Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 36. Buket


__ADS_3

Hari demi hari, Minggu demi Minggu dan bulan demi bulan sudah terlewati. Rumah tangga Daren dan Dera sudah memasuki bulan keempat. Hubungan keduanya lumayan meningkat. Saling mengerti satu sama lain, jujur dan bertanggung jawab dengan pernikahan mereka.


Hari ini Dera disibukkan dengan butik milik ibu. Dia memang masih menggantikan ibunya, mereka pun masih tinggal di rumah ibu. Daren bilang, selama ibu masih mengizinkan, mereka akan tetap tinggal di sana.


Dera berjalan menuju pintu masuk ketika melihat wanita paruh baya membuka pintu. Senyum terus mengembang menyambut pelanggan.


“Selamat datang, Nyonya. Dan selamat berbelanja di butik Almaya,” ucap Dera dengan ramah. Dibalas senyum manis oleh pelanggannya.


“Baik. Terima kasih, Mbak,” jawab wanita paruh baya itu.


Dera menunjukkan pakaian-pakaian terkini dan elegan di butiknya. Sesekali dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan wanita itu. Sikap ramah Dera, membuat pelanggan nyaman berbelanja di sana. Begitu pun dengan para pekerja di butik, mereka selalu tersenyum menyambut rezeki.


Mengingat ada janji makan siang dengan Daren, Dera meminta Siti—pekerja ibunya—untuk menggantikan dirinya mengantar pelanggan melihat-lihat. Menghembuskan napas kasar, Dera mencoba tersenyum manis sembari melangkah memasuki ruangannya. Dia mengambil tas selempang, memasukkan ponsel dan beberapa alat make up di sana.


[Aku sedang berada di jalan menuju butik.]


Pesan singkat dari Daren, membuat senyum Dera semakin melengkung. Gegas dia keluar dari ruangan, berjalan riang menuju pintu depan.


Tidak seperti yang dia pikirkan, Daren adalah sosok yang baik. Meski umur mereka terpaut jauh, tetapi sikap dan sifat pria itu sangat dewasa. Dera merasa sangat diayomi oleh Daren.


Saat akan membuka pintu, matanya tak sengaja menangkap buket bunga di luar—dekat dengan pintu masuk. Karena penasaran, Dera langsung menghampiri, mengambil buket itu.


Bunga mawar merah muda tersusun rapi, harum yang menguar, menggelitik indera penciuman Dera untuk menghirupnya terus menerus. Sibuk menikmati keharuman bunga, Dera mendapati kertas berwarna senada dengan bunga menempel di tangkainya.


Tulisan tangan yang begitu indah, mendebar-debarkan jantung Dera.

__ADS_1


‘Bunga yang indah, untuk orang teristimewa.’


“Astaga, Mas Daren. Soswit banget, sih, pake kirim bunga segala.”


Meski tidak ada nama pengirimnya, tetapi Dera yakin kalau Daren dalang di balik pengiriman bunga ini.


Melihat Yana tengah mengelap kaca, Dera langsung menghampirinya.


“Yan, Mbak titip bunga ini, ya? Taruh di meja ruangan, Mbak,” pinta Dera.


“Ehem, yang senyum-senyum. Kaya’nya, bunga ini dari Pak Bos, ya,” ledek Yana sambil senyum-senyum menggoda.


Dera membuang wajah dengan pipi merona. Lekas dia pamit ketika mendengar klakson mobil Daren.


“Aman, Mbak. Jangankan rusak, semut aja nggak boleh numpang tidur di sini.”


Dera terkekeh sambil berjalan menjauhi butik. Ketika masuk ke dalam mobil, Dera langsung disambut dengan senyum manis Daren. Pria itu mengecup singkat kening istrinya, lalu memakaikan sabuk pengaman untuk Dera.


“Sudah siap?”


“Siap.”


“Meluncur!” kata Daren sambil menyalakan mesin mobil.


Mereka menyusuri kota dengan kecepatan sedang. Dera sangat menikmati setiap perjalanan bersama Daren, pria itu tak henti-henti tersenyum manis.

__ADS_1


Om Daren sengaja apa, nggak kasih tahu tentang buket tadi. Kok, nggak bilang sesuatu, ya?


Saat Dera akan membuka suara, mobil lebih dulu berhenti. Ternyata mereka sudah sampai di halaman parkir restoran. Daren keluar lebih dulu, setelah itu dia membukakan pintu untuk Dera.


Keduanya berjalan memasuki restoran, Daren meminta Dera untuk duduk di kursi yang dia pilihkan. Lalu, pria itu memesan steak untuk makan siang mereka.


“Emm, Mas,” panggil Dera.


“Ya, Sayang? Ada apa?” tanya Daren. Menatap dalam manik mata Dera.


“Makasih, ya, buketnya. Aku suka banget sama harum bunga mawarnya,” ucap Dera antusias.


“Buket? Buket apa, Sayang? Perasaan Mas nggak ada kasih kamu buket.” Kening Daren berkerut, merasa bingung dengan apa yang Dera ucapkan.


“Loh, bukannya buket yang ada di depan pintu masuk butik, dari, Mas?”


“Bukan. Mas emang ada niat buat beliin kamu bunga, tetapi belum sempat,” kata Daren.


Dera bungkam. Hatinya terus bertanya-tanya, siapakah pengirim buket itu kalau bukan Daren? Melihat istrinya hanya diam, Daren meraih kedua tangan Dera dan menggenggamnya.


“Positif thinking aja, Sayang. Mungkin fans kamu.”


 **


Konflik yang sesungguhnya telah dimulai ☺️

__ADS_1


__ADS_2