
Ruangan kerja di butik, telah diisi dengan dua orang yang memiliki hubungan khusus. Zakira dan Mina memilih keluar ketika Arfan datang dan berniat ingin bicara berdua dengan Zanira.
Lalu keduanya memilih duduk di sofa, sebelumnya Zanira mengambilkan minum terlebih dahulu untuk Arfan.
“Kamu udah makan?” tanya Arfan basa-basi. Sebenarnya guna menghilangkan kegugupan.
Meskipun mereka temenan sejak zaman SMP, tapi Arfan tetap canggung karena status mereka yang sudah naik level menjadi tunangan.
“Udah tadi bersama Kakak dan Mina,” jawab Zanira tak kalah gugup.
Suasana terasa mencekam, gurat kegugupan tampak jelas di wajah masing-masing. Zanira memilin rok yang dia pakai sambil menggigit bibir bawahnya.
“Ekhem.”
“Kenapa, Fan? Kamu sakit?” tanya Zanira khawatir.
“N-nggak!”
Lagi-lagi mereka saling diam. Zanira semakin memilin roknya kuat, jantungnya sudah tidak bisa dikondisikan lagi, berdebar-debar tak karuan. Menghembuskan napas pelan, Zanira pikir ini waktu yang tepat untuk menanyakan perihal keresahan hatinya.
“Kamu bahagia, Fan? Emm, dengan pertunangan ini?” tanya Zanira sambil menundukkan kepala.
“Aku tidak tahu. Tapi kita harus bahagia, karena kita pun dipaksa,” jawab Arfan.
Zanira mendesah kecil, ternyata Arfan menerima pertunangan ini karena dipaksa. Berarti, tidak ada sedikit pun rasa pria itu pada dirinya.
__ADS_1
“Aku nggak dipaksa atau terpaksa, Fan. Semua ini murni karena aku cinta sama kamu.”
Ungkapan Zanira mengejutkan Arfan. Pria itu menatap lekat tepat di mata Zanira, yang dibalas oleh gadis itu. Cukup lama keduanya saling tatap, sampai Arfan memutuskan lebih dulu.
“Kamu mencintaiku? Serius?”
“Ya. Aku mencintaimu sejak pertama kali berteman denganmu. Sayangnya, aku tidak berani mengungkapkan itu padamu,” ujar Zanira.
“Maaf. Aku tidak tahu.”
“Nggak masalah. Sekarang aku bahagia karena bisa bertunangan denganmu, tapi kamu tidak mencintai aku,” lirih Zanira.
Tampak Arfan menghela napas pelan. Lalu tangannya meraih tangan Zanira, digenggam dengan erat.
“Semua sudah terjadi. Aku akan berusaha mencintai kamu.”
“Mereka ngobrolin apa, sih? Lama banget,” keluh Mina sambil melihat ke arah pintu ruangan.
“Nggak tahu, Mina. Udalah, biarin mereka urus masalah mereka,” balas Zakira.
Gadis itu memang mencoba untuk tidak peduli, meski hatinya tetap sesak melihat kedekatan sang adik dengan tunangannya. Bohong kalau Zakira sudah move on, karena Arfan adalah cinta pertamanya. Tidak gampang untuk dia melupakan begitu saja.
“Kira,” panggil Mina.
“Hemm.”
__ADS_1
“Kamu nggak papa, kan?”
“Memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja,” jawab Zakira cuek.
“Kamu cemburu.”
Zakira tersentak. Dia menatap Mina yang juga menatap ke arahnya, tapi Zakira langsung menunduk guna menyembunyikan air mata yang ingin merembes keluar.
“E-enggak!” bantah Zakira.
Mina mendekat, memeluk bahu Zakira dengan erat. Mulut boleh berbohong, tapi tidak dengan mata. Mina melihat kesedihan di sana.
“Dengar. Masih banyak pria lain di luaran sana yang lebih baik dari Arfan. Jadi, kamu tidak perlu khawatir apalagi bersedih. Mungkin memang Arfan bukan jodoh kamu, tetapi Tuhan sedang mempersiapkan seorang pria yang baik dan akan menyayangi kamu,” ucap Mina panjang lebar.
“Mina ....”
“Kamu boleh bersedih, marah, dan kecewa. Tapi jangan terlalu berlarut. Karena hidupmu bukan tentang sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan saja, masih ada yang lebih penting dari itu.”
Mendengar kata-kata bijak dari Mina, Zakira langsung mengangguk dan mengusap kedua sudut matanya. Gadis itu mencoba tersenyum dan mengepalkan tangan.
“Harus semangat! Masa depan menunggu!” ucap Zakira dengan penuh semangat.
Mina tersenyum kecil, akhirnya dia bisa membuat Zakira tersenyum lagi. Sungguh dirinya tersiksa bila melihat gadis itu terus merenung.
__ADS_1