Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Season 2: 10


__ADS_3

Seperti biasa, Zakira akan berangkat ke butik setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Bahkan gadis itu sudah masak untuk makan siang neneknya, dia meminta agar wanita paruh baya itu memanasi makanan nanti.


“Kamu kelihatan lelah, apa tidak sebaiknya libur saja dulu,” kata nenek sambil memperhatikan wajah Zakira.


“Nggak, Nek. Kira baik-baik saja, kok. Ya, sudah, Kira berangkat, ya.”


Zakira menyalami nenek, lalu masuk ke dalam mobil pribadi ayahnya. Sopir yang baru saja menutup pintu mobil, menunduk hormat pada nenek. Setelah itu dia memutari mobil dan masuk ke balik kemudi.


Selama di perjalanan menuju butik, tidak ada obrolan apa pun antara Zakira dan sopir pribadinya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, pun karena belum kenal.


“Apa Anda ingin berhenti ke suatu tempat?” tanya sang sopir.


Zakira menggeleng. “Tidak. Langsung ke butik saja. Kamu tahu?”


“Ya, tahu. Tuan sudah memberitahu alamat butik Nona pada saya,” ucap sopir itu.


Tidak ada percakapan lagi, sopir yang mengaku bernama Alden itu terus memacu kuda besi menuju tempat kerja Zakira. Setelah sampai di tempat parkir butik, Alden langsung keluar dan membukakan pintu untuk nonanya.


“Terima kasih. Kamu boleh kembali dan menjemputku lagi sore nanti,” ujar Zakira.


“Tidak, Nona. Saya akan menunggu Anda di sini sampai jam pulang tiba,” balas Alden sopan.


Zakira menghembuskan napas pelan, seraya menganggukkan kepala. “Baiklah.”


Dia berjalan meninggalkan sang sopir di halaman parkir. Zakira langsung menuju ruangannya, ternyata di sana sudah ada Mina.


“Ehem,” dehem Mina sambil mengusap hidungnya.


“Kamu sudah dari tadi?”


“Setidaknya juga sudah melihat bosku ini diantar pria tampan,” sahut Mina. Dia tersenyum sambil menaikturunkan alisnya, menggoda Zakira.

__ADS_1


“Dia sopir pilihan Ayah. Baru bekerja hari ini,” ucap Zakira.


“Kau tahu, aku sangat sulit mempercayai seseorang. Apalagi tentang perempuan dan laki-laki.”


“Terserahmu saja, aku sudah berkata jujur.” Zakira memilih tidak peduli.


Mina mencebikkan bibirnya, memandang malas Zakira yang tampak tidak peduli. Padahal dia tadi sangat bahagia, ketika melihat Zakira turun dari mobil mewah bersama seorang pria.


“Benar dia sopirmu?” tanya Mina lagi.


“Hmm. Aku sudah mengatakannya sejak tadi,” jawab Zakira judes.


“Tapi dia sangat tampan. Tidak cocok kalau jadi sopir, lebih cocok jadi pacarmu.”


“Mina! Kembali bekerja!”


“Aku akan sangat setuju bila kamu dengannya.”


“Mina!”


Zakira menghela napasnya sebentar, lalu kembali berkutat dengan laptop.


☀️☀️☀️


Tidak terasa Zakira sudah seharian berada di butik. Kini, gadis itu sedang memasukkan semua barangnya ke dalam tas. Dia akan segera pulang karena tubuhnya sudah sangat lelah.


Hampir saja Zakira melupakan, bahwa sekarang dia sudah memiliki sopir dan mobil pribadi. Dia langsung menghampiri mobil pemberian ayah, mengetuk pelan kaca mobil bagian kemudi.


Sesaat kemudian, keluarlah Alden dengan wajah khas orang bangun tidur. Namun, tetap tidak menghilangkan kesan dingin nan datar. Tanpa berkata apa pun, Alden langsung membuka pintu penumpang dan membiarkan Zakira masuk.


“Sebaiknya besok kamu langsung pulang saja, setelah mengantar aku. Jangan nungguin, kaya, tadi, pasti lama,” ucap Zakira ketika mereka sudah ada di dalam dan mobil melaju dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


“Sudah tugas saya,” jawab Alden dingin.


Zakira menghela napas, merasa jengkel dengan sikap Alden.


“Ini perintah. Kamu harus menurut!”


“Tapi saya hanya mengikuti perintah Tuan Daren.”


“Kamu ini sopir, bukan bodyguard. Jadi stop ikutin aku ke mana pun aku pergi,” ucap Zakira kesal.


“Saya juga bodyguard.”


“Kamu—“


“Baik, Nona. Saya akan mengikuti perintah Anda. Sebentar lagi kita sampai, sebaiknya Anda jangan mengajak saya berbicara lagi.”


Dia ... sangat menyebalkan!


 


**



 Yang berniat mampir, dipersilahkan.


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2