti othor terima. Hehehe.


 


Sambil menunggu novel ini up lagi, mampir ke novel kakak othor yuk. Ceritanya gak kalah seru, loh.


__ADS_1


 


__ADS_2