
"Kamu serius udah ajarin Pandu tentang ehem, kan, Mas?" tanya Dera. Dia baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di tubuh.
"Dia nggak perlu diajarin, Sayang. Kan, sudah pernah," jawab Daren tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.
Dera ber'oh' ria saja. Dia berdiri di depan cermin sambil mengerikan rambutnya. Daren yang sedang berbaring, mengendus saat aroma sabun yang menguar dari tubuh Dera menggelitik indera penciuman.
Dia langsung mengalihkan pandangan, menatap sang istri yang masih berdiri di depan cermin hanya menggunakan handuk.
"Mas!" Dera terjingkat saat merasakan tangan menyusup di pinggangnya. Ternyata si pelaku adalah Daren.
"Kamu sengaja godain Mas, ya?" Daren menciumi telinga Dera.
"Ih, apaan, sih. Orang aku lagi keringin rambut, kok," cetus Dera. "Sana. Aku mau ganti."
"Nanti aja gantinya."
"Apaan, sih. Maunya sekarang!" tekan Dera.
"Oh, gitu. Oke." Daren langsung melepaskan pelukannya dan pergi ke ranjang, menjatuhkan tubuhnya di sana.
Dera yang tahu bahwa Daren merajuk, terpaksa berjalan mendekati pria itu. Sebenarnya dia sudah sangat kedinginan, ingin cepat-cepat memakai baju. Tapi karena kesayangannya tengah merajuk, batal deh.
"Ngambek, ya?" tanya Dera sambil menjatuhkan bokongnya di tepi kasur.
Daren mendengkus, membuang wajah ke samping tanpa menjawab.
"Dih. Kenapa, sih, Sayangku? Jangan ngambek, dong."
__ADS_1
Saat Dera ingin menyentuh dagu Daren, pria itu menepisnya. Dera tertawa, merasa gemas dengan sikap suaminya yang seperti anak-anak.
"Oke. Aku minta maaf, ya, Sayang. Jangan ngambek lagi, kamu maunya apa? Ayo, ngomong," pinta Dera.
Daren menghela napas. "Belakangan ini, kan, aku sibuk banget sama pekerjaan. Kamu juga, jadi ...."
"Udah, jangan diterusin. Maaf, ya, karena nggak mengerti sama maunya kamu," potong Dera. Dia mengusap rahang Daren.
"Boleh, ya, Sayang? Please."
Ah, kalau sudah begini, apa boleh buat. Daren sangat pandai membuat Dera terangsang. Tangan pria itu sudah menjelajah ke setiap inci tubuh istrinya, tidak melewatkan satu jengkal pun. Dera terus meracau, memeluk erat leher sang suami saat pria itu memainkan dua benda berharganya.
"Pandu dan Vera yang menikah, kenapa kita yang malam pertama," lirih Dera.
"Mengulang kembali, Sayang. Bersiaplah."
**
Di kamar hotel, seorang gadis tengah duduk dengan tubuh menegang. Keringat dingin terus timbul di pelipisnya, padahal AC terus menyala. Dengan jantung berdebar, Vera mengalihkan pandangan ke arah pintu kamar mandi.
"Maaf lama, kamu mau gantian?" tanya Pandu.
"I-iya," cicit Vera.
Vera hendak pergi, tapi tangannya dicengkal oleh Pandu. Tatapan keduanya saling bertemu, menyelami manik mata satu sama lain. Vera menaikkan sebelah alisnya, bingung.
"Nanti saja mandinya."
__ADS_1
Dari kata yang terucap, Vera sudah bisa mengartikan. Dia cukup paham setelah Dera mengajarinya, sekarang apa boleh buat, dia hanya bisa pasrah. Menerima setiap perlakuan Pandu, bahkan sekarang bibir mereka sudah menyatu.
Lidah itu berusaha menerobos masuk, mengabsen setiap jejeran gigi. Vera yang masih amatiran, belum bisa membalas Pandu. Alhasil pria itu melepaskan pangutan mereka.
"Kenapa nggak dibalas?" tanya Pandu.
"A-aku ... aku nggak tahu, Mas," cicit Vera.
Pandu terkekeh, tapi selanjutnya dia kembali mengulang yang seperti tadi. Perlahan-lahan Vera mengerti, mulai membalas perbuatan Pandu.
Hasrat semakin membumbung, menutup mata dengan kabut keinginan. Keduanya sudah berada di ranjang, Pandu kembali menyerang Vera dengan kelembutan. Vera merasa beruntung, diperlakukan sangat lembut dan penuh cinta.
"Katanya akan sedikit sakit bila pertama melakukan," ucap Pandu sambil menatap Vera. Wanita itu mengangguk.
Pelan, Pandu menerobos masuk, tapi terhenti karena pekikan Vera. Dia khawatir, ingin melepaskan tetapi sang istri menahan tangannya.
"Lanjutkan, Mas. Aku nggak papa," ucap Vera.
Dua kali hentakan, akhirnya Pandu memiliki Vera sepenuhnya. Di kecup pelipis istrinya, tersenyum menatap wajah dengan air mata setitik di pipi.
"Terima kasih, Sayang."
**
Boncap habis! Lanjut ke kisah dewasa anak-anak mereka.
Note: Othor masih 17+ nggak bisa bikin yang panas.
__ADS_1