
Setelah memberitahu nenek tentang pesan ayah, Zakira kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Tadi dia sudah mengenakan pakaian tidur, alangkah tidak sopan jika dia tidak ganti. Selesai berganti, Zakira kembali ke bawah dan menemui nenek.
“Ayo langsung berangkat, takutnya ada sesuatu yang terjadi,” ucap nenek sambil merangkul lengan Zakira.
Mobil sudah terparkir sempurna di depan rumah, Alden membukakan pintu untuk kedua majikannya itu. Nenek tersenyum ramah, berbeda halnya dengan Zakira yang malah menunduk.
Selama perjalanan menuju rumah ayah, Zakira dilanda kecemasan. Dia takut terjadi sesuatu dengan keluarganya.
“Jangan khawatir, Nak. Semua pasti akan baik-baik saja.” Nenek memeluk Zakira dari samping, dibalas erat oleh gadis itu.
Tentunya tidak sampai satu jam, mereka sudah tiba di kediaman Daren. Zakira dan nenek masuk berbarengan, tentunya dengan wajah sama-sama cemas.
Semua mata tertuju pada Zakira. Keluarganya berkumpul di ruang keluarga bersama kedua orang tua Arfan juga. Alis Zakira saling bertaut, bingung.
“Duduk, Kir, Bu,” pinta bunda Dera.
Zakira dan nenek menurut, duduk di sofa yang tersedia di sana. Zakira merasa semua orang terus menatap ke arahnya, dan yang membuat dia risi adalah, tatapan mamah Arfan.
“Langsung saja Zanira, Mamah tidak ingin berbasa-basi.” Ucapan mamah Arfan mengalihkan pandangan semua orang.
Jantung Zakira semakin berdegup kencang.
“Aku tidak tahu mereka ada hubungan apa, tapi aku menemukan pesan yang dikirim Kak Zakira. Sungguh aku kaget ketika membacanya.” Zanira menjeda ucapannya. “Kak Zakira meminta agar Arfan berhenti mengganggu dia.”
Mata Zakira melotot sempurna, kepalanya terus menggeleng.
“Kak Zakira. Katakan padaku, ada hubungan apa kalian berdua?” tanya Zanira dengan nada penuh penekanan.
“Tidak. Kami tidak ada hubungan apa pun,” jawab Zakira cepat.
“Jangan bohong, Kak! Karena itu membuatku benci!”
Zakira tidak bisa berkata-kata, dia hanya menangis dengan kepala tertunduk. Adiknya sudah salah paham.
“Arfan tidak mungkin selingkuh, kalau gadis ini tidak menggodanya.”
“Mah! Hentikan!” bentak Arfan.
“Kamu membentak Mamah? Kamu bentak Mamah demi gadis itu? Iya?”
__ADS_1
“Semua ini salah paham. Tolong jangan memojokkan Zakira, dia tidak bersalah di sini,” ucap Arfan.
“Kamu tidak perlu membela dia lagi. Sudah tau kamu adik iparnya, malah ingin digebet,” celetuk mamah Arfan.
Ayah Daren yang sejak tadi diam, sudah merasa panas dengan ucapan mamah Arfan. Kedua tangannya terkepal sempurna, giginya saling bergemeretuk dengan wajah merah padam.
“Kita bisa selesaikan masalah ini dengan cara yang baik dan kepala dingin,” tekan ayah Daren.
“Pak Daren jangan membela putri sulung Bapak, dong. Zanira, kan, juga putri Bapak.”
“Mah! Sudah cukup!” Papah Arfan ikut berbicara, menahan istrinya agar tidak mengeluarkan kata-kata yang akan menyakiti semua orang.
Suasana mendadak mencekam, Zakira masih menunduk dengan air mata yang terus mengalir. Hanya sesenggukan yang terdengar lirih.
Nenek semakin memeluk erat Zakira, menyalurkan kehangatan untuk gadis itu. Sedangkan Dera, diam dengan jemari saling bertaut. Dia bingung, kecewa, dan sakit.
“Biarkan cucuku menjelaskan semuanya,” pinta nenek.
“Benar. Kita juga harus mendengarkan Zakira,” tambah papah Arfan.
Zakira menggeleng kuat, sedangkan nenek mengangguk.
Akhirnya Zakira mengangguk. Menegakkan tubuhnya dan berusaha mengusap air mata.
“Akhir-akhir ini Arfan mendekatiku, dia juga sering mengirim pesan padaku. Aku tidak tahu apa tujuannya, tapi aku sudah sering memperingati dia, untuk menjauhiku.” Zakira menjeda kalimatnya. “Aku juga sadar, tidak mungkin aku menyakiti hati adikku dengan merebut suaminya.”
“Tidak mungkin! Tidak mungkin anakku yang mendekatimu!” teriak mamah Arfan.
“Mau bukti? Saya punya.”
Suara itu, semua orang mengalihkan pandangan ke arah pintu utama. Alden berdiri di sana dengan ponsel berada di tangan, senyumnya sangat menakutkan.
“Belum tentu anak yang Anda pikir baik, benar-benar baik. Jadi, jangan pernah menuduh calon istriku lagi,” ucap Alden lagi, membuat semua orang terkejut.
Calon istri? Sepertinya Alden sudah tidak waras. Zakira ingin marah, tetapi dia juga harus berterima kasih. Ah, sungguh membingungkan.
“Maksud kamu apa?” tanya mamah Arfan.
“Ya. Zakira calon istriku. Dan aku percaya dia tidak menggoda putra Anda.” Penuh dengan penekanan.
__ADS_1
Ayah dan bunda saling bertatap, bingung dengan situasi ini. Keduanya bertanya-tanya lewat sorot mata, benarkah Zakira menjalin hubungan dengan sopir pribadinya?
“Kamu calon suami Zakira? Bukannya kamu sopir pribadinya?” ucap Arfan sambil menunjuk Alden.
Mamah Arfan langsung tertawa keras. Sebelah tangannya merangkul Zanira, masih dengan tawa membahana.
“Apa di keluarga ini standar calon menantu sudah menurun? Bisa-bisanya sopir dijadikan calon suami. Hahaha.”
Kini gantian Alden yang tersenyum miring. Pria itu membuka topi yang dia pakai, merapikan rambut dengan elegan.
“Pak Hans, apa Anda tidak mengenali saya?” Alden menatap papah Arfan, membuat pria paruh baya itu terkejut.
“T-tuan Alden? Tuan Alden dari Keovandra group?”
“Sepertinya Anda tidak lupa.”
“Maaf, Tuan. Tolong maafkan saya dan istri saya.”
“Pah!”
“Ingat partner kerja kita, Mah. Jangan sampai membuatnya marah, dan menghancurkan perusahaan Papah.” Papah Arfan berbisik membuat istrinya langsung kicep.
__ADS_1