
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh semuanya. Sayang-sayangnya aku.
Keluarga besar Daren dan Dera semakin bahagia dengan lahirnya cucu mereka dari Zakira dan Zanira. Meramaikan rumah dan membuat Dera amat sangat senang karena mempunyai cucu yang lucu dan imut.
Tidak hanya Daren dan Dera, Alden beserta istri—Zakira juga amat bahagia dengan lahirnya baby boy yang mereka beri nama “Shen Elvan”. Begitu pun Zanira dan sang suami, anak mereka berjenis kelamin perempuan, bernama Claura Evari.
“Kedua cucu Kakek gemes-gemes, ya. Jadi nggak sabar nunggu kalian besar dan main sama Kakek,” kata Daren seraya menoel pipi kedua cucunya.
“Bunda seneng banget, apalagi dengar tangisan mereka yang membuat rumah ini jadi ramai.”
“Ha ha ha. Kami juga bahagia, Yah, Bun.”
Dua pasang suami istri itu ikut mendekat, melihat bayi-bayi mereka yang bergerak. Sangat lucu saat matanya mulai berkedip, menyesuaikan cahaya di dalam ruangan itu.
“Hello, Shen.”
“Hello, Clau.”
**
Delapan belas tahun telah berlalu, tidak ada yang berubah hanya umur yang semakin bertambah. Ruang keluarga rumah Daren sudah ramai karena kedatangan anak dan cucu. Dia sangat bahagia, bisa berkumpul dengan keluarganya.
__ADS_1
“Aku tidak melihat Shen, di mana dia?” tanya Daren sambil celingak-celinguk mencari sosok pemuda.
“Tadi katanya masih di jalan, Yah. Mungkin sebentar lagi sampai,” jawab Zakira.
“Memangnya kalian tidak pergi bersama?”
Zakira menggeleng. “Shen tadi pergi ke rumah temannya dulu, Yah. Katanya ada tugas kelompok, jadi dia harus menyelesaikan lebih dulu.”
“Ya, sudah, Ayah mau ke sana dulu.” Daren melangkah meninggalkan Zakira.
Di tengah-tengah ramainya keluarga yang bercanda gurau, Alden menghampiri Zakira yang sedang menata makanan di meja. Wanita itu terkejut mendapati sang suami dengan wajah cemberut.
“Kenapa, Mas?” tanya Zakira heran.
“Shen mana? Sudah dua puluh menit sejak dia menelepon, tetapi belum kelihatan batang hidungnya,” ujar Alden.
Menghembuskan napas kasar, Alden mencoba sabar menunggu putra semata wayangnya yang belum juga sampai. Dia khawatir anaknya malah pergi ke tempat lain, Alden menyesal tidak memaksa Shen untuk bareng saja.
“Pah, Mah, maaf aku telat!” Sosok pemuda tampan berdiri sambil memegangi perut di depan Alden dan Zakira.
Dia adalah Shen Elvan, putra satu-satunya Alden dan Zakira. Melihat anaknya ngos-ngosan, Zakira segera mengambilkan minum.
“Dari mana saja kamu? Kenapa baru sampai?” Alden langsung mencecar Shen dengan pertanyaan.
__ADS_1
“Itu, Pah, tadi macet,” jawab Shen jujur.
“Macet atau kamu mampir ke tempat lain?”
“Macet, Pah. Beneran, deh.” Shen mengangkat dua jari tangan kanannya.
Alden mengembuskan napas berat, lalu meminta Shen untuk pergi menemui kakek. Selalu saja begitu, ketika kumpul keluarga Shen yang paling terakhir datang. Padahal dia dan Zakira pergi sudah sejak pagi-pagi sekali.
“Sabar Mas, namanya juga ABG. Pasti kamu dulu juga gitu,” ucap Zakira.
“Tidaklah, aku dulu kalem,” sahut Alden.
“Aku juga.” Zakira tak mau kalah.
“Jadi ...?”
“Entah siapa yang salah, ku tak tahu.”
Zakira melenggang pergi meninggalkan Alden yang masih bingung. Sontak lelaki itu berlari mengejar istrinya.
**
Spin off dari novel ini sudah ada, loh. Kisah anaknya Papah Alden dan Mamah Zakira. Yaitu Tuan muda Shen Elvan.
__ADS_1
Judulnya: Bukan Pernikahan Pura-Pura