
“Kamu yakin, Nak? Apa tidak jauh jarak antara rumah Ibu dan kantormu?”
Keluarga ibu Hamidah tengah berkumpul. Daren memulai bicara serius dan sontak membuat ibu, Dera dan Vera terkejut.
“Saya khawatir dengan kesehatan Ibu, meskipun ada Vera di rumah ini.”
“Tapi, Nak, Ibu takut kamu tidak betah.”
“Untuk sementara Bu, tak apa.”
Hamidah tidak tahu harus menyangkal seperti apa lagi. Jujur dia terkejut ketika Daren meminta izin untuk tinggal di rumahnya. Hamidah mencoba untuk menolak, dengan membawa alasan bahwa mereka harus mandiri. Namun, Daren sangat kukuh.
“Rumah Mas, gimana? Kalau kita tinggal di sini?” tanya Dera. Dia berinisiatif untuk membuka suara setelah sejak tadi hanya diam.
“Biarkan saja. Hanya untuk sementara waktu kita tinggal di sini, Der. Bukan selamanya,” ucap Daren.
“Ibu terserah kalian saja.”
“Terima kasih, Bu.”
Perundingan berakhir dimenangkan oleh Daren, dia tersenyum bahagia karena sudah mendapat izin. Bukan karena apa Daren melakukan ini, dia hanya ingin ibu mendapat perawatan terbaik dari Dera. Bagaimana pun, usia tak ada yang tahu. Daren tidak ingin Dera menyesal akhirnya karena tak bisa merawat ibu dengan baik.
Selepas bercengkerama, Daren dan Dera izin ke kamar. Keduanya memilih duduk di atas kasur, berhadapan tetapi tak saling membuka suara. Sampai dering ponsel mengalihkan pandangan keduanya.
“Halo, Kak?” sapa Daren.
“Kamu sibuk, Dek?” Fina di seberang sana balik bertanya.
__ADS_1
“Tidak. Memangnya ada apa, Kak?” Daren merasa ada yang aneh, apalagi kakaknya berdiam lama tanpa mau menjawab pertanyaannya.
Lama Daren menunggu, hanya helaan napas yang dia dengar dari seberang.
“Kakak iparmu rindu Dera katanya.”
Apa-apaan ini? Daren bisa mendengar tawa dari seberang, kakaknya dan kakak ipar memang suka menggoda dia. Padahal Daren sudah berpikiran lain tadi.
“Ya, udah, Daren ke sana sekarang. Tapi sebentar aja, ya?”
“Oke. Kakak tunggu.”
Daren menaruh ponsel di meja, dia hendak beranjak untuk berganti pakaian. Namun, gerakannya terhenti ketika mendapati Dera tengah berada di depan kaca rias.
“Jadi pergi, ‘kan? Katanya ayah Pandu rindu aku?” tanya Dera. Daren menghembuskan napasnya.
“Kenapa, sih, Kak, mereka juga ada di sini? Selalu saja ada ketika kami datang?”
“Kakak juga tidak tahu, Dek. Lagian, mana mungkin kakak melarang dia buat datang.”
Ah, sial. Daren kesal karena selalu bertemu dengan Jilia dan suaminya ketika berada di rumah sang kakak. Entah sengaja atau tidak, sepasang suami-istri itu juga datang. Dera berusaha tak peduli, tetap duduk di sebelah Daren dengan nyaman.
“Izin ke dapur, Kak. Biar Jilia saja yang membuatkan minuman,” tawar Jilia. Lagi-lagi Fina hanya mengangguk, tak enak menolak.
Merasa aneh dengan gerak gerik Jilia, Dera juga pamit untuk membantu wanita itu membuat minum. Dera memilih mengintip di sebelah pintu masuk ke dapur, dapat dia lihat Jilia tengah memasak air di panci. Yang bikin Dera semakin curiga, ketika Jilia terus tersenyum penuh makna.
“Sudah aku duga, pasti wanita itu akan melakukan sesuatu dengan minuman,” lirih Dera. Dia berinisiatif terus mengintip.
__ADS_1
Mata Dera melotot saat melihat Jilia memasukkan sesuatu di salah satu gelas berisi teh. Dia menggeleng tak percaya, tindakan mantan istri Daren sangat di luar nalar.
“Hahaha. Setelah ini kamu akan merasa panas, lalu aku datang dan menjebakmu di kamar. Aku sudah bilang Daren, jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu denganmu. Salah, sih, sok jijik sama aku.” Tawa Jilia semakin terdengar misterius. Dera segera beranjak pergi ketika Jilia terlihat akan kembali ke ruang utama.
Tak ingin mendapat pertanyaan dari mana, Dera langsung bilang bahwa perutnya sakit makanya tak jadi membantu Jilia. Dia melihat Jilia tersenyum sinis ketika meletakkan gelas teh di depan Daren. Dera pusing, benarkah gelas itu yang berisi obat tadi? Ah, iya, Jilia, kan memang ingin menjebak Daren.
“Aku yang ini saja, Mas.” Dera menukar miliknya dengan Daren.
Daren tak mempermasalahkan tindakan Dera, dia tetap mencicipi teh buatan Jilia karena menghargai kakaknya. Berbeda dengan Dera, setelah meminum teh itu, tiba-tiba dia merasakan panas di sekujur tubuhnya. Dan lagi, rasanya dia ingin disentuh.
“Mas ...,” lirih Dera dengan berbisik.
“Ya? Ada apa? Muka kamu kenapa merah?” tanya Daren.
“Panas.”
“Hah?”
“Jilia sengaja campur obat perangsang di minuman ini,” ucap Dera dengan napas tersengal-sengal. “Mas ... tolong.”
Daren menggeram, emosinya benar-benar sudah meletup-letup dalam dada. Namun, dia tidak bisa meluapkannya lebih dulu karena ada Dera yang harus dia tolong. Tanpa ba-bi-bu, Daren langsung menggendong tubuh istrinya menuju kamar.
“Dera pusing. Aku pinjam kamar tamu Kakak,” ucap Daren sebelum benar-benar berlalu dari ruang utama. Fina mengangguk saja.
__ADS_1