
“Orang tua Pandu sudah kamu beritahu, Nak. Bahwa istrimu sudah lahiran?” tanya ibu yang sedang menggendong Zakira.
Daren tersenyum kecil sambil menggeleng. Saking bahagianya dia sampai lupa memberi kabar pada kakaknya. Lekas dia permisi untuk menghubungi Fina, karena tidak ingin mengganggu, dia keluar dari ruangan itu.
Sedangkan Vera yang sedang bermain-main dengan baby Zanira, menepuk jidat ketika teringat akan sesuatu. Dengan tergesa-gesa dia mencari tas dan memasukkan ponsel ke dalamnya.
“Kamu kenapa buru-buru begitu, Ver?” tanya ibu Hamidah. Menatap bingung keponakannya.
“Itu, Tan. Ada yang aku lupakan. Kalau gitu aku pamit pergi dulu, ya. Dadah!” Vera melambaikan tangannya seraya keluar dari ruangan Dera.
Dia bergegas di lorong rumah sakit. Berkali-kali Vera menghembuskan napas kasar, dia sedikit letih tetapi harus tetap pergi. Berdiri di pinggir jalan, Vera mencari angkot atau taksi yang lewat. Befan sudah pamit pulang sejak tadi, jadi dia tidak punya siapa-siapa lagi untuk dimintai tolong mengantarkan.
Ponselnya bergetar. Lima puluh panggilan masuk dari Pandu, Vera menepuk jidatnya. Dia kembali fokus mencari angkot.
Dalam perjalanan menuju tempat Pandu berada, Vera dengan gesit membalas pesan pria itu yang sudah menumpuk. Meminta maaf karena telat kembali. Vera juga khawatir pada motor butut milik tetangganya, sudahlah apes karena mogok, kalau sampai hilang juga bisa bahaya dia.
Tiba di sana, Vera melihat Pandu masih duduk di tempat semula. Pria itu menatap motor yang sepertinya sudah beres. Vera bergegas menghampiri, menepuk pelan bahu Pandu.
“Vera! Kamu dari mana aja?” tanya Pandu khawatir. Dia menangkup pipi Vera dan menggoyang-goyangkan.
“Astaga, Mas. Udah, stop! Aku baik-baik aja,” seru Vera sembari melepas kedua tangan Pandu.
“Dari tadi aku hubungi kamu, kirim pesan juga. Tapi kamu nggak membalasnya,” ujar Pandu.
“Maaf, ya. Ponselnya aku silent.”
“Ya udah, nggak apa-apa. Tapi kamu beneran baik-baik aja, kan? Terus dari mana, bukannya kamu bilang tadi hanya sebentar?” cecar Pandu. Dia masih mengamati Vera.
Vera tidak menjawab, dia malah pergi ke kasir bengkel untuk membayar. Ketika sampai di meja kasir, Vera langsung menyebutkan motor butut tetangganya itu.
“Sudah dibayar sama Mas yang nungguin motornya, Mbak,” ujar kasir bengkel ketika Vera bertanya berapa biaya memperbaiki.
“Maksudnya, Mas yang itu.” Vera menunjuk Pandu yang tengah menatap ke arahnya.
“Nah, iya,” jawab kasir itu. Vera mengucap terima kasih dan pergi menghampiri Pandu.
Dia mengamati motor butut tetangganya, mencoba menghidupkan ternyata benar sudah bisa menyala.
“Aku khawatir sama kamu, Ver. Sejak tadi aku berniat untuk nyusulin kamu dengan motor ini, tetapi aku belum punya izin kamu. Makanya tetap menunggu di sini sampai kamu datang,” ungkap Pandu.
Vera tertegun mendengar ucapan Pandu.
“Kenapa Mas nggak ninggalin motor ini aja? Atau pergi ke mana gitu, pulang misalnya. Lagian, udah lama banget aku pergi, Mas nggak bosan?” Vera melayangkan pertanyaan.
__ADS_1
“Nggak lah. Aku setia, kok, orangnya,” lirih Pandu.
Vera menghela napas, lalu kembali berbicara, “Ya udah, makasih ya udah nungguin motornya. Oh, ya, biayanya berapa? Biar aku bayar.”
“Udah, nggak perlu diganti,” tutur Pandu.
“Nggak bisa gitu, Mas. Itu, kan, uang Mas, jadi aku harus ganti,” sahut Vera.
“Aku ikhlas bantuin kamu, Ver. Jadi nggak usah diganti.”
“Tapi Mas—“
“Nggak usah, ya?”
Akhirnya Vera mengangguk dan mengucap terima kasih sebanyak-banyaknya pada Pandu. Lalu gadis itu mengeluarkan motor dari bengkel, dia akan segera pulang agar bisa mengembalikan motor ini.
“Oh, iya aku mau bilangin. Kalau Dera sudah lahiran,” ucap Vera.
“Anaknya berjenis kelamin apa?” tanya Pandu.
“Kembar. Dua-duanya perempuan.”
“Syukurlah.”
Pandu tampak diam, tetapi selanjutnya dia malah meminta Vera untuk turun. Dirinya menggantikan Vera duduk di jok depan dan mulai mengengkol motor.
“Aku anterin kamu sampai rumah dulu. Memastikan kamu aman, barulah aku ke sana,” ujar Pandu.
“Gak perlu repot-repot, Mas. Aku bisa pulang sendiri, kok,” tolak Vera halus.
“Buruan naik, aku tetap akan mengantar kamu.”
Akhirnya dari pada berdebat terus, Vera memilih untuk naik di jok motor. Dia membiarkan Pandu yang menyetir, sedangkan dirinya menjadi penumpang.
Embusan angin yang menerpa wajah, menerbangkan anak-anak rambutnya. Vera menghirup dalam-dalam udara yang bergerak liar, sangat merelakskan pikiran. Vera membenarkan posisi helm yang dia pakai, agar lebih nyaman. Ya, Pandu tadi membeli helm demi mengantar dirinya.
“Kamu suka kebutan atau pelan-pelan?” tanya Pandu sedikit berteriak, agar Vera yang mengenakan helm bisa mendengarnya.
“Pelan-pelan aja, Mas. Aku suka udara sore!” jawab Vera. Dia juga berteriak agar Pandu mendengar.
Sesuai permintaan Vera, Pandu mengendarai motornya dengan kecepatan pelan. Dia ikut menikmati udara sambil mengembangkan senyuman. Kepingan-kepingan memori bersama Dera, memutar jelas dalam bayangan. Saat mereka pergi menggunakan motor, sepeda, dan berjalan kaki bersama. Semuanya begitu berarti dengan mereka yang terus tersenyum.
“Mas?” panggil Vera.
__ADS_1
“Iya?”
“Jangan ngelamun, entar kita nabrak,” tegur Vera.
“Nggak, kamu tenang aja. Aman, kok,” balas Pandu.
Mereka kembali menikmati setiap perjalanan yang mereka lalui. Tidak sampai satu jam, mereka sudah sampai di depan rumah ibu Hamidah. Vera langsung turun diikuti oleh Pandu.
“Mas mau mampir dulu? Biar aku bikinin minuman,” tawar Vera. Pandu menggeleng.
“Kamu di rumah sendiri. Nggak baik satu perempuan dan satu lelaki hanya berduaan di dalam rumah. Jadi, aku pamit pulang aja,” ujar Pandu.
Lagi-lagi Vera dibuat tertegun. Hatinya nyeri mendengar ucapan Pandu. Ternyata sebaik ini pria bernama Pandu itu.
“Ya sudah, aku balik dulu, ya. Kamu jangan lupa makan dan minum,” pamit Pandu.
“Iya, Mas. Hati-hati di jalan, ya. Maaf aku nggak bisa antar, dan makasih untuk semuanya.”
“Iya, gak papa. Sama-sama.”
Pandu meninggalkan pekarangan rumah ibu Hamidah dengan berjalan kaki. Belum jauh pria itu melangkah, Vera memanggilnya.
“Iya?” tanya Pandu bingung. “Ada yang bisa aku bantu?”
“Jangan lupa makan juga, ya! Mas kelihatan kurusan!” teriak Vera.
Pandu menahan senyum, merasa bahagia karena diperhatikan oleh gadis itu. Sedangkan Vera sudah berlari masuk ke dalam rumah karena malu.
**
Ketika mendapat kabar dari Daren, Fina dan suaminya bergegas untuk pergi ke rumah sakit. Mereka tidak ingin menunda-nunda karena sudah penasaran dengan si kembar.
“Loh, Kakak mau ke mana?” Jilia beserta sang suami sudah berdiri di teras rumah Fina.
“Dera sudah lahiran, jadi Kakak mau ke sana,” jawab Fina.
Jilia dan Hafran saling pandang, lalu keduanya sama-sama tersenyum.
“Ya sudah, kami ikut.”
Fina mengangguk saja karena merasa tidak curiga, membiarkan Jilia dan Hafran ikut menjenguk Dera.
**
__ADS_1
Othor suka banget bikin hati kalian jumpalitan😂😂