Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 58. Flashback


__ADS_3

Selamat membaca, guys. Jangan lupa tinggalkan like, komen, hadiah dan vote, ya. Hihihi.


Flashback on


Siang itu, Pandu pergi untuk bertemu temannya di kafe. Mereka mengobrol ringan sambil menikmati minuman dan makanan yang mereka pesan. Wajah Pandu terus tampak semringah ketika menceritakan suasana hatinya yang begitu gembira. Tentunya tentang hari yang dia tunggu-tunggu, yaitu pernikahannya.


“Semoga pernikahanmu nantinya berjalan dengan lancar,” ucap temannya yang bernama Dion.


“Amin. Terima kasih doanya. Kamu jangan lupa datang, ya,” balas Pandu.


“Pasti, dong. Temen nikah masa aku tidak datang.”


“Hahaha, aku percaya padamu.”


Obrolan mereka terhenti ketika ponsel Pandu bergetar. Cepat-cepat pria itu mengambil ponselnya dari dalam saku, mengecek pesan yang baru masuk.


[Pandu, bisakah kita bertemu?]


Pesan dari Mima, Pandu balas dengan ‘oke’. Lalu pria itu berpamitan pada Dion untuk pergi ke rumah Mima. Dia mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai, takut terjadi sesuatu dengan sahabat yang sudah dia anggap seperti adik sendiri.


Pandu sampai di kediaman Mima. Pria itu langsung keluar dari mobil setelah memarkirkan di halaman rumah mewah Mima. Saat dia akan berjalan mendekati pintu utama, lebih dulu Mima keluar.


“Pandu!” panggil Mima dengan wajah antusias.


“Baru saja aku akan menghampiri pintu rumahmu,” ujar Pandu disertai kekehan.


“Hahaha, maaf. Aku terlalu bersemangat bertemu denganmu.”


“Baiklah, baiklah. Ada apa kamu memintaku untuk datang?” tanya Pandu penasaran.


“Aku ingin mengajakmu mencari hotel yang cocok untuk hari-hariku. Ibu dan ayahku pergi keluar kota, aku kesepian di rumah. Jadi, aku memilih untuk tinggal di hotel saja,” ucap Mima.


“Di hotel pun kamu tetap sendiri, Mima.” Pandu kembali tertawa.


“Iya, sih. Tapi, kan, kalau turun ke lobi ramai,” celetuk Mima.


“Oke, oke. Mau berangkat sekarang? Biar nggak kesorean juga.”


“Boleh. Ayo langsung pergi saja.”


Mereka pun pergi untuk mencari hotel. Mima terus mengembangkan senyumnya sambil sesekali melempar canda pada Pandu. Mima sudah memiliki pacar, tetapi dia lebih sering bepergian dengan Pandu karena lebih nyaman.


Singkat cerita mereka sudah sampai di hotel ternama kota Jakarta. Mima memegang lengan Pandu menuju resepsionis. Setelah membayar kamar, Mima kembali menarik lengan Pandu.

__ADS_1


“Kamu mau bawa aku ke mana? Kan, sudah aku antarkan sampai di meja resepsionis.”


“Kamu harus lihat kamarnya juga, Pan. Siapa tahu kamu suka, terus bisa bulan madu di sini dengan Dera,” ucap Mima. Pandu mengangguk tanpa rasa curiga.


Ketika sampai di kamar, Mima meminta Pandu untuk duduk sedangkan dia membuat minum. Tanpa rasa curiga Pandu menurut saja, membiarkan gadis itu bekerja yang ternyata membuatnya terjebak dalam lingkup masalah.


Mima memberikan obat perangsang di minuman Pandu, membuat pria itu merasa panas. Demi melancarkan aksinya, Mima menanggalkan bajunya dan menggoda Pandu hingga mereka melakukan hubungan terlarang.


Flashback off


Semilir angin dengan hebatnya menerpa daun-daun pohon Ketapang di depan balkon kamar seseorang. Pria yang tengah menikmati secangkir kopi, menatap lurus pada langit kelam malam ini. Wajahnya kelihatan begitu sendu, dipadu dengan helaan napas yang terus berembus kasar.


Pandu beralih pada sofa single yang berada di balkon kamar, dia menjatuhkan bokongnya dengan kasar di sana. Menahan napas sejenak, dia menekan dada demi menghilangkan rasa sesak yang begitu menyala di dalam sana. Sampai sebuah tepukan, mengagetkannya.


“Eh, Bunda? Belum tidur?” Pandu mengubah posisi duduknya jadi tegak.


“Harusnya Bunda yang tanya, kenapa belum tidur? Ini sudah larut malam, Sayang.” Bunda Fina mengusap lembut bahu putra semata wayangnya.


“Pandu belum ngantuk, Bun,” jawab Pandu jujur. Dia memang belum mengantuk.


Bunda memilih duduk di sofa single satunya lagi, tanpa melepas pandang pada putranya yang kelihatan gusar. Dia tahu Pandu pasti tengah memikirkan sesuatu, tetapi pria itu memilih memendamnya sendiri tanpa mau memberitahu.


Bunda Fina melirik gelas kopi yang sudah kosong, lalu dia menggelengkan kepala. Kebiasaan Pandu ketika tidak bisa tidur, pasti akan membuat kopi yang justru semakin membuatnya tidak mengantuk.


“Pandu cuma ke pikiran sama omongan Mima aja, kok, Bun. Nggak yang lainnya,” jawab Pandu.


Huff. Bunda menghela napas.


“Apa perlu Bunda temani besok, untuk memeriksa Mima? Biar kita semua tahu, dia itu benaran hamil atau tidak,” tawar bunda.


“No, Bunda. Biarkan Pandu yang bertanggung jawab. Pandu nggak mau bawa-bawa Bunda, Pandu uda cukup mempermalukan kalian,” lirih Pandu.


“Sayang, ini semua takdir. Siapa pun orang itu, setinggi apa pun pangkatnya, pasti tidak ingin menjadi kamu. Yang dijebak karena sebuah obsesi.”


“Bunda ....”


“Jangan putus asa, Nak. Habis gelap terbitlah terang. Semua orang sayang sama kamu, semua orang ingin yang terbaik buat kamu,” tutur bunda.


“Ya, Bunda benar. Aku tidak boleh berputus asa.”


Pandu mengepalkan tangannya, lalu dia beringsut mendekati bunda dan memeluknya dengan erat. Pandu harus mengambil hikmah dari kejadian ini, bahwa orang terdekatmu, belum tentu yang terbaik untukmu.


“Terima kasih sudah mau percaya sama aku, Bun.”

__ADS_1


**


“Mas, cium!” Dera mendekatkan wajahnya pada Daren yang masih sibuk dengan laptop.


“Sebentar, Sayang. Sedikit lagi,” sahut Daren tanpa mengalihkan pandangan.


Dera mencebik kesal, dia sudah menunggu sampai jam dua belas malam demi tidur bersama Daren. Namun, pria itu tampak acuh dan terus berkutat dengan pekerjaannya. Dera sempat berpikir, apa yang Daren lakukan di kantor sampai harus bekerja di rumah juga?


“Mas. Dedek utun mau peluk,” desak Dera.


“Sedikit lagi, Sayang. Sabar, ya.”


“Terserah Mas, deh! Aku ngambek!” teriak Dera marah. Dia langsung berlari menaiki ranjang, dan menutup tubuhnya menggunakan selimut.


Daren terkejut bukan main mendengar teriakan Dera. Pria itu langsung menaruh laptop di sofa, lalu beranjak menghampiri istrinya. Dia mencoba mengusap kepala Dera yang tertutup selimut, tetapi langsung ditepis oleh wanita itu.


“Sayang, maaf. Mas benar-benar lagi banyak kerjaan,” ucap Daren seraya membuka selimut.


“Ya udah sana! Aku nggak butuh Mas!” teriak Dera.


“Sayang, ayolah. Mau peluk, kan? Sini Mas peluk.” Daren terus membujuk Dera agar mau membuka selimut.


Sayangnya wanita hamil yang sangat sensitif itu, malah semakin mengeratkan genggaman pada selimut. Kakinya terus menendang-nendang tubuh Daren yang berada di dekatnya.


“Jangan gitu, Sayang! Nanti dedeknya kesakitan,” tegur Daren sambil menangkap kaki Dera.


“Makanya ayo tidur, jangan kerja!”


“Iya, iya. Ayo tidur.”


Barulah Dera mau membuka selimut. Wanita hamil itu langsung memeluk Daren dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. Seperti biasa, Dera selalu menghirup aroma mint yang menguar dari tubuh Daren.


“Bumil satu ini gemesin banget, sih,” ujar Daren sambil mencubit gemas pipi chubby Dera.


“Aduh ... sakit tauk Mas,” keluh Dera. Dia segera menyingkirkan tangan Daren.


“Hahaha. Maaf, Sayang. Abisnya kamu gemesin banget, Mas jadi pengen gigit.”


 **


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2