
Dera terbangun jam lima pagi karena merasa haus. Wanita itu menghela napas, bergerak perlahan turun dari ranjang karena nyeri di pusat utama tubuhnya. Setelah terjeda satu jam malam tadi, Daren meminta kembali. Dera tidak bisa menolak, sebab dia juga menikmatinya.
Mengingat itu, pipi Dera terasa memanas. Dia tebak pasti sekarang sudah memerah bak kepiting rebus. Apalagi mengingat Daren yang begitu liar di atas tubuhnya, membuat Dera merasa sangat malu.
Sudah terlanjur tidak bisa tidur lagi padahal tubuhnya sangat lelah, Dera memilih untuk membersihkan tubuh. Dia berharap, tubuhnya akan kembali segera setelah dibasuh.
Hampir dua puluh menit berada di dalam kamar mandi, ketika keluar, Dera melihat Daren masih meringkuk di bawah selimut. Gadis itu hanya menggelengkan kepala, lalu masuk ke dalam walk in closed.
“Semoga saja setelah ini, ada cinta yang tumbuh di hatiku,” gumam Dera selesai memakai baju.
Kata orang-orang, ‘hubungan’ suami istri adalah tameng utama untuk mengeratkan pernikahan. Meski Dera tahu, ada lain lagi, seperti saling mengerti, jujur, dan terbuka satu sama lain. Sepenting itu ‘hubungan’ suami-istri, dan Dera baru mengaplikasikannya tadi malam. Dia merasa bersalah dengan Tuhan-Nya, karena secara tidak langsung menolak takdir yang Dia tuliskan.
Menghembuskan napas kasar, mungkin Dera harus menutup kisah lama itu. Ya, harus. Karena sekarang, dia akan membuka lembaran baru bersama dengan Daren.
**
Perlahan mata Daren terbuka saat tidak merasakan adanya seseorang di samping dia. Pria itu mengerjap cepat, melihat ke sekeliling dengan wajah khawatir.
“Dera!” panggil Daren. Tapi tidak mendapat sahutan dari sang istri.
“Dera. Kamu di kamar mandi?” tanya Daren sambil mengetuk pintu kamar mandi, tetapi lagi-lagi tidak mendapat jawaban.
Mendorong pelan, ternyata pintu itu tidak terkunci. Dari setiap sudut yang Daren perhatikan, tidak melihat sosok Dera di sana. Fix, berarti wanita itu sedang berada di dapur. Tapi kenapa? Biasanya Dera selalu membangunkan Daren jika pria itu bekerja?
__ADS_1
Daren mulai berpikir, apakah Dera menyesal karena telah memberikan kehormatan yang telah dia jaga? Tidak. Meskipun begitu, Dera pasti juga tahu bahwa itu hak Daren.
“Ahk. Lebih baik aku mandi terlebih dahulu, setelah itu baru menemui Dera di bawah.” Daren berucap pada dirinya sendiri. Dia langsung mengunci pintu kamar mandi dan memulai ritual mandinya.
**
Meski tubuhnya masih lemas dan lelah, Dera tetap berusaha untuk menghidangkan makanan. Tidak mungkin Daren pergi bekerja hanya dengan sarapan roti, itu mengganjal sebentar saja, pasti nanti pria itu akan lapar lagi.
Ketika Dera akan membalik ikan goreng, dia merasakan sebuah tangan memeluk pinggangnya dari belakang. Dera menahan napas saat embusan napas hangat menerpa lehernya.
“Om?”
“Masak apa?” Daren belum melepaskan pelukannya. Malah dengan lancang dia mengecup pipi Dera singkat.
“Kalau gosong nanti goreng lagi,” ucap Daren santai.
“Om!”
Melihat tatapan tajam sang istri, Daren terkekeh geli sambil mengecup pipi Dera kembali. Setelah itu barulah dia melepaskan pelukan dan berjalan menuju meja makan. Daren memperhatikan Dera yang tengah meniriskan ikan goreng, pria itu menatap aneh cara berjalan istrinya.
Seketika dia teringat tentang kejadian malam tadi, senyum Daren merekah. Benar-benar memori yang tak akan pernah dia lupakan, kapan pun itu. Namun, senyumnya menyurut ketika mendengar ringisan kecil yang keluar dari bibir Dera.
“Kenapa, Sayang?” tanya Daren sambil mendekati Dera. Pria itu mengambil alih piring ikan goreng dan meletakkannya di meja.
__ADS_1
“Nggak apa. Cuma nyeri sedikit,” jawab Dera.
“Duduk dulu.” Daren membantu Dera duduk. Setelah itu, dia berlutut di depan istrinya.
Daren menatap wajah Dera yang masih kelihatan menahan sakit, bibir mungil itu terus meringis kecil. Sungguh, melihat keadaan Dera membuat Daren merasa bersalah.
“Apa sesakit itu?”
“Menurut, Om?” Dera bertanya balik.
Daren bungkam. Tangannya bergerak memijat kedua kaki Dera, membuat wanita itu mendengkus sebal.
“Om! Yang sakit ‘itu’ ku, bukan kaki!” geram Dera sambil memukul pelan lengan Daren.
“Hehehe, iya, yah? Maaf.”
Dera hanya geleng-geleng kepala.
**
Up lagi gak?
jangan lupa hadiah, vote, like dan komen, guys😘
__ADS_1