Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 75. Jemput Aku


__ADS_3

Setibanya di hotel, Vera langsung merebahkan diri di kasur. Menatap langit-langit kamar dengan wajah sendu. Namun, dia kembali membakar semangat agar tak terus-menerus bersedih. Niatnya dia ingin berjalan-jalan sore nanti, sambil mencoba makanan khas Bandung. Vera juga ingin menikmati suasana malam di kota Bandung, berharap bisa merelakskan pikirannya.


Karena kelelahan Vera tertidur dan kembali bangun jam lima sore. Dia bergegas membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang bagus. Dirinya sudah tak sabar untuk berjalan-jalan.


Sebenarnya Vera ingin pergi ke rumah nenek temannya, tetapi mengingat tidak mau merepotkan, dirinya memilih untuk menginap di hotel saja.


“Es krim cokelatnya satu,” pinta Vera pada pedagang.


Dirinya memilih duduk di bangku yang sudah pedagang es krim persiapkan, sambil menikmati cimol yang dia beli tadi. Suasana di sini cukup menenangkan, dia bisa menghilang sedikit demi sedikit beban.


Setelah menghabiskan satu es krim, Vera lanjut berjalan di pinggir kota sambil sesekali berseru gembira. Hingga tak terasa malam telah tiba, tetapi dirinya belum kembali ke hotel.


Merasa sangat lapar, Vera memilih mampir di restoran siap saji. Saat akan memasuki restoran, tidak sengaja dia bertabrakan dengan seorang perempuan yang baru saja keluar.


“Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja,” ucap Vera merasa tak enak.


“Tidak, Mbak. Saya yang seharusnya meminta maaf, Karena sudah menabrak Mbak.” Perempuan itu menyentuh tangan Vera, menjabatnya dan meminta maaf berulang kali.


Saat keduanya sedang bersalaman, tiba-tiba seseorang datang dan menepuk bahu perempuan di depan Vera.


“Kenapa, Sayang?”

__ADS_1


“Ini Mas, aku tidak sengaja menabrak Mbak ini,” ujar perempuan itu. Sang pria langsung melihat ke arah Vera.


Seketika keduanya saling menatap, menyelami manik mata satu sama lain. Vera tidak menyangka, niat ingin menghindari malah dipertemukan kembali. Dia meremas tali tas, menunduk sambil menggigit bibir.


“Oh, iya, Mbak, ini tunangan aku. Namanya Mas Befan. Sekali lagi aku mohon maaf, ya, Mbak.”


Tidak ada yang bisa Vera sangkal lagi, semua benar adanya. Befan sudah memiliki tunangan, bahkan dia melihat sendiri perempuan itu. Cantik. Satu kata yang Vera sematkan untuk seorang perempuan cantik di depannya. Dibanding dirinya, sangat jauh.


“Tidak apa-apa. Kalau begitu saya duluan. Permisi.” Dia memilih berbalik, berlari menyetop taksi.


Vera langsung masuk ke dalam kamar setelah sampai di hotel. Meruntuhkan tubuhnya di ranjang, menangis sejadi-jadinya. Dadanya semakin sesak, dia sakit sekali.


“Halo, Ver?”


“M-mas ....”


“Ver? Kamu kenapa, kok, nangis?” Nada suara Pandu terdengar sangat khawatir.


“J-jemput aku di hotel ternama di Bandung.”


“Kamu di Bandung? Baik-baik, kamu tunggu di sana. Aku akan segera jemput kamu. Ingat, Ver, tenangin diri kamu dulu. Oke?”

__ADS_1


Tanpa menjawab ucapan Pandu, Vera langsung memutuskan sambungan secara sepihak. Gadis itu kembali menangis histeris, bahkan sampai menjerit kecil.


**


“Aku khawatir banget, loh, Mas sama Vera. Masa dia pergi ke Bandung sendirian.”


“Dia sudah besar, Sayang. Pasti baik-baik aja. Oke.” Daren memeluk erat Dera.


“Tapi Mas—“


“Husst, nggak boleh mikir yang macam-macam. Lebih baik sekarang tidur,” kata Daren.


Akhirnya Dera mengangguk, memposisikan diri dengan nyaman agar bisa tertidur nyenyak. Namun, sudah hampir satu jam, dirinya belum tidur juga. Bahkan, Daren saja sudah terlelap pulas.


“Kabar kamu gimana, Ver? Baik-baik aja, kan? Aku khawatir.”


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2