Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 73. Hanya Sebagai Teman


__ADS_3

Gemerlap lampu kota, tampak indah bila dilihat dari atas gedung. Pun suasana malam dipenuhi dengan taburan bintang dan terangnya bulan. Vera berdiri di pembatas gedung, menatap padatnya lalu lintas di bawa sana. Sedangkan Befan, hanya memperhatikan Vera dari bangku yang telah dia pesan.


Pria itu sengaja memilih outdoor, agar tidak mendengar keributan dan bisa menikmati bintang malam ini. Dia tidak tahu kalau Vera pun juga menyukainya.


Gadis dengan balutan dress berwarna biru muda, dengan aksen di dadanya, kembali menuju tempat di mana Befan berada. Dia mengagumi semua yang ada di sini, termasuk ciptaan Tuhan yang begitu tampan.


“Apakah kita bisa memulai makan malamnya?” tanya Befan ketika Vera telah duduk.


Gadis itu mengangguk malu-malu, pun gerogi karena terus dipandangi.


“S-selamat makan,” cicit Vera.


“Ya, selamat makan.”


Lalu mereka hanyut dengan makanan dan minuman yang telah Befan pesan. Sungguh, Vera sangat bahagia bisa makan malam seperti yang dia impikan dulu. Terlebih lagi, sosok yang mengajaknya sangat istimewa. Bohong jika tidak terpesona dengan sosok Befan, meskipun dingin dan datar seperti kanebo kering.


Selama aktivitas makan, tidak ada yang membuka suara. Befan kelihatan sangat meresapi makannya, berbeda dengan Vera yang diam saja karena gugup. Dia hanya bisa terus menunggu Befan mengatakan sesuatu. Namun, sampai satu jam, pria itu tidak mengatakan apa pun. Bahkan sudah berdiri di dekat pembatas untuk melihat indahnya langit malam.


“Yah ...,” desah Vera.


Dia berpikir Befan akan memberinya kejutan. Seperti mengajak berpacaran atau melamarnya. Ternyata makan malam biasa, Vera mendesah kecewa.


“Ver, sini,” panggil Befan, melambaikan tangannya pada Vera.


Gadis itu menghampiri, mengembangkan senyumnya saat Befan menunjuk bintang yang berbentuk seperti love. Jantung Vera sudah berdetak tidak karuan.


“Indah bukan?” tanya Befan.


“Iya. Indah banget,” cicit Vera.

__ADS_1


“Seperti gadis yang ada di depanku, sangat indah bila dipandang,” gombal Befan.


Vera menundukkan kepala, menahan senyum dan rasa bahagia. Dia pun malu karena mungkin sekarang kedua pipinya sudah benar-benar merona.


“Ver, boleh saya bicara sesuatu?”


“Boleh. Katakanlah.” Vera tersenyum. Menunggu dengan tidak sabar.


Befan tampak menghirup napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya kembali. Vera sempat memejamkan mata, merasakan degup jantung yang bekerja dengan menggila.


“Saya ingin menjadikanmu te—“


“Iya! Aku mau!” potong Vera.


“Hah?” Befan tampak bingung. Menggaruk kepala yang tidak gatal.


Vera semakin mengembangkan senyumnya, sangat-sangat bahagia. Memegang tangan Befan dan meremasnya. Namun, senyumnya surut ketika pria itu melepaskan genggaman mereka dengan kasar.


“Maaf. Kamu salah sangka,” ucap Befan.


“Maksudnya?” Vera menatap bingung.


“Saya hanya ingin menjadikanmu teman, bukan pacar. Maaf sekali lagi, kamu sepertinya salah sangka. Dan saya, sebenarnya sudah mempunyai tunangan.”


Ucapan Befan menghentikan aliran darah Vera. Gadis itu diam mematung dengan napas tertahan. Tidak. Mungkin ini hanya mimpi, ya, hanya mimpi. Vera menepuk kedua pipinya dengan kasar.


“Kamu tidak bermimpi, Vera. Saya memang sejak awal hanya ingin dekat dan menjadi temanmu, tidak lebih. Karena sebelum datang kemari pun, saya sudah memiliki tunangan,” jelas Befan.


Sekali lagi, hati Vera bagai diremas-remas lalu dibuang begitu saja. Tanpa sadar air matanya menetes. Napasnya tersengal-sengal menahan sesak yang sudah memenuhi dada.

__ADS_1


“Ini maksud dari makan malam itu? Kamu hanya ingin menjadikan aku teman, setelah apa yang kamu lakukan padaku!” teriak Vera. 


“Apa yang saya lakukan?”


“Kamu tanya apa yang kamu lakukan, iya? Kamu sudah buat aku jatuh cinta dengan memberi perhatian. Kamu ....” Vera tidak bisa melanjutkan perkataan karena sesak kembali menyerbu hatinya.


Tubuhnya luruh dengan tangis yang terdengar sangat pilu. Vera meninju-ninju lantai dengan kuat, melampiaskan amarah yang telah membumbung tinggi di dada.


“Ngapain kamu ngajakin aku diner, kalau hanya ingin melukai hatiku?”


“Tidak semua diner dianggap sebagai momen pengungkapan perasaan. Saya hanya ingin mengajakmu makan, sebagai teman yang baik.”


Vera tertawa, mengusap air matanya dengan kasar. “Mungkin memang aku yang terlalu berharap, pada seseorang yang ternyata adalah si brengsek. Setelah aku berusaha menjauh, dia memberikan harapan hingga membuat debar-debar cinta menyala di dada. Nyatanya, seseorang itu hanya coba-coba dan dengan berani ingin menjadi temannya. Miris memang,” lirih Vera.


“Maaf, Ver. Saya tidak berniat membu—“


“Ya, aku paham. Seharusnya aku yang meminta maaf, karena sudah berharap tadi. Terima kasih atas makan malamnya, semoga ini menjadi yang pertama dan ... terakhir.”


Vera berlari meninggalkan Befan, dia ingin meluapkan amarahnya dengan menangis sepuas-puasnya di kamar. Vera kecewa, marah, dan kesal. Hatinya sangat mencintai pria itu, tetapi nyatanya dia hanya dijadikan bahan coba-coba oleh Befan.


Kenapa, Tuhan?


**


Begitu syulit, lupakan othor. Karena othor ... baik. Hihihi😂


 


 

__ADS_1


__ADS_2