Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Season 2: 12


__ADS_3

Selama dalam perjalanan pulang, Zakira hanya terus menatap luar jendela. Meskipun hanya remang-remang cahaya lampu jalan, tetapi dia tidak pernah mengalihkan pandangannya.


Sampai kapan, sampai kapan dia harus seperti ini? Menghindar saat bertemu adik dan sang suami? Zakira juga pengen bebas, hidup seperti sedia kala. Tanpa harus merasa sakit dan tertekan.


“Anda baik-baik saja?” Teguran Alden membuat Zakira terkejut. Gadis itu langsung mengalihkan pandangan.


“Baik,” jawab Zakira singkat.


Zakira menghembuskan napas kasar, lalu dia mencoba untuk tersenyum. Pokoknya nenek tidak boleh tahu, begitu pun Alden, dia tidak boleh terlihat lemah. Setelahnya barulah dia urus masalah hati yang belum kelar juga.


Tiba-tiba mobil menepi di pinggir jalan, cahaya teras yang berasal dari lampu menarik perhatian Zakira. Dia menatap bingung gerobak-gerobak yang berjejer rapi. Ketika menoleh ke depan, tidak mendapati Alden.


Tok tok


“Nona, apakah Anda ingin beli sesuatu?” Alden berdiri di depan pintu mobil tepat di mana Zakira berada.


Gadis itu langsung menurunkan kacanya, menatap Alden dengan sebelah alis terangkat.


“Beli apa?”


“Makanan yang ada di grobak itu.”


“Memangnya masih ada, ya? Ini sudah cukup malam.”


“Masih.”


Zakira turun dengan sedikit antusias. Dia memang pencinta makanan, apa pun itu dan berasal dari mana. Dia tidak peduli orang-orang bilang tidak higienis, tapi dia tetap suka.


“Aku suka martabak manis dan martabak telur. Biasanya, sepulang dari butik aku juga sering mampir di tempat seperti ini. Orang bilang tidak higienis, tapi menurutku rasanya sangat enak,” ucap Zakira panjang lebar.


“Eh, maaf. Aku malah curhat.” Zakira menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil menyengir.


Karena tidak ada tanggapan apa pun dari Alden, Zakira memilih ikut diam. Agak sakit rasanya jika berbicara tapi tidak ditanggapi, seperti berbicara pada patung.


“Pesanan Nona sudah jadi. Biar saya yang bayar,” kata Alden sambil menyerahkan bungkusan plastik pada Zakira.


“Eh, nggak usah! Aku bisa bayar sendiri.” Zakira berdiri, menyingkirkan tangan Alden dan menggantikan dengan tangannya yang terdapat uang.


“Mending uang kamu ditabung, buat orang tua,” ucap Zakira lagi sambil bergegas masuk ke dalam mobil.


Alden mengikuti Zakira, berdiri tepat di pintu jok penumpang yang belum tertutup.

__ADS_1


“Cuma itu?” tanya Alden sambil menunjuk bungkusan martabak.


“Emm, iya.”


“Katanya ayam gebrek di sini enak.”


“Kan, katanya,” sahut Zakira.


“Untuk menilai rasa, sebaiknya dicoba. Biar ‘katanya’ itu menjadi kenyataan atau tidak.”


Zakira terpana saat mendengar ucapan Alden. Ternyata bisa panjang juga. Belum sempat Zakira mengeluarkan suara, tangannya sudah ditarik pelan oleh Alden.


“Ayo.” Alhasil Zakira mengikuti pria itu.


Ternyata bukan hanya ‘katanya’ tetapi ayam gebrek ini memang benaran enak. Zakira saja sampai kekenyangan, tapi masih ingin lagi. Sayangnya, dia malu kalau harus menambah, jadilah berinisiatif untuk kembali mampir besok.


“Kamu benar, sebelum dirasa, yang ‘katanya’ itu tidak akan terbukti. Sekarang aku tahu, kalau ayam gebreknya benaran enak.”


“Iya.”


“Cuma ‘iya’? Ck, dasar!” Zakira mengentakkan kakinya ke arah mobil.


Sudah satu Minggu sejak pertemuan Zakira dengan adik dan sang suami. Kini, dia tidak pernah bertemu kembali karena Zanira sudah tidak bekerja lagi. Hari-hari Zakira cukup menenangkan, dia bisa bersikap seperti biasa.


“Kamu serius nggak ada hubungan apa-apa sama sopirmu itu?” Mina meletakkan satu cup kopi di meja Zakira.


“Nggak.”


“Jangan bohong. Masa iya cowok ganteng begitu kamu anggurin,” celetuk Mina lagi.


“Astaga, Mina. Aku bukan perempuan seperti itu.”


“Hehehe. Iya, sih.”


“Mending kamu kembali kerja,” kata Zakira yang sebenarnya adalah usiran secara halus.


“Tapi aku percaya, kalau nanti kalian pasti bakalan ada something.”


“Terserah kamu saja.”


Mina terkekeh, tapi segera pergi keluar dari ruangan Zakira. Dia memberikan ruang untuk gadis itu mengkreasikan desainnya.

__ADS_1


Zakira yang masih sibuk membuat gambar, teralihkan dengan getaran ponsel. Dia segera meraih benda pipih itu, tetapi getarannya terhenti, berganti dengan masuknya notifikasi pesan.


Sangat disayangkan karena mendapat pesan dari orang yang tidak dia inginkan. Alhasil, moodnya kembali buruk siang ini.


Arfan


[Aku tau kamu suka aku. Kenapa nggak bilang dari awal Kir, aku bisa negosiasi agar mamah memilih kamu.]


Zakira membaca ulang pesan Arfan. Pria itu pikir mereka barang, bisa ditukar. Lagian, jika Arfan tahu sejak awal, Zakira akan tetap mengalah. Karena baginya, kebahagiaan dirinya ada pada kebahagiaan adiknya.


“Mending nggak usah dibalas,” monolog Zakira sambil meletakkan kembali ponsel di meja.


Terlalu malas berhubungan dengan Arfan lagi, Zakira tidak ingin nantinya terjadi sesuatu yang akan merugikan dirinya sendiri. Saat akan kembali bekerja, notifikasi pesan masuk lagi.


Arfan


[Balas pesanku. Jangan hanya diread.]


[Aku merasa tidak penting, makanya tidak kubalas.]


[Jangan bohong tentang perasaanmu]


[Lebih baik urus dirimu sendiri saja, Arfan. Aku bisa mengurus diriku sendiri.]


Zakira langsung menonaktifkan ponselnya. Gadis itu mendesah berat, merasa lelah padahal dia baru istirahat.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2