Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 26. Melepas Rindu pada Ibu


__ADS_3

Deru napas saling bersahut-sahutan, suasana di dalam mobil menegangkan dengan kedua manusia yang sama-sama menekan amarah. Setelah merasa lebih baik, barulah Daren menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumah orang tua Pandu. Mungkin pulang ke rumah memang solusi terbaik, padahal mereka belum bertemu ayah Pandu dan melihat perkembangan kesehatan pria itu.


Bagaimana lagi, hinaan dari Jilia sudah tak mampu ditoleransi. Dari pada terjadi baku hantam, lebih baik Daren mengajak Dera untuk pergi. Dia tahu itu sangat menyakitkan, dikatai mandul dan segala hal.


“Om nggak perlu khawatir, aku baik-baik saja.” Dera berinisiatif membuka suara lebih dulu. Tatapan Daren selalu mengisyaratkan kekhawatiran padanya.


“Aku hanya merasa gagal melindungi kamu,” sahut Daren lirih.


“Apaan, sih, Om! Lagian, nggak perlu dengerin nenek lampir itu ngomong lagi. Memang, sih, sakit, tapi mau bagaimana lagi. Kalau memang sifatnya begitu.”


Daren mengangguk saja. Pria itu kembali fokus pada kemudi, membelah jalanan raya yang tak begitu padat. Niatnya libur ingin merasa tenang dan bisa bersantai bareng sang kakak, malah akhirnya begini. Apa boleh buat, semua terjadi begitu saja.


“Kamu ingin pergi ke suatu tempat?” tanya Daren. Dia melirik sekilas lalu kembali fokus.


“Emm, kaya’nya, nggak, deh. Lebih baik pulang langsung saja.”


“Tidak bosan di rumah terus?”


Kalau dikata bosan, sudah pasti Dera bosan. Wanita itu punya ide, dia langsung berucap pada Daren bahwa dia ingin ke rumah ibunya. Dengan senang hati Daren mengantar, sekalian meredam diri di rumah sang mertua.


**


“Sesekali kamu menginap dong, Der.” Vera mengerucutkan bibirnya sambil memeluk Dera dari samping.


Dera terkekeh, sepupunya memang sangat manja padanya dan ibunya. “Nggak bisa, Ver. Kamu, ‘kan, tahu kalau Om Daren harus bekerja,” balas Dera lembut.


“Ya.” Wajah Vera semakin cemberut dan mengundang tawa Dera.

__ADS_1


Keduanya sedang berada di dalam kamar Vera. Dera sengaja menyusul gadis yang tengah mengerjakan skripsi itu, untuk memberi kejutan. Kedekatan keduanya seperti kakak dan adik kandung. Bersyukur Dera memiliki sepupu sebaik Vera, karena mampu menjadi teman curhatnya juga.


“Lain waktu kalau Om Daren libur, aku pasti menginap di sini. Kamu tenang saja” kata Dera. Meyakinkan Vera dengan ucapannya.


“Janji, ya? Soalnya aku kangen curhat berdua sama kamu, sampai tidak tidur.”


“Sama, dong.”


Lalu keduanya tertawa bersamaan.


**


Di ruang tamu, Hamidah meletakkan satu gelas teh hangat dan berbagai kudapan. Menyilakan sang menantu untuk mencicipi minuman buatannya itu.


“Bagaimana kabar kamu, Nak?” tanya Hamidah.


Keadaan kembali hening, hanya terdengar deru napas saja dari masing-masing orang di sana. Sebelum kembali berbicara, Hamidah menyempatkan diri menghirup napas dalam-dalam.


“Apakah selama ini Dera menyusahkanmu, Nak?”


“Tidak, Bu! Justru Dera membantu saya dengan baik. Selayaknya suami pada istri.” Daren menjawab dengan mantap.


Hamidah menghembuskan napas lega. Dia pikir Dera akan tetap berperilaku kasar, tetapi nyatanya tidak. Dia bisa percaya karena sorot mata Daren saat berucap, tak gentar atau terlihat berbohong. Ketika keduanya masih sama-sama diam, Dera dan Vera datang.


“Ibu dan Om ... eh, Mas Daren kenapa?” tanya Dera bingung.


“Nggak, Sayang. Kami baru saja bertukar kabar,” jawab Hamidah.

__ADS_1


Dera ber’oh’ ria saja. Gadis itu memilih duduk di sebelah Daren, sedangkan Vera di sebelah ibunya.


“Gimana, sudah isi belum?” Pertanyaan ibu membuat Dera tersedak makanan. Dengan cepat Daren mengangsurkan gelas teh.


Byur


“Akh! Panas!” teriak Dera sambil mengibaskan tangan di depan mulut.


Daren panik. Dia langsung memegang bahu Dera dan meniup pelan bibir wanita itu. Mendapat perlakuan seperti itu, membuat Dera malu. Dia langsung memukul pelan dada Daren, menyembunyikan wajahnya di sana.


“Sengaja buat jomblo iri, ya?” sindir Vera sambil tertawa.


Daren menggaruk kepala yang tak gatal, merasa malu juga. Sedangkan Dera semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Daren.


“Dasar Vera resek!”


Hamidah geleng-geleng kepala, tetapi senyum bahagia tak pernah luntur dari wajahnya. Siapa yang tak bahagia? Bila keluarga ini kembali menghangat?


**


Othor usahain bisa up lagi. Soalnya kesehatan othor benar-benar menurun.


Kasih dukungan dengan kasih hadiah dan vote, dong.


 


 

__ADS_1


__ADS_2