
“Ini, loh, Mas, buket yang aku bilang itu.” Dera mengangsurkan buket bunga pada Daren.
Pria itu tampak melihat-lihat. Mawar merah muda, mengingatkan dia pada seseorang, tetapi belum pasti juga. Jadi, Daren tak ingin berasumsi lebih dulu, karena semua belum pasti.
“Kalau kamu mau simpan, ya, sudah, tak apa,” ucap Daren sambil memberikan buket itu kembali.
“Mas ... nggak cemburu?” cicit Dera. Dia memang belum mencintai Daren, tetapi dia selalu menghargai pria itu.
“Kenapa harus cemburu? Meskipun buket ini dari orang paling tampan di dunia, tetapi aku tahu istriku pasti akan memilih aku.”
“Kenapa begitu percaya diri?” Dera menaikturunkan sebelah alisnya, sengaja menggoda Daren.
“Karena seseorang yang paham akan pernikahan, tidak akan mengkhianatinya. Itu sama saja, dia menghancurkan skenario Tuhan,” jawab Daren santai.
Dera memuji sosok Daren, pria itu selalu santai saat menyelesaikan masalah. Awalnya dia takut Daren marah karena ada yang mengirimnya buket dengan kata-kata manis, tetapi Daren menanggapi lebih manis.
“Kalau kamu nggak mau simpan, bisa kasih ke orang. Jadi, kamu tetap menerima. Hanya saja, memberikannya kembali pada orang lain,” ujar Daren.
“Baik. Nanti aku kasih Yana, deh. Dia suka banget sama bunga beginian.”
“Memangnya kamu nggak suka bunga?” Daren mengubah posisi duduknya, jadi menghadap Dera.
“Ya, suka. Lagian siapa, sih, yang nggak suka bunga? Mana ada,” kata Dera.
“Ada. Bunda nggak suka bunga.”
“Bunda?”
“Ya, Bunda aku.” Daren menunduk, wajahnya kelihatan muram.
Dera mengerjap pelan, menatap Daren yang masih menundukkan kepala. Dia menyentuh bahu pria itu, membuat sang empu langsung mengangkat kepala dan tersenyum manis.
__ADS_1
“Mas nggak pernah ngenalin aku sama orang tua Mas, loh,” ucap Dera. Daren terkekeh.
“Benar. Kalau ada waktu luang, aku pasti akan ajak kamu ke tempat mereka,” jawab Daren.
“Oh, ya, katanya Bunda nggak suka bunga. Kalau boleh tahu, kenapa?”
“Emm. Karena bunga terlalu indah, makanya Bunda cemburu,” jawab Daren. Terkesan asal.
Dera mencebik kesal, menghembuskan napas dengan kasar. “Jawaban ngarang!”
“Mana ada aku ngarang, Sayang. Semua itu benar, Bunda memang tidak suka karena Ayah selalu memuji keindahannya.” Daren mengusap pelan kepala Dera.
“Oh, gitu, ya?”
“Hemm.”
Keduanya diam, suasana kembali hening. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Dera bergerak membenarkan bantal yang akan dia gunakan untuk tidur, tetapi gerakannya ditahan oleh Daren.
Pertanyaan Daren membuat Dera menelan ludah susah payah. Tatapan mata Daren begitu lekat pada manik matanya, membuat Daren segera membuang wajah ke samping. Terdengar embusan napas kasar, yang Dera ketahui Daren sang pelaku.
“Belum, ya?” Daren kembali melempar tanya.
“Maaf. Dera sedang berusaha. Mas harus sabar, ya?” cicit Dera.
“Baiklah, aku akan sabar. Tapi ... aku juga nggak tahu sampai kapan kesabaran ini bertahan.”
“Mas ragu sama usahaku?” Dera memegang kedua bahu Daren.
“Nggak, Sayang.”
“Kalau, nggak, senyum, dong!”
__ADS_1
“Nih, udah senyum.” Daren menunjukkan senyum manisnya, yang mana mampu membuat jantung Dera berdebar-debar.
Dera bingung, sudah cintakah dia pada Daren atau belum? Tapi yang pasti, dia takut kehilangan pria itu karena sudah nyaman.
**
Seperti biasa, Dera berangkat ke butik diantar oleh Daren. Perusahaan pria itu searah, jadi sekalian saja mengantar istrinya. Sebelum keluar, Dera mengecup punggung tangan Daren yang dibalas dengan kecupan di kening.
“Doain semoga laris manis, ya, Mas,” pinta Dera.
“Pasti, Sayang.” Daren membelai lembut pipi Dera.
“Kalau gitu aku turun. Mas hati-hati mengemudinya, ya.”
“Sip, Sayang. Kamu jangan lupa makan siang.”
“Mas juga.”
Dera melambaikan tangannya pada Daren, menunggu sampai mobil pria itu menjauh barulah dia berjalan ke butik. Saat akan membuka pintu butik, matanya tak sengaja menangkap sesuatu di dekat pintu.
“Buket lagi?” tanya Dera sambil meringis kecil.
“Sebenarnya siapa, sih, yang kirim beginian? Atau mereka sengaja mau ngehancurin rumah tangga aku sama Mas Daren?”
Buket bunga mawar, kali ini berwarna putih. Terselip kertas, Dera langsung mengambil dan membaca isinya.
‘Buat kamu, yang paling termanis.’
**
__ADS_1
Hadiah, vote, komen dan likenya jangan lupa guys.