Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 15. Makan Malam


__ADS_3

Detak jantung, semakin menggila ketika melihat Dera melangkah menuruni anak tangga. Dress merah muda, sebagai hadiah yang Daren berikan pada gadis itu. Tampak indah melekat tubuh Dera, malam ini, dia begitu memukau dimata Daren.


Untuk pertama kalinya, jantung Dera berdebar tak karuan saat melihat Daren, pria itu memakai jas berwarna peach pastel yang senada dengan celananya. Ketampanan Daren, bertambah dua kali lipat dimata Dera.


Daren berdehem demi menghilangkan gugup yang melandanya. “Sudah siap? Ayo kita pergi.”


“Iya. Ayo.”


Dengan cepat Dera melangkah mendahului Daren. Bertambah gugup, saat dia merasa Daren memperhatikannya terus dari belakang. Alhasil, Dera memilih berhenti dan meminta Daren untuk berjalan lebih dulu.


“Kenapa?” tanya Daren bingung.


“Ada yang ingin aku ambil. Om duluan saja,” ucap Dera. Berbalik, pura-pura akan mengambil sesuatu.


Tidak merasa curiga, Daren mengangguk saja. Pria itu menuruti keinginan Dera, melangkah duluan menuju mobil yang sudah stay di halaman rumah. Malam ini, mereka akan diantar oleh sopir. Sebab, Daren sudah lelah kalau harus mengemudi sendiri.


Hampir lima menit pria itu menunggu Dera, tetapi belum ada tanda-tanda gadis itu di pintu utama. Menghela napas, Daren gusar. Saat ingin menyusul Dera, gadis itu sudah menampakkan dirinya. Dia berjalan cepat menghampiri Daren.


“Maaf Om, lama,” ujar Dera.


“Tidak apa. Biasanya juga kamu selalu lama,” celetuk Daren. Berniat bercanda, tetapi Dera menanggapi serius.


“Oh, jadi Om nggak suka? Kalau gitu, aku nggak jadi ikut!” Dera berbalik, ingin pergi tapi langsung ditahan oleh Daren.


Dengan tatapan menyesal, Daren menggenggam jemari Dera dengan erat. “Maaf. Saya tidak berniat berbicara seperti itu. Sekali lagi, maaf, ya,” ucap Daren dengan kepala menunduk.


Ah, Dera jadi tidak tega. Dia melepaskan genggaman Daren dan langsung masuk ke dalam mobil. Gadis itu memilih duduk di sana, tentunya dengan wajah masih kelihatan kesal. Daren menyusul Dera masuk, pria itu memilih duduk di bangku penumpang bersama istrinya.


“Apa kamu memaafkan saya?” tanya Daren sambil menatap Dera dengan lekat


“Iya, iya. Udah, ish. Jangan liatin aku, kaya’, gitu!” omel Dera sambil mendorong dada Daren, agar menjauh darinya.


“Kamu cantik. Mataku enggan berpaling dari wajahmu.”


Ungkapan yang lebih ke menggoda itu, membuat pipi Dera menghangat. Dia langsung membuang wajah ke samping, agar Daren tidak melihat pipinya yang sudah memerah. Tentu saja itu mengundang senyum Daren.

__ADS_1


“Buruan berangkat. Kalau tidak, aku bakalan keluar!” ancam Dera. Daren terkekeh.


“Pak, berangkat,” perintah Daren.


Mobil melaju membelah jalanan kota. Sepasang suami-istri masih sama-sama diam, begitu pun sopir yang hanya fokus pada kemudinya.


Semakin mobil melaju kencang, jantung Dera semakin berdebar. Rasanya dia tidak percaya diri, apalagi akan bertemu orang tua Pandu kembali. Belum siap, tetapi tidak enak bila menolak.


**


Menempuh perjalanan hampir satu jam, mobil Daren memasuki halaman luas rumah bergaya Eropa tiga lantai. Gegas sopir menepikan mobilnya, setelah itu sang sopir keluar untuk membukakan pintu tuan dan Nyonya.


Dengan dibantu Daren, Dera turun dari mobil. Karena memang sudah pernah datang ke rumah ini, jadi Dera tidak terlalu kaget. Hanya saja, jantungnya semakin berdebar tak kala seseorang yang hampir dia panggil 'ibu' berdiri di teras rumah dengan senyum merekah.


"Kalau kamu merasa tidak nyaman, bilang saja pada saya," bisik Daren.


"Iya, Om," balas Dera. Segera, dia melangkah mengikuti Daren.


Ibu Pandu langsung memeluk Dera erat. Dia memang sudah menganggap gadis itu seperti anak sendiri, bahkan sangat tidak sabar ingin menjadikan menantu ketika Pandu masih pacaran dengan Dera. Namun, takdir berkata lain, ternyata Dera malah menjadi adik iparnya.


"Baik, Bu," jawab Dera gugup.


Dera bingung harus memanggil Fina dengan sebutan apa. Tidak nyaman rasanya kalau memanggil wanita itu dengan sebutan 'kakak'. Walau bagaimana pun, Fina memang kakak kandung Daren.


"Apakah kami tidak disuruh masuk?" tanya Daren dingin. Menatap sang kakak dengan malas, yang dibalas oleh Fina dengan kekehan.


"Hahaha, baiklah. Ayo, Dera, kita masuk," ajak Fina sambil menggandeng Dera.


Daren menghela napas kasar. Dia yang adik kandung, diabaikan.


Fina membawa Dera dan Daren langsung ke ruang makan. Keduanya awalnya bingung, mereka pikir akan berbicara lebih dulu di ruang utama. Awalnya Daren biasa saja, tetapi ketika melihat sosok yang dia benci tengah duduk, seketika amarah mulai memenuhi relung hati. Namun, sebisa mungkin dia menekan agar tak meledak.


"Waw! Pengantin baru, udah datang," celetuk seorang pria yang duduk di seberang Daren, hanya terhalang meja saja.


"Lebih baik kita makan lebih dulu. Hafran, jangan terus menggoda Daren," peringat Fina menatap tajam adik sepupunya.

__ADS_1


"Baik, Kak," balas pria itu. Tersenyum ke arah Daren. Bukan senyum persaudaraan, melainkan senyum peperangan.


Lalu, semua yang ada di sana memulai makan malam mereka. Dera tampak canggung, bahkan gadis itu belum juga mengambil nasi dan lauk. Daren yang melihat sang istri hanya diam, berinisiatif untuk mengambilkan Dera makan.


"Gak kebalik, tuh. Suami ngelayani istri." Tawa terdengar menggema di ruangan itu. Dua orang berbeda jenis kelamin, masih terus tertawa karena perbuatan Daren.


"Memangnya kenapa? Apa salah, bila suami ingin memanjakan istrinya?" Daren balik bertanya, membungkam dua orang tadi.


Mendengar cibiran dari keluarga Daren, membuat Dera langsung menghentikan gerakan Daren untuk mengambilkan sayur ke piringnya. Dera menggeleng, lalu meraih sendok di tangan Daren.


"Aku bisa sendiri," ucap Dera.


"Baiklah. Kamu makan yang banyak, tidak perlu mendengarkan ocehan yang tidak penting," ujar Daren, menatap tajam dua orang di depannya.


"Sudah, sudah. Jangan berdebat lagi, lebih baik fokus pada makanan saja," tandas Fina. Melerai tatapan adik dan sepupu.


Aktivitas makan malam kembali berjalan. Tidak ada yang membuka suara kembali, semuanya fokus pada makanan sesuai perintah Fina. Selain Daren dan Dera, ada Hafran dan Jilia juga sebagai adik sepupu Fina--ibu Pandu. Sebenarnya ada dua saudara lagi yang diundang, hanya saja mereka sibuk jadi tidak bisa datang.


Ketika semuanya sudah selesai makan, Dera beranjak untuk membantu Fina membawa piring kotor ke westafel. Tentu saja kegiatan gadis itu, tidak disukai Jilia. Sejak tadi, dia menggerutu kesal sambil menatap Dera.


"Dasar tukang cari muka!" geram Jilia.


"Kalau Dera tukang cari muka, terus kamu, tukang cari apa? Harta orang? Atau penghancur rumah tangga orang?" sentak Daren. Menatap tajam Jilia.


"Tidak perlu membela istrimu itu! Aku tahu kalian tidak saling mencintai!" balas Jilia tak mau kalah.


"Setidaknya dia setia! Bukan sepertimu, yang tidak tahu diri!"


**


Othor benar-benar lagi sibuk dunia nyata. Ini saja, ngetik dua hari karena memang tidak sempat. Maaf kalau othor udah ngecewain kalian. Othor juga sedang berusaha, mencairkan otak agar terus dapat ide.


Menulis sebuah cerita, tidaklah gampang. Jadi, mohon dimaklumi kalau ide sedang tidak ada.


__ADS_1


Istrinya dihina? Om Daren maju paling depan. Ape, Luh?


__ADS_2