
Dera sudah kembali ke rumah, wanita itu sudah mulai melakukan aktivitas sebagai seorang ibu. Mengurus dua bayi dengan penuh kasih sayang dibantu oleh Daren, sosok ayah yang baik.
“Mau aku ambilkan makan, Sayang?” tawar Daren.
“Nanti aja, deh, Mas. Aku mau gantiin popoknya baby Zakira dulu,” tolak Dera dengan halus.
“Aku bantu, ya.”
Belum juga mendapat persetujuan dari Dera, Daren sudah mendekat dan membantu istrinya itu untuk menggantikan popok. Keduanya bekerja sama, Daren tidak masalah walaupun dia baru pulang kerja.
“Biar aku aja, Mas. Mending istirahat sana, capek kan baru pulang kerja,” tutur Dera.
“Gak capek, kok, Sayang. Apalagi lihat wajah kamu dan dua baby Z,” sahut Daren sembari memeluk tubuh Dera dari samping.
Keduanya saling berpelukan, melepas rindu yang semakin hari semakin membumbung tinggi. Di saat keduanya masih sama-sama terhanyut, tangisan baby Zanira merusak suasana. Lalu mereka tertawa dan Dera menggendong baby Zanira.
“Kalau kamu capek, bilang sama aku, Sayang. Jangan karena kamu ibunya, terus semua harus kamu yang melakukan. Ada aku. Kalau mengerjakan bersama-sama cepat selesai, kenapa tidak,” ucap Daren.
“Makasih, ya, Mas.”
“Sama-sama, Sayang. Jangan diam-diam lagi, ya, kamu bisa keluhkan semuanya sama aku.”
**
Vera baru kembali dari butik pukul 16.30 sore. Gadis itu langsung membersihkan diri, setelahnya barulah ke dapur untuk memasak. Dia memang melarang Hamidah memasak, karena takut membuat tantenya kecapean.
Vera sendiri memilih bekerja di butik menggantikan Hamidah. Wanita separuh baya itu sering mengeluh lelah, maka sebab itu Vera turun tangan untuk ganti mengurusnya.
Disela-sela kesibukannya, Vera mendapat pesan dari seseorang. Sejenak dia menghentikan aktivitasnya untuk mengecek ponsel. Senyum Vera terkembang ketika membaca pesan dari seseorang itu.
Pak kulkas berjalan
__ADS_1
[Saya ingin mengajak kamu makan malam.]
Terdengar kaku tetapi Vera suka. Dia bingung harus menjawab apa, meletakkan ponsel di meja, Vera melanjutkan memasak kembali. Selesai dihidangkan semua, barulah dia pergi ke kamar. Gadis itu membongkar lemari pakaiannya, mencari gaun yang cocok untuk dia pakai.
Rasanya Vera sudah seperti orang gila karena terus tersenyum-senyum. Membawa gaun-gaun yang sudah dia pilih, mencoba di depan cermin dan menilai dirinya sendiri.
“Mana, sih, baju yang bagus? Kok, nggak ada,” keluh Vera saat semua baju tidak ada yang cocok untuk dia pakai malam ini.
“Astaga! Belum juga balas pesan Pak Befan, sudah pe-de milih baju duluan.” Vera terkekeh sendiri.
Lalu gadis itu mengambil ponsel di meja, mencari kontak Befan dan mengirimkan balasan untuk pria itu.
[Baik. Alamatnya?]
Vera menunggu balasan kembali dari Befan dengan sabar. Sudah centang dua biru, tetapi belum dibalas oleh si pemilik kontak. Lima menit kemudian, barulah masuk balasan Befan.
[Saya jemput kamu. Jam delapan, tunggu di depan rumah.]
“Aaaaa! Yang benar saja, Pak Befan ngajakin aku makan malam!” teriak Vera kesenangan.
Saking senangnya, Vera sampai melompat-lompat di kasur sambil memikirkan apa yang akan mereka lakukan nanti. Dia semakin seperti orang gila, saat membayangkan hal-hal romantis bersama Befan.
**
“Kita sudah tidak ada hubungan lagi. Jadi, lebih baik kamu pergi dari sini, karena aku sudah muak melihat wajah polosmu itu!” usir Pandu.
“Meskipun aku tidak hamil, tetapi kamu harus tetap tanggung jawab, Pandu! Kamu sudah meniduriku!” balas Mima. Mencengkeram kuat lengan Pandu.
Refleks pria itu mengibaskan tangannya, merasa jijik dengan sentuhan Mima. Sang wanita kecewa, raut wajahnya berubah muram seketika.
“Bukan aku yang pertama. Dan lagi, aku sudah tahu tentang perbuatanmu itu. Sangat-sangat menjijikkan. Seseorang yang suka one stand bersama pria tua kaya raya!”
__ADS_1
“Pandu ...nggak. Aku nggak, kaya’, gitu.” Mima menggelengkan kepalanya.
“Stop pura-pura bodoh, Mima. Lebih baik kamu bertobat, stop mengobral diri sana-sini. Masa depanmu masih panjang,” ucap Pandu.
“Tapi aku cinta sama kamu, Pandu!” teriak Mima.
“Bukan cinta melainkan obsesi. Kamu terlalu terobsesi!”
“Pandu ....”
“Maafkan aku karena pernah menyakitimu. Aku pun melakukannya karena jebakan darimu. Sekarang, lihat masa depanmu Mima. Kamu cantik, jangan jadikan dirimu itu sebagai boneka yang bisa dinikmati sana sini hanya demi uang,” tutur Pandu.
Mima diam, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Pandu.
“Titik terbaik dalam mencintai, adalah mengikhlaskan orang yang kamu cintai bahagia. Cinta tidak bisa dipaksakan, Mim. Jujur aku tidak memiliki perasaan apa pun padamu.”
Isak tangis Mima terdengar. Wanita itu menutup wajahnya, merasa malu dengan semua yang dia lakukan selama ini. Menjual diri, berselingkuh, dan menjebak seseorang demi obsesi dalam dirinya.
“Ayo, kita jalani kehidupan ini dengan normal. Jangan pernah lakukan hal yang merugikan dirimu lagi. Cukup jadi sederhana untuk seseorang yang akan menghargaimu kelak.” Pandu mengembangkan senyumnya, menyodorkan jari kelingking pada Mima.
Dengan ragu Mima menyambut kelingking Pandu, menyatukannya sebagai janji.
“Terima kasih sudah membuatku sadar, bahwa semua yang aku inginkan, belum tentu terpenuhi. Dan maaf untuk semuanya Pan, aku benar-benar menyesal,” lirih Mima.
“Aku sudah memaafkanmu. Sekarang kita harus berjanji, bahwa kita akan bahagia selamanya, dengan mereka yang nantinya akan selalu ada di samping kita. Berjanjilah untuk masa depan kita, Mima!” seru Pandu seraya mengangkat tangannya.
“Ya, aku berjanji. Hidup bahagia!”
Mereka tertawa bersama. Pandu sadar, meski Mima jahat, dia tidak berhak menghakimi wanita itu. Namun, menyadarkannya untuk lebih baik, dan hidup dengan damai.
__ADS_1