
Jalanan lumayan padat ketika mobil SUV keluaran terbaru melintas di sana. Bunyi klakson yang saling bersahut-sahutan, memekakkan telinga. Mobil saling mengantre, menunggu hingga kemacetan normal dan bisa bergerak kembali.
Dera membuka kaca mobil demi menghirup udara sore. Polusi yang bercampur dengan udara, tak dapat menampik akan kenyamanannya. Tetap mampu merelakskan wanita hamil itu.
“Kalau sudah, buruan dinaikin lagi kacanya, Sayang,” tegur Daren.
“Ih, nanti. Aku masih mau menikmati udara sore,” jawab Dera, sewot.
“Udah tercampur polusi, nggak baik.”
“Pokoknya aku mau! Titik!”
Pria di balik kemudi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Dia memilih menjatuhkan kepala di kemudi, menunggu sampai mobil depan bergerak kembali.
Saat sedang asyik menikmati setiap embusan angin, Dera berbalik demi melihat suaminya. Dia teringat akan pertanyaan yang sejak tadi bersemayam dalam pikiran, tentang ke mana mereka akan pergi.
“Sebenernya kita mau ke mana, sih, Mas?” tanya Dera. Tidak melepas pandang dari wajah Daren yang sudah terangkat.
“Rahasia!” Daren tersenyum simpul, mengusap cepat kepala Dera.
“Aku serius. Kita mau kemana?” Lagi, Dera bertanya. Kali ini wajahnya sudah tak bersahabat, bukannya takut, Daren malah gemas.
Memilih tidak peduli, Daren menjalankan kembali mobilnya karena mobil di depan sudah bergerak. Dia cuma bisa terkekeh kecil mendapati wajah Dera semakin cemberut.
__ADS_1
Mobil mulai melaju normal, membelah jalanan kota. Daren mengemudi dengan kecepatan sedang sambil menikmati perjalanan. Dera terkejut ketika Daren memberhentikan mobilnya di depan gerbang pemakaman.
“Mas ...?” lirih Dera.
“Ayo turun, Sayang. Katanya mau ketemu Bunda dan Ayah,” ujar Daren. Mengulurkan tangan pada Dera.
“Kuburan?” tanya Dera bingung.
Daren hanya tersenyum, menggapai tangan istrinya dan menuntun wanita itu.
Pikiran Dera terus berkecamuk, memikirkan untuk apa mereka ke tempat pemakaman. Daren bilang akan bertemu bunda dan ayah, tetapi mengapa di tempat seperti ini? Sejurus kemudian, Dera menyadari semuanya. Dia langsung mengeratkan genggaman pada lengan Daren.
“Mas, aku ....”
Daren mengajaknya mendekati dua kuburan yang sangat rapi. Pria itu berjongkok, diikuti Dera dengan wajah sendu. Dia memperhatikan dua nisan dengan tanggal wafat yang sama, seketika Dera langsung menutup mulutnya.
“Assalamualaikum, Bun.” Daren mengusap nisan di dekatnya.
“Hari ini Daren berkunjung. Tebak, Daren bawa siapa? Iya, namanya Dera. Dera Calista, gadis cantik dengan sejuta pesona.” Daren terkekeh ketika menceritakan tentang Dera. Membuat sang empu semakin menunduk sedih.
“Dulu Bunda pernah bilang sama aku, kalau akan ada salah satu wanita di dunia ini, yang nantinya bakalan mencintai aku setulus hati. Aku pikir, aku sudah menemukannya, Bun.” Lagi-lagi Daren terkekeh. Namun, dengan raut yang serupa dengan Dera.
Wanita yang sejak tadi memperhatikan aktivitas Daren, menyentuh lengan pria itu. Dera menjatuhkan wajahnya di lengan Daren, menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
“Kenapa, Sayang? Nggak mau kenalan sama Bunda?” tawar Daren sambil mengusap air mata Dera.
“A-aku ....” Tangis Dera semakin pecah.
“Nggak papa, Sayang. Atau kamu mau kenalan sama Ayah dulu?”
Dera mengangguk, lalu dia berpindah tempat mendekati batu nisan di sebelah bunda Daren. Dera berjongkok di sana, mencium batu nisan itu dengan tangis yang kembali merebak keluar.
“As-assalamualaikum, Ayah. Salam kenal, aku Dera, istri Mas Daren. Aku—“ Dera menutup mulutnya, tak sanggup melanjutkan perkataannya.
Tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, Dera bingung harus berkata apa. Ada sesak dan kecewa yang kembali menggumpal dalam dada, mengingat sosok ayah yang tidak pernah dia rindukan. Daren segera menghampiri istrinya, mendekap wanita itu dan terus mengecup puncak kepalanya.
Mereka menangis bersama, Daren ikut menitikkan air mata ketika melihat istrinya tersedu-sedu seperti itu.
“Kita pulang sekarang, Sayang,” ajak Daren. Dera menggeleng dan menolak uluran tangan Daren.
“A-aku masih mau pandangin Bunda dan Ayah, Mas. Mereka juga pasti pengen pandangin aku juga,” lirih Dera. Semakin membuat tangis Daren tak terbendung.
**
Lap ingusnya ya, guys.
Hihihi. Jangan lupa like dan komen, ya. Kalau mau kasih hadiah, sok atuh. Hihihi
__ADS_1