
Sekembalinya wanita hamil itu dari restoran yang tak jauh dari butik. Dera langsung menuju ruangannya, seketika dia sudah disuguhi dengan kota yang masih tersegel rapi di meja kerja.
Dia memilih duduk lebih dulu di kursi, mengamati kotak itu dengan saksama. Perlahan, tangan Dera meraih laci meja dan membukanya. Dia mengambil gunting dari dalam.
“Dari pada aku penasaran, lebih baik langsung buka saja,” ucap Dera. Bersiap membuka kardus berbalut plastik hitam.
Wajahnya menggambarkan rasa penasaran dan kekhawatiran yang menjadi satu. Dia pun antara mampu dan tidak sanggup untuk membuka itu. Namun, karena rasa penasaran lebih dominan, akhirnya dia menggunting lakban yang menempel.
Ketika kardus terbuka, seketika wajah Dera berubah pias. Dia menatap karangan bunga dengan jantung yang berdebar-debar. Seketika ingatannya kembali pada masa-masa yang begitu mengagungkan hati.
“Kamu suka karangan bunga?”
‘’Suka banget. Waktu aku masih berusia tujuh tahun, ibu ngajarin aku bikin karangan bunga pakai bunga liar.”
“Wah. Aku jadi semangat buat terus buatin kamu karangan bunga.
Jemari Dera tergerak mengambil kertas yang terselip di antara kardus dan bunga. Indah. Kertas berwarna merah mudah yang terdapat gambar boneka, Dera sangat menyukai kertas itu. Jemarinya terus membuka lipatan kertas, hingga terlihatlah tulisan tangan yang tertera di sana.
‘Aku kembali. Maaf.’
“Pandu!” teriak Dera spontan. Detik berikutnya dia menutup mulutnya sendiri.
Kepalanya terus menggeleng, menampik semua kebenaran yang berada di otaknya. Hanya Pandu yang tahu bahwa dia menyukai karangan bunga setelah ibu. Dan lagi, kertas itu, juga hanya Pandu yang mengetahuinya. Bahwa dia, sangat menyukai segala jenis kertas yang terdapat banyak gambar boneka.
“Nggak mungkin! Nggak mungkin kamu, kan, Pan?”
Mungkin ini hanya kiriman orang iseng, pikir Dera. Dia mencoba tersenyum, tetapi sesak dalam dada terus mencuat. Pikiran-pikiran negatif semakin bersarang dalam kepala, hingga menimbulkan kekhawatiran untuknya.
**
Daren baru saja masuk ke dalam mobil, tetapi harus keluar kembali karena ada seseorang yang datang padanya. Pria itu menarik sedikit sudut bibir, lalu menjabat tangan orang tersebut.
“Saya ingin melapor, Tuan,” ucap orang itu. Daren mengangguk, lalu meminta untuk masuk ke dalam mobil.
Dia hanya ingin pembicaraan ini lebih luas jika berada di dalam. Daren tidak ingin mereka tertangkap CCTV bila berbicara di luar, apalagi halaman parkir.
“Bagaimana kondisi saat ini? Apakah dia semakin dekat?” Daren menatap pada lawan bicaranya.
“Benar, Tuan. Dia sudah semakin dekat, bisa jadi sangat dekat. Siang tadi, saya melihat kurir datang ke butik Nyonya muda.”
__ADS_1
“Apa Dera yang mengambil paketannya? Berupa apa? Kardus kecil atau besar?” cecar Daren karena tidak sabar.
“Kardus sedang, Tuan. Namun, yang menerima bukan Nyonya Dera melainkan pegawainya,” jawab orang itu.
“Baiklah. Kamu harus terus memantau situasi butik dan Dera khususnya.”
“Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi,” pamitnya.
“Biar saya antar. Saya tidak ingin karyawan saya merasa curiga dengan turunnya kamu dari mobil ini,” ucap Daren.
Akhirnya orang suruhan Daren hanya mengangguk, membiarkan sang bos mengantar dirinya kembali ke tempat kerja.
Setelah menurunkan suruhan di jalan yang tak jauh dari tempat butik Dera berada, pria itu kembali mengemudi untuk menjemput istrinya. Rasa khawatir kian menggebu dalam hati, membuat Daren sangat tidak tenang seharian ini.
Ternyata Dera sudah menunggu di depan butik. Wanita hamil itu tersenyum lebar mendapati mobil Daren berhenti di halaman butik.
“Sudah lama menunggu, Sayang?” tanya Daren sambil merangkul bahu Dera.
“Baru aja keluar, kok, Mas,” sahut Dera.
“Ya sudah kalau begitu. Mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?”
“Emangnya kalau jalan-jalan, mau ke mana?”
“Kalau gitu ke taman, yuk! Aku pengen lihat keramaian di sana, pun banyak anak-anak yang lagi main. Aku suka!” ajak Dera. Wajahnya kelihatan begitu antusias.
Daren mengangguk. “Siap, Sayangku!”
*
Sore hari, taman memang ramai oleh anak-anak dan para orang tua yang mengawasi. Selain itu, di luar taman juga banyak para pedagang yang sedang mengais rezeki.
Dera memekik kesenangan melihat gerobak-gerobak yang berjejer rapi dengan menu jualan yang berbeda-beda. Dia menarik pelan lengan Daren, mengajak sang suami untuk lebih mendekat.
“Mas, aku mau jajanan,” ucap Dera.
“Tapi jangan terlalu banyak, ya, Sayang. Enggak baik buat kesehatan kamu,” nasihat Daren.
“Iya. Aku cuma mau cimol sama kentang goreng aja, kok.”
__ADS_1
“Baiklah. Ayo kita beli.”
Keduanya berjalan ke arah pedagang cimol dan kentang goreng yang memang berdekatan. Dera memesan dua porsi masing-masing. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Dera mengajak Daren untuk masuk ke taman. Dia memilih duduk di atas rerumputan sambil melihat anak-anak bermain.
“Mas ....”
“Iya, Sayang?”
“Seru, ya? Ramai lagi. Banyak anak-anak di sini,” kata Dera.
“Iya. Memang kalau sore di sini ramai.”
“Kalau nanti dedek bayi udah lahir, kita ajak ke sini, ya?” ucap Dera antusias.
Daren menjawil gemas hidung Dera. “Iya. Tapi tunggu besar, biar bisa diajak main.”
“Sip.”
Wanita hamil itu kembali melanjutkan makannya. Daren yang sejak tadi melihat, tersenyum bahagia menangkap Dera yang sangat lahap memakan jajanan itu.
“Mas. Haus.”
“Ya udah, kamu tunggu di sini dulu. Mas pergi sebentar buat beli minuman.” Daren beranjak untuk pergi.
“Oke. Tapi jangan lama-lama.” Sang empu hanya membalas dengan anggukan kepala.
Sambil menunggu Daren kembali, Dera lanjut menikmati cimol yang masih banyak itu. Sesekali retinanya menangkap bocah lelaki yang tengah bermain bola dengan sang ayah. Hingga hawa dingin yang menjalar dari botol minum, mengagetkan Dera.
“Mas. Kamu udah bal—“
Ucapan itu terhenti dengan kaki yang terus melangkah ke belakang. Bulir-bulir peluh mulai terlihat di pelipis, pun tubuh bergetar yang semakin terlihat.
“Pandu ...,” lirihnya dengan suara tercekat.
“Ya. Aku di sini.”
*
Happy reading guys. Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya, ya. Babay
__ADS_1